Indonesia English
Jumat, 15 Desember 2017 |
Nasional - Pemerintahan

7 Perusahaan Cemari Sungai Ciujung, Indah Kiat Bagus

Kamis, 27 Agustus 2015 22:39:37 wib - Komentar
Hudaya Latuconsina Penjabat Bupati Serang.

Serang, (Banten88.com) – Kasus pencemar lingkungan kembali mendapat perhatian pemerintah Kabupaten Serang. Dari data yang diperoleh, sebanyak 27 per­usa­haan yang berlokasi di Serang Timur, dalam mengelola limbahnya tidak lagi mengindahkan Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL), sehingga dalam pengelolaan limbah perusahaan berdampak kepada pencemaran sungai yang terbentang di pinggiran hulu Su­ngai Ciujung.

Akibat tidak diperhatikannya pengelolaan AMDAL, perusahaan tersebut telah memiliki raport merah. Karena telah mencemari sungai, sehingga menyebabkan air sungai menjadi hitam pekat dan mengakibatkan sejumlah petani tambak gagal panen. Bukan hanya itu, karena limbah perusahaan itu, warga yang berada dibantaran sungai Ciujung banyak yang mengalami gatal-gatal karena air sungai telah tercemar.

“Ada banyak warga yang mengambil air sungai untuk cuci kena gatal-gatal. Tuh liat anak-anak pada korengan ketika habis main di sungai,” kata Tauhid, warga keragilan.

Penjabat Bupati Serang, Hudaya Latu­con­sina membenarkan jika dari 27 perusahaan yang berada dipinggiran sungai Ciujung, tujuh di antaranya telah dinayatakan tidak melakukan pengelolaan AMDAL dan sudah men­dapat predikat merah dari Kemen­teri­an Lingkungan Hidup (LH). Karena dianggap membangkang, maka perusahaan tersebut terancam pidana serta denda ratusan miliar rupiah. “Sudah beberapa kali mendapat peringatan, tapi tidak juga di indahkan,” katanya.

Dikatakan Hudaya, dalam undang-undnag 32 Tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup telah dijabarkan bahwa, kepada pengusaha diwajibkan untuk memperhatikan dan mengelola limbah perusahaan untuk tidak mencemari lingkungan. “Kewajiban pencemar membayar sudah tertuang dalam peraturan yang baku. Bahkan kita dituntut untuk menciptakan green constitution, atau lingkungan nuansa hijau. Konsep itu telah diberlakukan dari gagasannya Prof Jimly, jadi pasti kita akan tindak tegas,” katanya.

Lebih lanjut Hudaya menyebutkan, dari tujuh industri yang tidak lagi mengelola limbah dengan baik salah satunya perusahaan kertas PT Cipta Paperia yang terkena predikat merah dan terancam ditutup. “Perusahaan ini sudah lama berdiri, persisnya berada dipinggiran sungai Ciujung, tapi pengelolaan limbahnya mengerikan,” ujarnya.

Menurut Hudaya, Cipta Paperia diketahui tidak memiliki Instalasi Pengelolaan Air Limbah (Ipal) dengan baik. Kontruksi pembuangan Ipal di perusahaan tersebut, tidak menampung pada penyaluran pembuangan yang sudah di seterilkan. “Karena kadar limbahnya sudah berada di ambang batas, maka kementrian lingkungan hidup sudah mengeluarkan keputusan merah dan terancam ditutup,” jelasnya.

Dari kajian analisis AMDAL yang dilakukan LH Kabupaten Serang sambung Hudaya, sebagian besar per­usahaan di Serang Timur tidak mengelelola limbah dengan benar, sehingga masih ditemukan beberapa perusahaan yang membuang limbah cair langsung ke sungai Ciujung tanpa diproses melalui Ipal. Karena pembuangan limbah langsung dibuang ke sungai, meski debit air sungai Ciujung sangat rendah, dan itu yang berdampak kepada pencemaran lingkungan. “Akibatnya air berubah warna menjadi hitam pekat,” ujarnya.

Akibat dari debit air sungai Ciujung yang rendah, mengakibatkan tanaman padi menjadi gagal panen, petani ikan di tambak masyarakat pada mati sebelum panen tiba. Dan yang paling tragis, masyarakat kesulitan untuk menggunakan air sungai dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. “Tahun lalu, sebagian perusahaan su­dah membuat perjanjian akan membuat pe­nampungan limbah. Selain itu juga pi­hak perusahaan sudah menanda tangani an­caman tuntutan hukum bila mereka tak menepati janji,” tegasnya.

Sementara Humas PT Indah Kiat, Arif Mahdali ketika dikonfirmasi mengatakan, Indah Kiat adalah perusahaan yang sudah steril dalam mengelola limbahnya. Bahkan ketika dia bertemu dengan Bupati Hudaya, diakuinya bahwa perusahannya sudah tidak bermasalah dengan limbah. “Enak aja limbah yang mana, kemarin saya ketemu Bupati dan perusahaan kita dinyatakan bagus dalam mengelola limbah perusahaan,” katanya.

Menurut Arif, baik dilihat dari sisi AMDAl maupun IPAL-nya, perusahaan kertas terbesar se-Asia itu akan dijadikan percontohan bagi daerah Kabupaten Serang dalam mengelola limbahnya yang sudah dinyatakan tidak tercemar. “Ya malah Indah Kiat salah perusahaan yang akan dijadikan percontohan dalam pengelolaan limbahnya,” tutur Arif.

Seperti diketahui, AMDAL adalah suatu proses dalam studi formal untuk memperkirakan dampak lingkungan atau rencana kegiatan proyek dengan bertujuan memastikan adanya masalah dampak lingkungan yang di analisis pada tahap perencanaan dan perancangan proyek sebagai pertimbangan bagi pembuat keputusan. AMDAL adalah analisis yang meliputi berbagai macam faktor seperti fisik, kimia, sosial ekonomi, biologi dan sosial budaya yang dilakukan secara menyeluruh. 

Diperlukannya studi kelayakan karena dalam undang-undang dan peraturan pemerintah serta menjaga lingkungan dari operasi proyek kegiatan industri atau kegiatan-kegiatan yang dapat menyebabkan kerusakan lingkungan. Komponen-komponen AMDAL adalah PIL (Penyajian informasi lingkungan), KA (Kerangka Acuan), ANDAL (Analisis dampak lingkungan), RPL ( Rencana pemantauan lingkungan), RKL (Rencana pengelolaan lingkungan).  Tujuan AMDAL adalah menjaga dengan kemungkinan dampak dari suatu rencana usaha atau kegiatan sehingga pencemar lingkungan bisa terjaga.(DANG).

 

KOMENTAR DISQUS :

Top