Indonesia English
Jumat, 15 Desember 2017 |
Advetorial

KUSMIADI. SE : BISNIS MATERIAL BANGUNAN TETAP PROSPEKTIF

Sabtu, 02 Desember 2017 12:48:07 wib - Komentar
Kusmiadi ketika berada di Nami Island, Korea Selatan.

Kebutuhan total permintaan rumah di Indonesia per tahun mencapai 1.550.000 unit. Sedangkan kemampuan penyediaan rumah yang sudah dibangun hanya 400.000 unit terdiri 150.000 unit dibangun secara swadaya dan 250.000 dibangun pengembang.  Demikian data yang diperoleh media cyber www.banten88.com dari PT. Sarana Multi Griya Finansial (Persero).

Dengan demikian  material bangunan sebagai penopang utama bisnis perumahan, memiliki prospek yang sangat baik. Seperti dikatakan Kusmiadi, SE  seorang pebisnis material bangunan yang sudah menggeluti bisnis ini hampir 1 dasawarsa membenarkan hal  itu.

Lebih lanjut ia memaparkan, tahun 2011 - 2015 bisnis penyediaan material bangunan sangat menjanjikan, tuturnya ketika dimintai komentarnya oleh www.banten88.com. Kusmiadi yang akrab disapa Wiwin ini dalam partai besar mensuplai material bangunan untuk berbagai wilayah  di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. 

Setiap harinya  " peredaran uang di laci " bisa mencapai puluhan juta rupiah. Namun sejak 2016 hingga saat ini, bisnis material bangunan diakuinya mengalami penurunan sekitar 30 sampai 40%. " Grafik penurunannya cukup signifikan. Peredaran uang dilaci kini hanya belasan juta rupiah saja ", ungkapnya. Menurunnya daya beli menjadi faktor utama yang membuat bisnis ini agak lesu, terangnya. Meski begitu, ia tetap semangat menggeluti  bisnis material bangunan ini karena prospek kedepannya cukup baik.

Sebagai pebisnis ia tidak mau menunggu datangnya " Sang Godot " yakni sesuatu yang sering dibicarakan namun tak pernah muncul wujudnya (Drama klasik Perancis pentas pertama 1953). Kusmiadi terus mengembangkan usaha lain. Sambil menunggu pulihnya bisnis material bangunan, ia telah berinvestasi di bisnis lain berupa penyediaan alat sekolah.

Diawali dengan penyiapan lahan kemudian akan dibangun gedung dan layanan bisnis " One Stop Service". Yakni menyiapkan seluruh kebutuhan siswa sekolah dari sepatu, seragam sekolah, peralatan sekolah, buku -buku dankebutuhan sekolah lainnya yang disiapkan dalam satu gedung sehingga memudahkan bagi siapa saja yang memerlukan kebutuhan alat sekolah.

Meskipun demikian, bisnis yang telah dikembangkan tidak mendadak besar, ia juga pernah merasakan pedihnya liku - liku bisnis. Awalnya bersama isterinya Evie membuka bisnis pakaian jadi. Dilapangan faktanya sulit berkembang karena menggunakan sistem angsuran (dikreditkan).

Hasilnya " Habis manis tanjung kimpul. Barang habis duit kagak ngumpul  ". Barang ludes tapi uang tercecer dimana - dimana, tidak kembali utuh. Boro - boro dapat laba, kisah Kusmiadi mengenang perjalanan awal bisnisnya. Cobaan kedua adalah gagalnya bisnis kuliner saat membuka  Kebab khas Timur Tengah di Cirebon. Ia mengakui telah salah memilih jenis kuliner. Karena cita rasa kebab itu belum tentu familiair dengan lidah semua orang.

Bisnis ini menggunakan system franchise. Karena jalan ditempat, akhirnya ia jual lagi ke pihak lain. Wiwin memang tidak rugi di bisnis ini, namun lelah fisik. Karena setiap hari ia harus bolak - balik Kuningan - Cirebon jika dihitung jarak sekitar 60 kilometer.

BLESSING IN DISGUISE. Kegagalan pada bisnis pakaian jadi dan kuliner yang dialami Kusmiadi sebenarnya seperti ada berkah terselubung (Blessing In Disguise) yakni sesuatu yang awalnya tampak buruk atau tidak menyenangkan, tapi ternyata dibelakang hari menghasilkan sesuatu yang baik.

Ini terbukti di tahun 2015 itu dua bidang bisnis yang digelutinya " meledak" dahsyat. Yakni bisnis material bangunan dan multilevel sehingga cash flow nya sangat stabil. Bersamaan itu pula dari tempatnya  bekerja karena berhasil mencapai target, ia diganjar hadiah liburan keluar negeri antara lain kunjungan ke negara - negara Asean, Australia, Korea Selatan dan Jepang.

Tahun 2016  puji syukur Alhamdulillah, Kusmiadi dan isterinya Evie telah menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci Mekkah. Kusmiadi memiliki saudara kembar identik bernama Kusmayadi (Wawan), Guru SMPN 2 Jalaksana Kuningan. Keduanya memiliki filosofi yang sama yakni, kalau belum rezeki, seberapa kuat kita memegangnya, akan terlepas jua dan jalani hidup ini dengan ikhlas.(SS).

KOMENTAR DISQUS :

Top