Indonesia English
Rabu, 18 Oktober 2017 |
Advetorial

MAHASISWA TAK PUNYA JANGAN MINDER, ADAM DULU KULIAH KENDARAI TRUK SAMPAH KINI JADI PEMIMPIN

Minggu, 01 Oktober 2017 20:56:59 wib - Komentar
Drs.H.Adam Ismail, MSi dulu kuliah mengendarai truk sampah ke kampus. Tampak dalam gambar Adam Ismail dalam salah satu acara di Pemkab Purwakarta bersama Bupati Dedi Mulyadi dan jajarannya.

(Banten88.com):  Inilah kisah inspiratif datang dari Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat. Adam Ismail yang dulu kuliah menggunakan truk sampah, kini menjabat sebagai Kabag Umum Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) kampus pusat Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat. Kisah ini ditulis untuk menginspirasi siapa saja dengan latar belakang orang tua yang ekonominya sederhana, jika ulet dan tahan uji ia akan bisa melewati masa sulit itu dan berganti dengan masa depan yang Gemilang. 

Adam  kala remaja dikenal pemberani dan tukang berkelahi. Datang dari keluarga ekonomi sederhana. Ketika tahun 1985 IPDN membuka lowongan untuk tenaga honorer, berbekal ijazah SMA ia  melamar bekerja di IPDN dan diterima. 

Dikampus yg mendidik calon pemimpin di lembaga pemerintahan itu, ia bekerja serabutan seperti jadi tenaga kebersihan, sopir hingga petugas pembuang sampah di Menza. 

Menza adalah salah satu unit kerja di IPDN yang mengelola dan menyediakan makan bagi ribuan  praja. Adam dikenal ramah dan rendah hati serta ringan tangan membantu pekerjaan para pejabat dan dosen hingga larut malam.

Ia dengan cepat menyiapkan kopi, nasi goreng, mie bahkan foto copy berkas - berkas kedinasan maupun tugas mahasiswa dari para dosen yang banyaknya bukan main. Karena dikenal sebagai pelayan terampil dan rendah hati, Adam banyak disukai  pejabat - pejabat penting IPDN dan suatu saat pertemanan ini akan banyak bermanfaat baginya. Contohnya, pihaknya bersahabat  dengan Gubernur  Lemhannas Ermaya Suradinata yang kini Rektor IPDN. 

Adam mengenal Ermaya sejak tahun 85 an ketika Ermaya masih pegawai biasa di IPDN. Disamping itu berteman baik dengan dosen yang rata - rata bergelar doktor diakui adam pada penulis, telah membuka cakrawala pemikirannya makin dewasa. " Sekolah adalah pintu gerbang merubah seseorang menjadi lebih berarti dan berilmu", paparnya kepada penulis. 

Selanjutnya ia mulai menyisihkan honornya sedikit demi sedikit. Ketika uangnya dirasa cukup, Adam mendaftar ke salah satu perguruan tinggi dikota Bandung.

Namun datang kendala baru, kampusnya tempat kuliah jaraknya hampir 20 km dari tempat kerjanya. Sepeda motor tidak punya. Ia berpikir keras mengatasi kendala transportasi.Solusi akhirnya terpecahkan, setiap sore usai bertugas membuang sampah ia tidak kembali ke pool penyimpanan mobil namun langsung tancap gas ke kampus. Karena menyadari mobilnya bau dan dijauhi manusia, Adam juga tahu diri. " Saya juga tahu diri mas. Saya parkir jauh - jauh dan mencari tempat yg jarang dilewati manusia. Setelah itu jalan kira - kira sepuluh menit", tuturnya kepada penulis  mengisahkan masa perjuangan, meski pahit namun penuh romantika, ungkapnya mengenang. 

Selama bekerja Adam dikenal rajin, jujur dan taat kepada atasan. Oleh karena itu ia masuk dalam kualifikasi ketika ada pengangkatan CPNS. Seiring dengan berjalannya waktu, ia berhasil memperoleh gelar S.1 Fakultas Keguruan dan Ilmu dan Pendidikan sedangkan S.2 nya pada disiplin ilmu Administrasi Negara.

Posisinya pun semakin baik. Antara lain menjabat sebagai Kasubag Menza & Laundry, Kasubag Umum, Kasubag Pengamanan Dalam yang membawahi puluhan tenaga pengamanan. Ada kisah haru ketika Adam naik promosi menjadi Kabag Pengasuhan. Anak buahnya di bagian pengamanan kepada penulis mengatakan " Kami  senang pak Adam memperoleh promosi jabatan sebagai kabag. Tapi kami sangat sedih ditinggal beliau", ungkap beberapa tenaga pengamanan kepada penulis.

Adam disukai karena tegas dan disiplin namun dia juga menyayangi anak buahnya. Semasa Adam memimpin di Pamdal, diakui para petugas pengamanan bahwa suasana kerja sangat enjoy dan harmonis karena ia bukan type pengambil keputusan dibelakang meja yg banyak teori. 

Namun Adam terjun langsung ke lapangan mencari solusi dan memberikan contoh. Ketika ada maling yang coba - coba masuk ke IPDN, saat mau nangkap maling ia tidak memanggil anak buahnya. Tapi ia hadapi sendiri. Duel satu lawan satu dan maling itu ia bikin kelenger setelah diberi pukulan telak. Karena ia  juga dikenal sebagai seorang karateka dan tokoh pemuda Jatinangor. Ketika pilkada 2018 sebentar lagi tiba, Adam Ismail masuk radar parpol sebagai kandidat balonbup.

Namun kepada penulis ia menanggapi " Belum fokus ke arah sana mas. Saat ini banyak sekali tugas dari rektor yang harus saya selesaikan",  tuturnya. Drs.H.Adam Ismail, MSi kini menduduki jabatan sebagai Kabag Umum IPDN.

Sebelumnya sebagai Kabag Pelatihan. Ketika penulis bertanya kalau sudah jadi kabag biasanya naik jadi kepala biro? Lalu Adam menjawab " Semua amanah kita kerjakan dengan sebaik - baiknya dengan penuh tanggung jawab. Tapi kalau sudah jadi kabag kan tak mungkin  turun lagi  jadi kasubag to", ungkapnya sambil berseloroh.

Beberapa hobynya antara lain berkunjung ke daerah terpencil lalu ngobrol dan memberi makan petani. Sementara diwaktu yang senggang melakukan olah raga mobil off road dan motor trail cc besar menaklukan berbagai rintangan dan tantangan di tebing curam sekalipun. Namun Adam Ismail juga menyukai musik utamanya lagu - lagu milik band legendaris Koes Plus. Ia rancak bermain gitar dan organ, vokalnya bagus pula. (Seno Supono).

KOMENTAR DISQUS :

Top