Indonesia English
Kamis, 19 Oktober 2017 |
Peristiwa

Musisi Koes Bersaudara Bukan Domba Revolusi Pemerintah Orde Lama

Senin, 09 Oktober 2017 15:18:51 wib - Komentar
Keempat musisi Koes Bersaudara Tonny Koeswoyo, Nomo Koeswoyo, Yon Koeswoyo dan Yok Koeswoyo pose dalam sampul album Piringan Hitam (PH) album bertitel Jadikan Aku Dombamu dirilis tahun 1966.

(Banten88.com): Inilah suatu peristiwa sangat pahit yang dialami keempat musisi Koes Bersaudara. Hanya karena menyanyikan lagu I Saw Her Standing milik band asal Inggris The Beatles pada 25 Juni 1965 di acara pesta dirumah Kolonel Kusno di Kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, 4 hari kemudian tepatnya 29 Juni 1965 keempat musisi Koes Bersaudara yakni Tonny Koeswoyo (Leader, lead guitar, komposer dan penulis lagu), Yon Koeswoyo (Guitar rhythem, lead vokal suara 1), Yok Koeswoyo (Bass guitar dan dubing vokal suara 2) serta Nomo Koeswoyo (Drumer) dijebloskan (Dikerem, bahasa Sunda) kedalam penjara Glodok Jakarta Kota. Namun Lokasi penjara Glodok pada pemerintahan Orde Baru dibongkar  dan dijadikan pusat bisnis barang-barang elektronik hingga saat ini.

Untuk mengenang kepedihan mereka selama berada di Penjara Glodok, almrhum Tonny Koeswoyo (Wafat 27 Maret 1987 usia 51 tahun), pada 1979 menulis lagu berjudul Glodok Plaza Biru dengan lyrik sebagai berikut: KISAH sedih yang dahulu/Selalu dalam ingatanku/Tempat yang tak pernah kuimpikan/Apalagi kuinginkan. Dimana kini rumah penjaraku yang dulu pernah kutunggu/Mungkinkah yang ini indah dan berseri/ Dapatkah ini menghilangkan nanti/ Kisah sedihku yang dulu/ Kusebut namamu Glodok Plaza biru/ Semua sedih dalam mimpi/Dengan paksa kuturuti/Aku harus jadi penghuni/Rumah dosa yang dibenci.

Album Glodok Plaza biru direkam di major label Purnama Record. Ini merupakan label terbesar kedua setelah Remaco. Lalu kembali ke kisah Koes Bersaudara yang dipenjara, tuduhannya adalah melanggar Peraturan Presiden Republik Indonesia (Perpres) No.11/1963 yang isinya : Melarang musik-musik berbau Barat dinyanyikan karena tidak menunjukan karakter budaya Indonesia dan mengajarkan hurahura serta kontra revolusi.

Pelarangan menyanyikan lagu-lagu Barat yang diistilahkan Presiden Soekarno sebagai musik ngak ngik ngok karena saat itu Presiden RI pertama ini sedang meradang dan kesal kepada Inggris dan Amerika atas  sikap kedua negara itu sangat bertentangan dengan Presiden Soekarno yang akan mengganyang Malaysia. Kala itu tenar semboyan "Inggris Kita Linggis dan Amerika Kita Setelika".

Sementara itu suatu ketika MasYon Koeswoyo pernah menuturkan, ketika abang tertua mereka John Koeswoyo yang juga sang pemodal band Koes Bersaudara menjenguk adik-adiknya di penjara, John membisikan kalimat kepada Tonny bahwa ini adalah "Blessing In Disguise". Demikian tutur mas Yon. Namun pada akhirnya benar adanya terkait apa yang dibisikan John kepada Tonny. "Blessing In Disguise" artinya sebuah berkat terselubung. Sesuatu yang pada awalnya tampak buruk atau tidak menyenangkan, tapi ternyata dibelakang hari menghasilkan sesuatu yang baik.

Situasi ini persis dialami musisi Koes Bersaudara ketika tahun 1969 group ini berubah nama menjadi Koes Plus karena Nomo Koeswoyo keluar dan digantikan Murry, Koes Plus tampil sebagai band besar yang amat digemari di republik ini. Lagu-lagunya sangat tenar dan mendapat julukan sebagai berikut : The King of Pop, tambang emas perusahaan rekaman PT Remaco, Super Group Nomor 1 di Indonesia. Semua julukan itu semakin melambungkan nama Koes Plus dan keempat personelnya Tonny, Yon, Yok dan Murry menjadi kaya raya. Tonny Koeswoyo adalah musisi pertama di Indonesia yang memperoleh bonus mobil sedan baru Mercy Tiger.

Musisi Koes Plus yang sudah wafat selain Tonny adalah Murry, meninggal dunia pada 1 Februari 2014 dalam usia 64 tahun. PHISIK DIPENJARA PIKIRAN TETAP KREATIF. Inilah istimewanya keempat musisi Koes Bersaudara. Meski badan mereka didalam penjara, namun sebagai seniman sejati terus melahirkan karya-karya fenomenal. Seperti diungkapkan Cecep Rosadi pembina organisasi kemasyarakatan nirlaba Jiwa Nusantara (JN) pusat Jakarta yang mendedikasikan kegiatannya untuk melestarikan mega karya Koes Bersaudara/Koes Plus, "Selama Koes Bersaudara dipenjara, Mas Tonny menulis 4 lagu yakni Voorman, Balada Kamar 15, Mengapa Hari Telah Gelap dan Didalam Bui", ujar kang Cecep yang dikenal apik mengoleksi piringan hitam (PH) dan kaset Koes Bersaudara serta Koes Plus selama band besar, band legendaris ini berkarya.

Sedangkan Okky T. Rahardjo pengurus JN Jawa Timur yang berkedudukan di Surabaya menambahkan "Pasca musisi Koes Bersaudara dibebaskan dari penjara, band ini merilis 2 album pada 1966. Yakni album Jadikan Aku Dombamu dan The Guilties", papar Okky yang saat ini sedang menulis buku tentang sosok John Koeswoyo.

Seperti halnya Cecep Rosadi, Okky T Rahardjo adalah kolektor album Koes Bersaudara/Koes Plus yang benar-benar komplit plit. BUKAN DOMBA REVOLUSI ORDE LAMA. Sehari sebelum meletus pemberontakan G.30 S/PKI dan memakan korban 7 Pahlawan Revolusi (Tuparev) keempat musisi Koes Bersaudara dibebaskan dari penjara Glodok. Kasus Koes Bersaudara pada akhirnya di Deponir atau dikesampingkan oleh Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta karena tidak cukup bukti dan musisi Koes Bersaudara dibebaskan tanpa proses peradilan.

Pasca keempat Koes keluar dari penjara, mereka merilis album dengan Title Jadikan Aku Dombamu. Saat itulah dikalangan pecinta musik pop bahkan sampai kini di komunitas Koes Bersaudara/Koes Plus terjadi spekulasi analisa bahwa lagu Jadikan Aku Dombamu merupakan jeritan hati dan pemberontakan keempat Koes karena merasa dijadikan Domba Revolusi oleh pemerintah Orde Lama. Penilaian seperti itu jelas salah kaprah karena tidak memiliki argumentasi yang kuat. Jika kita simak dengan seksama, lyrik lagu Jadikan Aku Dombamu berkisah tentang penyerahan diri yang total dari Tonny, Yon, Yok dan Nomo Koeswoyo kepada Tuhan Yang Maha Esa selama mereka berada didalam penjara. Jadi lagu ini tidak ada kaitannya dengan masalah politik dan murni penyerahan diri kepada Sang Pencipta.

Inilah lyrik lagu Jadikan Aku Dombamu ditulis Mas Tonny Koeswoyo. KURASAKAN Kasih MU/ Kumelihat Sinar MU/Namun aku terlalu picik mendengarkan Perintah MU. KUSERAHKAN hidupku/Semuanya Untuk MU/Hanya satu pintaku/Jadikan aku Domba Mu. Selanjutnya bila kita kaji dengan seksama pada kalimat : Kuserahkan hidupku/Semuanya Untuk MU, jelas lagu ini telah menjawab dengan terang benderang apa yang dimaksud isi lyrik lagu ini dan tidak ada kaitannya dengan urusan politik pemerintah Orde Lama. Dan keempat musisi Koes Bersaudara bukan domba revolusi pemerintah Orde Lama. MENDALAM DAN BERMUTU.

Terkait dengan penilaian sebagian masyarakat yang berpendapat bahwa lagu-lagu Koes Bersaudara dan Koes Plus adalah lagu-lagu ringan, sederhana, mudah diingat serta laris manis seperti kacang goreng. Pendapat seperti itu adalah ngawur dan tidak mendasar. Lagu-lagu Koes Bersaudara dan Koes Plus ditulis oleh musisi-musisi cerdas dengan pendidikan yang memadai. Tonny Koeswoyo sang leader dan komposer adalah akumni IKIP Rawa Mangun Jakarta pada program studi Bahasa Inggris. Karena pengetahuannya sangat luas sehingga mampu menghasilkan lagu dengan tema beragam tidak melulu masalah cinta lalu patah hati. Namun juga merambah ke tema persahabatan, rasa nasionalisme, keindahan alam dan Ketuhanan. Tonny bisa menulis lagu berbobot, bermutu dan puitis karena referensinya sangat luas. Bacaan filsafatnya antara lain bersumber dari Kitab Suci Al Qur'an, Kitab Injil, Gitanjali, Bhagawad Gita, Vivekananda juga karya sastra Chairil Anwar.

Jika lagu Koes Bersaudara dan Koes Plus laris manis bak kacang goreng, itu bukan karena lagunya ringan dan mudah dicerna serta bla..bla..bla karena alasan klise lainnya. Tapi lagu Koes itu memang kaya akan harmoni dan melodinya indah serta syairnya puitis. Bahkan sastrawan sekaliber Taufik Ismail yg menulis lyrik untuk album Qasidah group Trio Bimbo juga memberi penilaian lagu-lagu Koes lyriknya sangat puitis. Kemudian timbul pertanyaan, apakah keempat musisi Koes Bersaudara menyimpan dendam kepada Bung Karno?. Mas Yon dengan bijak menjawab "Koes Bersaudara tidak dendam dan tetap menghormati Bung Karno sebagai Presiden Republik Indonesia dan Bapak Bangsa",  tutur Yon Koeswoyo yang belum lama ini tampil dalam acara Tembang Kenangan Volume 2 di Indosiar. (Seno Supono)

 

KOMENTAR DISQUS :

Top