Indonesia English
Rabu, 24 Juli 2019 |
Advetorial

1969 - 2019 KOES PLUS 50 TAHUN. TAK ADA PERINTAH TERTULIS BK PENJARAKAN KUS BERSAUDARA

Rabu, 19 Juni 2019 13:22:13 wib - Komentar
Koes Plus.

Jakarta (Banten88.com) :KALA itu tahun 1969, band Koes Plus dengan personel Tonny Koeswoyo (Leader, arranger, penyanyi, penulis lagu, pemain gitar melody dan organ).Yon Koeswoyo (Lead vocal, penulis lagu dan pemegang gitar rhythem). Yok Koeswoyo (Penyanyi dan vocalis spesial untuk dubing suara 2, penulis lagu dan pemetik bas gitar) ketiganya adalah kakak beradik saudara kandung putra Raden Koeswoyo bangsawan dari Tanah Tuban (Jawa Timur), seorang ambtenar (birokrat) dari Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia.

Kemudian Murry, bukan dari  " marga "  Koeswoyo adalah arek Suroboyo selain sebagai drumer  juga penulis lagu dan penyanyi.

3 Koes diatas sebelumnya adalah para personel band tenar Kus Bersaudara didirikan Tonny Koeswoyo tahun 1962 dengan formasi 4 saudara kandung yakni Tonny Koeswoyo (Gitar melody) Nomo Koeswoyo (Drum) ditambah Yon Koeswoyo (Gitar rhythem) dan Yok Koeswoyo (Bas).

Kus bersaudara sudah memiliki album dan meledak dengan mega hits antara lain Kuduslah Tjintamu, Bus Sekolah, Si Kancil, Dara Berpita, Wenny, Terpesona, Harapanku, Selamat Berpisah, Dara Manisku, Telaga Sunyi, Pagi yang Indah dll nya.

TAK ADA PERINTAH TERTULIS BK

Pada 29 Juni 1965 musisi Kus Bersaudara Tonny, Nomo, Yon dan Yok dijebloskan ke penjara Glodog oleh rezim Orde Lama dinilai sebagai musisi  tidak memiliki jiwa nasionalisme karena menyanyikan lagu - lagu Barat milik The Beatles sehingga dianggap membahayakan  perjuangan mengganyang Nekolim (Barat) yang sedang digalakan pemerintahan Orde Lama.  Kala itu pula tenar slogan " Inggris kita linggis, Amerika kita setelika ".

Keempat musisi Kus Bersaudara ditahan dipenjara Glodog Jakarta selama 3 bulan dan dibebaskan pada 29 September 1965 tanpa proses peradilan. Mereka bebas sehari sebelum pecah kudeta berdarah pemberontakan  G.30 S/PKI.

Namun benarkah Presiden Soekarno memerintahkan pemenjaraan keempat musisi Kus Bersaudara?.

Penulis pernah bertanya masalah krusial ini dengan seorang wartawan senior pada kurun 1996 di kantor Redaksi koran Sentana Jakarta. Waktu itu penulis adalah Redaktur Pelaksana di media tsb. Menurut wartawan senior yang sudah meniti karier sejak tahun 60 an dan mengikuti berita proses penangkapan dan pembebasan Kus Bersaudara, mengatakan " Setahu saya, belum pernah melihat ada data berupa instruksi tertulis dari Bung Karno (BK) untuk memenjarakan Kus Bersaudara,". Masih menurut wartawan senior tersebut,  " Justru pihak Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta yang terlalu maju atau agresif menginterpretasikan ucapan Bung Karno bahwa Kus Bersaudara telah memainkan musik ngak ngik ngok atau  ber beatle - beatle an. Sehingga Kejati DKI Jakarta mengambil tindakan tegas  menggiring musisi Kus Bersaudara kedalam penjara," demikian ungkap sang wartawan senior tsb dengan keprihatinan mendalam.

Meski Tonny Koeswoyo dan ketiga saudara kandungnya dipenjara, namun kreatifitasnya sebagai seniman tak pernah mati. Ini terbukti dengan lahirnya lagu - lagu hebat semasa mereka didalam bui.

Lagu tsb adalah : Balada Kamar 15, Mengapa Hari Telah Gelap, To the so Called the Guilties, Didalam Bui, Jadikan Aku Dombamu.

Lagu - lagu dahsyat itu direkam pada 1967 di studio Irama (Mesra Record) dengan judul album To The So Called The Guilties dan Jadikan Aku Domba Mu.

Kemudian ditahun 1980 Tonny Koeswoyo bersama band Koes Bersaudara merilis album Glodog Plaza Biru yang juga bertutur tentang kenangan dan  kepedihan mereka ketika didalam penjara. Dalam lyrik Glodog Plaza Biru antara lain Tonny dengan satire menuliskan : Rumah dosa yang dibenci itu, kini sudah menjelma menjadi pusat bisnis yang indah dan berseri seiring dengan berubahnya status ex penjara Glodog tempat dulu keempat musisi Kus Bersaudara dipenjara telah berubah fungsi sebagai  pusat bisnis dikawasan Jakarta Kota.

Inilah sebuah peristiwa langka dunia, hanya karena menyanyikan lagu-lagu Barat milik The Beatles, keempat musisi Kus Bersaudara dijebloskan ke penjara.

AWAL TERBENTUK KOES PLUS

Tahun 1969, Nomo Koeswoyo sosok yang dikenal pintar berbisnis lebih focus pada dunia usaha dibanding bermusik, sehingga Tonny memberi pilihan pada Nomo, mau terus bermain musik atau menggeluti bisnis. Mengingat Nomo sudah berkeluarga, ia memilih menekuni bisnis dan cabut dari band Kus Bersaudara karena bermain musik kala itu belum bisa menjadi andalan hidup.

Selanjutnya Tonny merekrut Murry untuk posisi drum menggantikan Nomo, nama band Kus Bersaudara berubah menjadi Koes Plus.

Dikemudian hari, Nomo Koeswoyo adalah sosok hebat dan sama hebatnya dengan ketiga saudara kandungnya di blantika musik pop Indonesia. Ia pada 1973 mendirikan band No Koes yang ketenarannya membayang - bayangi Koes Plus sekaligus sebagai Direktur Operasi PT. Yukawi Indo Musik, pabrik piringan hitam terbesar kedua se Asia Tenggara. Ia juga seorang pemandu bakat handal dan disegani.

Dari tangannya lahir penyanyi  tenar seperti Oma Irama dan Soneta Group, duo folk Franky and Jane, Alex dan Jacob Kembar Group, band imitator Koes Plus Topan Group, solois Enny Haryono, Henny Purwonegoro, Dewi Eliana Rosidin dari band Nobo, Patas Group (tanpa Murry) dan masih banyak lagi.

Sebagai direktur operasi perusahaan rekaman, seorang penyanyi dan band layak rekam atau tidak, keputusan sepenuhnya berada ditangan Nomo.

Adik kandung Tonny ini  memiliki feeling yang luar biasa dalam bisnis musik. Ia piawai memprediksi sebuah lagu bakal meledak dipasar. Disamping itu karena ia terampil dalam ilmu komunikasi massa dan komunikasi bisnis sehingga pintar pula memanfaatkan power media. Tahun 1988 Nomo mengguncang lagi blantika musik pop dengan solo album bertajuk Layar Tancap dan kasetnya laris manis.

ASAL USUL NAMA KOES PLUS

Perihal nama Koes Plus terinspirasi ketika Tonny dkk jalan - jalan ke Kawasan Blok M. Mereka melihat baliho iklan obat sakit kepala yang amat terkenal kala itu yakni APC Plus. Spontan Tonny berteriak " Koes Plus nama band kita ". Namun nama Koes Plus juga bisa diartikan bersatunya ketiga clan Koeswoyo yakni Tonny Koeswoyo, Yon Koeswoyo, Yok Koeswoyo dengan sang plus, Murry.

Tentang Murry, ia adalah jebolan dari band instansi Kejaksaan Jatim di  Surabaya, Patas Group namanya. Masuknya Murry di Koes membawa perubahan sound yang sangat progresif. Semula musik Kus Bersaudara yang identik dengan warna manis Everly Brothers dan Kalin Twins, setelah band berubah nama menjadi Koes Plus, sajian musiknya mendadak garang dan menyengat. Pukulan drum ala Ringo Star (Beatles), Charlie Watts (Rolling Stones) dan John Bonham (Led Zappelin) sangat mewarnai musik Koes Plus.

Ini terkuak di album Koes Plus Volume 1 pada nomor Dheg Dheg Plus, Awan Hitam, Kelelawar dan Hilang Tak Berkesan. Bahkan Yon Koeswoyo dalam buku berjudul Panggung Kehidupan juga mengatakan " Kehadiran Murry telah membawa lompatan besar terhadap warna Musik Koes Plus ", tutur Yon.

Bagi penulis kehadiran Murry di Koes Plus tidak sekedar + tapi merupakan + + nya Koes.

Ciri khas permainan drumnya adalah beat segar dengan rofel variatif, hentakan dahsyat dan mampu menghasilkan bunyi - bunyian antiq, aneh, rancak, renyah dan indah serta kaya harmoni seolah - olah seperti bunyi klothekan (bahasa Jawa) atau tetabuhan anak - anak di gardu RW seperti  pada lagu Nusantara I album Koes Plus Volume 5 dan lagu Nusantara V terdapat di album Koes Plus Volume 11 serta Sarinah di album Koes Plus Pop Jawa Volume 3.

Coba simak pula lagu Sendiri dan Rahasia di album Koes Plus Volume 12, betapa Murry dilagu dengan nada yang sama namun piawai menciptakan pukulan - pukulan drum variatif dan kreatif. Demikian pula pada lagu berjudul Aku Kembali masih di Volume 12, pukulan drum Murry terus berputar tanpa jeda. Ini menunjukan kemampuannya yang luar biasa dalam menundukan drum set pegangannya. Sosok Murry adalah sang kaisar drum dijalur musik pop Indonesia.

MISSA SOLEMNIS

Filosofi Tonny Koeswoyo dalam bermusik adalah Missa Solemnis yang artinya " Bermula dari hati semoga mendapat tempat dihati pula ". Missa Solemnis merupakan symphony gubahan seorang komponis musik klasik kelas dunia kelahiran Jerman, Ludwig van Beethoven.

 

Karena menulis lagu dengan hati seperti dituturkan Yok Koeswoyo, Itulah salah satu faktor kenapa lagu - lagu Koes Plus meski sudah berusia 50 tahun namun thema nya tetap relevan dengan kekinian. Antara lain pada lagu berjudul Tradisi, Hari yang Indah,  Muda mudi, Remaja ABCD, Ketenteraman, Percayalah, Kata Ibu, Berdoa dan Bernyanyi, Wong Urip, Zaman Wis Akhir, Ojo Podho Nelongso, Tunggak Jati dll nya. Lyrik lagu Koes Plus tak pernah lekang oleh panas dan tak pernah lapuk karena hujan dan tetap relevan dengan perkembangan zaman.

LAMA NIAN JADI RAJA MUSIK

Band ini sangat lama merajai blantika musik pop. Puncak ketenarannya sejak 1970 hingga 1980. Bagi penulis semasa SD hingga SMA di kota Salatiga (Jateng) romantika dengan lagu Koes Plus terus menyatu di kalbu. Lagu milik band legendaris ini menjadi sahabat seiring sejalan sejak kanak - kanak hingga remaja. Bahkan ketika penulis kuliah di Bandung pada 1983, Koes Plus tetap eksis menapaki sisa - sisa kedigdayaannya dengan lagu Da da da, Angin Senja hingga Cinta Dibalik Kota.

ARANSEMEN BAKU

Aransemen lagu - lagu Koes Plus sudah sangat baku dan sudah dipertimbangkan dengan seksama baik dari aspek idealis dan bisnis oleh sang penulis lagu. Jika ada band yang berani-berani mengaransemen ulang lagu-lagu Koes Plus hasilnya justru tak nyaman didengar ditelinga.

Contohnya pada album Erwin Gutawa bertajuk Salute to KOES plus/bersaudara yang tenar justru lagu berjudul Manis dan Sayang  dibawakan Andi Rif/ dengan gaya bernyanyi orisionil dan aransemen yang tidak banyak berubah namun diperkaya dengan iringan musik orkestra. Sedangkan lagu berjudul Jemu dibawakan Armand Maulana dengan gaya nyanyi dibikin aneh, malah terasa aneh pula ditelinga. Ini lagu pada eranya, sangat tenar. Demikian pula pada lagu Bunga Ditepi Jalan, salah satu lagu ber genre pop-rock terbaik dari sisi aransemen musik dan penulisan lyrik. Lagu ini terdapat di album ke 4 Koes Plus. Aransemen aslinya menyengat dan garang, tapi ketika dinyanyikan ulang oleh Duta Sheila on 7 menjadi melow, bukan terdengar indah tapi malah menyandera telinga.

107 ALBUM BERISI 989 LAGU

Koes Plus dengan formasi utuh Tonny, Yon, Yok dan Murry telah menghasilkan 107 album berisi 989 lagu antara lain terdiri  14 album Pop Indonesia, 3 album Pop Jawa, 4 album Pop Melayu, 1 album Pop Jawa Melayu, 3 album Pop Keroncong, 1 album Pop Barat Another Song for You, 1 album akustik Koes Plus in Folk Song, 1 album Koes Plus in Concert berisi lagu - lagu baru dengan iringan orkestra, 1 album kedepankan duet dahsyat Yon dan Yok ala Kalin Twins dengan titel Koes Plus Kau Selalu Dihatiku,1 album sejarah perjalanan musik Kus Bersaudara dan Koes Plus  dikemas dalam album History of Koes Brothers, 2 album musik keras Koes Plus in Hard Beat, 1 album Qasidah dan 3 album Natal, 2 album pilihan lagu - lagu terbaik Kus Bersaudara dan Koes Plus dengan titel album The Best of Koes, 2 album Pop Anak - anak dan puluhan album instrumentalia dalam bentuk " minus one " suara penyanyi diganti dengan tiupan saxophone yang dimainkan musisi top Albert Sumlang dari band The Mercys.

TUHAN BERKENAN

Soal produktifitas, kreatifitas dan ide cerdas serta pencapaian Koes Plus yang sangat spektakuler di blantika musik pop hingga saat ini belum mampu disaingi oleh band dibelahan dunia manapun.

Terkait dengan produktifitas, kreatifitas serta pencapaian Koes Plus yang sungguh luar biasa dengan menghasilkan mega karya emas dengan lagu yang amat tenar seperti Pelangi, Mari - mari, Diana, Kolam Susu (Lagu terbaik 1972/1973), Bujangan, Buat Apa Susah, Maria, Mawar Bunga (Lagu terbaik 1973/1974), Cintamu Telah Berlalu, Hidup yang Sepi, Andaikan Kau Datang, Jemu, Penipu Tua, Mobil Tua (Lagu terpopuler 1976), Penyanyi Tua dan masih banyak lagi. Anugerah yang luar biasa itu diberikan Tuhan Yang Maha Esa karena Tuhan berkenan atas kehadiran Koes Plus (Kus Bersaudara).

MUSISI KOES DALAM FILM

Tercatat terdapat 2 lagu Koes Plus terpilih sebagai jingle iklan yakni lagu Pelangi untuk iklan mobil Toyota Kijang pada 1973 dan Buat Apa Susah untuk iklan tabungan BCA tahun 2019 ini. Koes Plus juga menjadi bintang iklan minuman merk F&N pada 1972.

Musisi Koes Plus (Kus Bersaudara) juga telah membintangi 2 film yakni Bing Slamet Setan Jalanan (1972) dan film musik Bing Slamet Ambisi (1973).

Pada film Bing Slamet Ambisi musisi Kus Bersaudara (Tonny, Nomo, Yon dan Yok) menyanyikan lagu Didalam Bui.  Masih di film yang sama  pada lagu Bis Sekolah giliran musisi Koes Plus Tonny, Yon, Yok dan Murry tampil bersama menghiasi layar lebar.

Sementara saat membintangi film Bing Slamet Setan Jalanan (1972) keempat musisi Koes Plus menyanyikan lagu Nusantara 1.

Salah satu adegan dalam film tsb yang penulis ingat saat Tonny Koeswoyo sedang berbincang dengan Eddy Sud, tiba - tiba melintas Murry. Lalu Tonny memanggil " Murry sini ". Murry menghampiri Tonny disusul Yon dan Yok. Selanjutnya keempat musisi Koes Plus di " shoot close up " dalam tata warna yang indah, mereka berdendang sambil bergoyang menyanyikan lagu Nusantara 1. Wow dahsyat nian adegan itu.

Jika film Bing Slamet Ambisi saat ini masih bisa kita saksikan di chanel You Tube, namun betapa sulitnya menemukan dokumentasi film Bing Slamet Setan Jalanan.  Tercatat pula 2 lagu Koes Plus berjudul Manis dan Sayang dipilih untuk ilustrasi film yakni Anjing-anjing Geladak (1972) & Yang Muda yang Bercinta (1977).   Dalam film Yang Muda yang Bercinta lagu Manis dan Sayang ditampilkan dalam bentuk instrumentalia full orkestra oleh musisi Idris Sardi.

TUDUHAN REZIM TAK TERBUKTI

Kemudian timbul pertanyaan benarkah musisi Koes itu figur-figur yang a Nasionalis seperti dituduhkan rezim Orde Lama?. Ternyata tuduhan itu tidak terbukti dan mudah dipatahkan oleh Tonny Koeswoyo dkk melalui lagu serial Nusantara yang amat melegenda itu. Musisi Koes Plus (Kus Bersaudara) adalah sosok  nasionalis yang mencintai NKRI, Kebhinekaan dan Toleransi.

Bahkan Nomo Koeswoyo sebagai wujud kecintaan dan kebanggaan pada NKRI telah mempersembahkan 4 lagu ciptaannya yakni Jas Merah, Cinta Tanah Air, Nusantaraku dan Sang Proklamator.

Musisi Koes Plus juga salah satu  pejuang Integrasi bergabungnya Timor Timur kala itu menjadi Provinsi ke 27 Indonesia.

Lagu berjudul Da Silva yang ditulis Tonny Koeswoyo merupakan hasil  kontemplasi yang dalam atas perjuangan para putra terbaik bangsa menyatukan Timor Timur kedalam wilayah NKRI.  Lyrik lagu ini memiliki interpretasi yang sangat luas tidak sebatas tentang cinta remaja namun dengan spectrum lebih dalam yakni cinta tanah air.

Menurut Ir.Wasis Soesilo, MM, Ketua Komunitas Koes Plus Jiwa Nusantara perode 1 (2004 - 2007) bahwa Da Silva hanyalah sebuah personifikasi.

Malah sesungguhnya nama Da Silva adalah nama Laki -laki, tutur Wasis yang juga penulis buku berjudul Koes Plus Mencintai Nusantara Lewat Musik. Wasis juga mengatakan, atas prestasi Koes Plus yang luar biasa di blantika musik pop, super group ini telah dianugerahi 22 piringan emas (Golden Record).

Inilah lyrik lagu berjudul :

DASILVA

Da Silva oh oh oh Da Silva/

Kini kau telah tiba/

Lama kau menghilang/

Da Silva oh oh oh Da Silva/

Betapa ku iba tak dapat kukata/

Aku berjanji kau ku jaga lagi/

Kau kan selalu kutemani

Da Silva oh oh oh Da Silva/

Dengarkan selalu laguku untukmu/

Didalam duka dan didalam suka/

Kita bersama sampai nanti/.

(Seno Supono).

KOMENTAR DISQUS :

Top