Indonesia English
Rabu, 06 Juli 2022 |
Nasional - Hukum dan Kriminal

9 Jam Diperiksa KPK, Gubernur Gatot Pulang ke Tahanan Cipinang

Senin, 03 Agustus 2015 23:43:32 wib - Komentar
Evy Susanti istri Gatot Pujo Nugroho ditahan KPK.

Jakarta, (Banten88.com) – Setelah menunggu berjam-jam, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tanpa ragu akhirnya melakukan penahanan terhadap Gubernur Sumatera Utara, Gatot Pujo Nugroho dan istri mudanya, Evy Susanti. Mereka berdua, Gatot dan Evy ditahan setelah menjalani pemeriksaan cukup panjang selama lebih dari semblan jam. Sekitar pukul 21.15, Gatot terlihat sudah  menggunakan rompi kebesaran KPK warna oranye.

Baik Gubernur Gatot maupun istrinya terlihat letih, ditemani pengacaranya Razman Arief Nasution keduanya keluar dari ruang pemeriksaan. Menurut petugas, Gatot ditahan di rumah tahanan Klas I Cipinang, sedangkan Evi di rumah tahanan KPK, masing-masing untuk 20 hari pertama. Gatot dan Evy resmi menjadi tahanan KPK, Senin (3/8).

Tak sepatah katapun keluar dari mulut Gatot dan Evy. Gatot yang keluar lebih awal sudah menggunakan rompi orange tahanan KPK, dia bungkam dan tidak memberikan senyuman sedikitpun ketika keluar Gatot langsung masuk menuju mobil tahanan. Sementara Evy, istrinya, keluar belakangan setelah Gatot dibawa mobil tahanan.

Tidak seperti saat kedatangannya, Gatot dan Evy saat tiba di KPK, Jl HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Senin (3/8), sekitar pukul 11.55 WIB dengan penuh percaya diri keduanya terlihat mengumbar banyak senyum. Gubenrur Gatot yang mengenakan kemeja batik cokelat dan setelah celana hitam, sedangkan Evy istrinya lebih terlihat cantik dengan mengenakan gamis yang dipadukan dengan kerudung hijau semakin menambah kecantikannya.

Gatot dan Evy turun dari mobil Toyota Innova warna putih. Gatot turun lebih dulu didampingi pengacaranya, Razman Arief Nasution. Evy kemudian turun belakangan sembari mengumbar senyum simpul. Namun, saat ditanya dalam pemeriksaan kali ini kemungkinan akan langsung dilakukan penahanan, keduanya tampak kompak, dan senyumannya berubah kecut. Mereka berdua terus bungkam hingga masuk ke ruang tunggu pemeriksaan.

Setelah menunggu hampir 10 jam, Gatot keluar terlebih dulu, dia digiring oleh pihak kepolisian menuju mobil tahanan berwarna silver untuk menuju Rutan Cipinang. Lima menit kemudian, Evy yang mengenakan kerudung berwarna hijau dan rompi oranye keluar dari Gedung KPK pukul 21.14 WIB dengan mobil berwarna hitam. Evy ditahan di Rutan KPK.

Kepala Bagian Pemberitaan dan Publikasi KPK Priharsa mengatakan, penahanan keduanya dilakukan setelah penyidik mempertimbangkan alasan obyektif dan subyektif. "Kalau obyektif itu seperti sangkaan dengan ancaman hukuman di atas lima tahun. Kalau subyektif itu seperti dikhawatirkan melarikan diri, menghilangkan bukti, dan lain-lain," ujarnya.

Pengacara Gatot, Razman Arief Nasution mengatakan, sebelum ditahan Gatot meminta kepada KPK agar mengambil alih kasus korupsi Bansos Sumut yang tengah ditangani kejaksaan. "Kami berharap dengan hasil koordinaasi  kami dengan klien kami, meminta agar kasus dalam hal ini bukan saja terkait dengan dugaan penyuapan, tapi juga untuk Bansos, BDB (Bantuan Daerah Bawahan), dan lain-lain untuk kiranya dapat diproses oleh KPK, bukan pihak kejaksaan," kata Razman Arief Nasution di KPK, Jl HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Senin (3/8).

Dikatakan Razman, keinginan Gatot agar KPK juga menangani kasus Bansos agar penyidikan lebih efektif. Untuk diketahui, penyidikan kasus Bansos Sumut yang ditangani kejaksaan memang disebut-sebut juga akan menyeret Gatot. "Itu akan mempermudah proses penyidikan sampai proses persidangan. Berikutnya adalah kami mendorong agar kasus dugaan suap ini begitu juga dengan Bansos, BDB, BDH sesegera mungkin diproses terutama dugaan suap ini diproses secepatnya, dan kita belum akan melakukan praperadilan," tukasnya.

Plt Pimpinan KPK, Indriyanto Seno Adji menyebut bahwa penahanan Gatot dan Evy murni keputusan penyidik. Penyidik menilai perlu menahan Gatot dan istri mudanya untuk mempermudah jalannya kasus. "Semua sudah paham, penahanan ini sangat tergantung dari tim penyidik yang telah mengevaluasi perlu tidaknya dilakukan penahanan," ujarnya.

Gatot dan Evi ditetapkan sebagai tersangka pada Selasa (28/7/2015). Keduanya diduga melanggar Pasal 6 ayat 1 huruf a dan Pasal 5 ayat 1 huruf a atau b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31/1999 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 20/2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 jo Pasal 64 ayat 1 KUHP.

Dalam pengembangan kasusnya, KPK menduga Gatot dan Evi sebagai pihak penyuap hakim PTUN Medan. Kasus ini bermula dari operasi tangkap tangan KPK di Gedung PTUN Medan, 9 Juli. Dalam operasi tersebut, KPK menangkap M Yagari Bhastara alias Gerry, pengacara di Kantor Hukum OC Kaligis dan Partner. Gerry diduga menyuap tiga hakim PTUN Medan, yaitu Tripeni Irinto Putro, Amir Fauzi, dan Dermawan Ginting, serta seorang panitera, Syamsir Yusfan.

Gerry adalah pengacara yang mewakili Ahmad Fuad Lubis, pegawai pada Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprov Sumut) yang menggugat Kejaksaan Tinggi Sumut. Gugatan ke PTUN Medan ini berkaitan dengan surat perintah penyelidikan yang dikeluarkan Kejaksaan Tinggi Sumut atas dugaan penyalahgunaan wewenang berkaitan dengan dugaan tindak pidana korupsi bantuan sosial di Pemprov Sumut.

Gerry diduga hanya menjalankan perintah atasannya untuk menyuap hakim PTUN Medan agar gugatannya dimenangkan. Dalam kasus ini, KPK juga menjerat OC Kaligis sebagai tersangka

Seperti diketahui, ini merupakan pemeriksaan perdana bagi Gatot dan Evy sebagai tersangka penyuapan terhadap hakim PTUN Medan. Besar kemungkinan, penyidik akan langsung menahan Gatot dan Evy usai pemeriksaan karena kasus ini merupakan pengembangan dari Operasi Tangkap Tangan (OTT) dan semua tersangka lain juga sudah ditahan KPK. (Dang).

 

KOMENTAR DISQUS :

Top