Indonesia English
Minggu, 21 Januari 2018 |
Nasional - Seputar Banten

Acara Adat Seren Taun Cisungsang Jadi Daya Tarik Banten

Jumat, 26 Agustus 2016 19:19:51 wib - Komentar
Kepala Biro Humas Provinsi Banten, Deden Apriyandi.

Serang, (Banten88.com) : Acara adat tahunan yang dilakukan masyarakat Cisungsang hingga kini tetap lestari dan terjaga. Acara serah tahun atau yang lebih populis dikenal dengan nama Sérén Taun merupakan salah satu ritual yang dilakukan oleh masyarakat kasepuhan Cisungsang, yang berlokasi di Desa Cisungsang, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten.

Acara seren Seren Taun begitu melekat dan melegenda yang dilakukan oleh masyarakat Banten Selatan. Selain seba baduy, acara seren taun tidak kalah menariknya untuk dilestarikan dan bukti salah satu adat dan budaya yang ada di Banten. Cisungsang adalah nama kampung yang teletak diujung Banten, jika dihitung dalam waktu perjalanan dari ibukota Provinsi, kira-kira memerlukan waktu sekita sekira 4 jam  menuju kampong tersebut.

Dalam pagelaran seren taun biasanya terlebih dahulu dilakukan acara puja serta puji dalam bentuk ritual. Ritual yang merupakan ungkapan rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa pasca panen padi ini adalah akhir sekaligus awal kegiatan sosial masyarakat adat kasepuhan Cisungsang. Disebut akhir, karena pada ritual sérén taun seluruh masyarakat adat kasepuhan Cisungsang memberikan laporan aktivitasnya selama setahun ke belakang.

Dalam ritual inilah yang menjadi cirri dari acara seren taun yang biasanya mengundang tamu Negara, baik dari pusat, provinis maupun kabupaten dan kota. Peristiwa inipun disebut pula sebagai awal, karena pada ritual ini kepala adat yang dipimpin Abah Usep Suyatma Sr memberikan wejangan-wejangan dan bekal untuk aktivitas setahun ke depan.

Ritual merupakan ajang silaturahmi antara anggota masyarakat kasepuhan dengan kepala adat, masyarakat. Kasepuhan melaporkan kegiatan selama setahun kepada kepala adat. Dalam menentukan waktu pelaksanaan ritual, kepala adat mengundang para penasihat, perangkat kasepuhan, dan para réndangan (perwakilan masyarakat adat), tokoh agama, tokoh pemuda, pemerintah desa, kecamatan, kepolisian untuk menyampaikan rangkaian kegiatan dimaksud.

Tidak tanggung-tanggung, acara sérén taun yang dilaksanakan selama 7 hari 7 malam. Acara itu  berlokasi di imah gede, yaitu tempat kediaman kepala Adat, diisi dengan berbagai kegiatan dan ritual adat. Ritual adat seren taun juga merupakan puncak siklus dari tradisi masyarakat kasepuhan Cisungsang dalam proses pengolahan, menanam, memelihara, menyimpan, dan menghargai padi (dewi sri). 

Pada tahun 2016 ini, pelaksanaan digelar mulai tanggal 22 hingga tanggal 29 Agustus 2016, dengan mengambil tema “Mi Éling Ciri Wanci Ti Karuhun” (Mengingat merupakan ciri waktu dari Karuhun). Dalam acara seren taun tersebut, Gubernur Banten, Rano Karno beserta rombongan dipastikan akan menghadiri upacara adat tersebut.

Kepala Biro Humas Provinsi Banten, Deden Apriyandi menyampaikan, rencananya Minggu, (28/8) lusa Gubernur Rano akan menghadiri acara tersebut. Adapun rangkaian ritual sérén taun adalah seperti yang sudah di agendakan diantaranya sajian dengan nama rasul paré di leuit, bubuka, pantun tradisional, balik taun rendangan, ngareremokeun, upacara adat sérén taun, rasul seren taun, panadaran, dan panutup.

“Kalau dari silsilahnya, kasepuhan Cisungsang berasal dari daerah Cadas Belang, keturunan dari olot Ruman, disebut aki buyut Ruman atau Harumanjaya. Olot Ruman memiliki tujuh orang anak yang menyebar ke kampung-kampung lain,” kata Deden mengurai acara seren taun.

Dikatakan Deden, Cisungsang memiliki luas wilayah sekitar 2.800 km2, kawasan ini dikelilingi empat desa, yaitu Desa Cicarucub, Bayah, Citorek, dan Cipta Gelar. Nama Cisungsang pada awalnya berasal dari nama salah satu sungai yang mengalir dari talaga sangga buana. Talaga ini mengalir sembilan sungai yaitu sungai cimadur, ciater, cikidang, cisono, ciberang, cidurian, cicatih, cisimeut, dan cisungsang.

“Kawasan ini dipimpin oleh seorang kepala adat yang penunjukannya melalui proses wangsit dari karuhun. Dikawasan ini sudah penggantian kepala adat dan telah terjadi 4 generasi yaitu generasi pertama dipimpin oleh embah buyut yang berusia 350 tahun, generasi kedua oleh Uyut Sakrim berusia 250 tahun, generasi ketiga oleh Oot Sardani berusia 126 tahun dan generasi keempat oleh Abah Usep yang sekarang berusia 35 tahun,” urainya.

Menurut Deden, Abah Usep mulai memegang tampuk pimpinan pada usia 19 tahun. Abah Usep ini selain menjadi kepala adat juga mempunyai keahlian di bidang supranatura (dukun) yaitu bisa membaca pikiran orang, Dalam menjalankan pemerintahannya Abah Usep dibantu oleh 87 Rendangan artinya orang yang ditunjuk secara turun temurun yang merupakan perwakilan dari kepala adat.

“Sedikit berbeda dengan masyarakat baduy, masyarakat Cisungsang lebih terbuka terhadap perkembangan, seperti baduy menggunakan sistem isolasi yakni masyarakatnyanya tidak dapat beralkulturasi dengan masyarakat luar, sedangkan masyarakat cisungsang tidak seperti itu terbukti dengan adanya penerangan listrik, bentuk rumah, bertani sudah menggunakan alat-alat yang modern dan media elektronik sudah ada,” katanya. (YAN).

 

 

 

KOMENTAR DISQUS :

Top