Indonesia English
Selasa, 25 September 2018 |
Nasional

ADAKAH KEADILAN BISNIS ANTARA KOES PLUS DENGAN REMACO

Senin, 02 Juli 2018 08:42:29 wib - Komentar
Musisi Koes Plus Tonny, Yon, dan Muriry dalam album Melepas Kerinduan 1079.

Jakarta (Banten88.com): BAND legendaris Koes Plus memang telah ditinggalkan 3 personelnya untuk selamanya yakni Tonny Koeswoyo, Yon Korswoyo dan Murry. Sedang yang hidup dan dalam kondisi sehat Yok Koewoyo. Disamping itu ada Nomo Koeswoyo drumer Kus Bersaudara 1962 dan drumer Koes Bersaudara 1977 yang kini bermukim di Magelang Jawa Tengah dalam kondisi sehat wal afiat.

Meski Koes Plus telah ditinggalkan 3 personelnya, super group ini masih meninggalkan kisah - kisah menarik untuk digali. Salah satu sequel yang mau penulis kemukakan adalah, adakah keadilan yang diterima musisi Koes Plus saat berbisnis dengan label terbesar di Asia Tenggara yakni PT.Republic Manufacturing & Co atau Remaco dibawah pimpinan Eugene Timothy jika dikaitkan azas bisnis adalah saling menguntungkan ?.

Koes Plus didirikan Tonny Koeswoyo pada 1969 semula dibawah managemen PT.Dimita Moulding dibawah pimpinan Dick Tamimi. Selama di Dimita, super group ini telah merilis 7 album Pop Indonesia dan 1 album mini Pop Natal yang berisi 4 lagi. Kemudian pada 1972, dengan berbagai pertimbangan utamanya system rekaman yang lebih modern saat itu, Koes Plus pindah ke PT.Remaco untuk merekam album

Ke 8. Hasilnya album yang mengkedepankan hits " Kolam Susu" meledak, meletus, melejit dan merajai pasar kaset karena terjual 1 juta copy. Pihak label membeikan bonus kepada leader Koes Plus Tonny Koeswoyo 1 unit mobil sedan Mercedez Benz plus pihak label menganugerahkan Golden Record (piringan emas) pertama untuk Koes Plus atas kesuksesan penjualan album volume 8. Sedangkan pihak Radio Puspen Hankam, merupakan siaran radio sangat berpengaruh di jagat musik pop saat itu, menganugerahkan penghargaan lagu " Kolam Susu " yang terdapat di album kedelapan Koes Plus sebagai lagu terbaik 1972/1973.

Ketika penulis berjumpa dengan Yon Koeswoyo, lead vocal dan pemain rhythem Koes Plus di Balai Sarbini pada event Show Koes Plus tapi sudah dengan formasi Yon, Murry, Andolin dan Jack Kasbie, penulis bertanya pada Yon. " Dengan sukses terjual 1 juta copy kaset album Koes Plus Volume 8, selain mas Tonny memperoleh bonus mobil sedan Mercy, apakah mas Yon, mas Yok dan mas Murry juga memperoleh bonus kah dari pihak label? " tanya penulis. Yon Koeswoyo menjawab "  Hanya mas Ton yang mendapat bonus, namun kami semua mensyukuri rejeki yang diberikan Gusti Allah kepada kami ", tutur Yon kala itu yang dicegat penulis sebelum ia " on stage ".

BAND DENGAN GOLDEN RECORD TERBANYAK

Koes Plus adalah satu - satunya super group di Indonesia yang memperoleh Golden Record terbanyak dan penghargaan ini menunjukan suksesnya lagu - lagu mereka di pasar kaset.

Dari Wasis Susilo pendiri dan pembina organisasi Jiwa Nusantara (JN) yang merupakan organisasi tempat bernaungnya seluruh fans fanatic Koes Plus sekaligus sebagai wadah pelestari mega karya Koes Plus, penulis memperoleh data album Koes Plus yang sukses dipasar sehingga memperoleh anugerah Golden Record karena terjual antara 500.000 hingga 1 juta copy kaset. Album tsb adalah :

Koes Plus Volume 8, 9, 10,11,12 dan 13. Koes Plus Pop Jawa Volume 1, 2 dan 3. Koes Plus Pop Melayu Volume 1, 2 dan 3 serta Koes Plus Kerontjong Volume 1, 2 dan 3. Organisasi Jiwa Nusantara didirikan Wasis bersama pemain bas Koes Plus Yok Koeswoyo.

Super Group ini satu - satunya band yang memperoleh honor tertinggi. Informasi yang penulis peroleh dari Okie T. Rahardjo, Ketua JN Surabaya, pihak label membeli putus per lagu milik Koes Plus Rp.1.250.000,- suatu jumlah yang sangat megah dan tinggi karena harga satu unit sepeda motor hanya  dikisaran Rp.300.000,- dan harga sedan Toyota Corolla baru kala itu Rp.2.500.000,-.

Sedangkan Koesyanto arek Suroboyo yang bersama Okie Rahardjo memandu acara Surabaya Koes Plus Night (SKPN) di Radio Sonora Jaringan Surabaya menambahkan, Koes Plus oleh Remaco dibayar per album Rp.15.000.000,- " Ini merupakan bayaran band paling tinggi di Indonesia. Bahkan para kuli tinta asing menjuluki Koes Plus sebagai The Golden Kids of Remaco (anak emas Remaco), tutur Kusyanto.

MENELISIK BISNIS REMACO DENGAN KOES PLUS

Menarik disini adalah menelisik cara bisnis Remaco dengan Koes Plus. Pertanyaannya jika bisnis azasnya adalah keadilan, adakah Koes Plus sudah memperoleh keadilan dalam melakukan proses bisnis dengan Remaco?. Jika satu album Koes Plus terjual 1 juta copy dengan harga per kaset Rp.700,- sehingga pihak label akan memperoleh pemasukan Rp.700 juta belum dipotong pajak, bea promosi dan pengeluaran lainnya. Jika per album Koes Plus hanya dibayar Rp.15.000.000,- apakah itu adil. Meski uang Rp.15.000.000,- itu jika dibelikan mobil Toyota Corolla bisa memperoleh 6 unit. Lalu penulis beranalogi, jika saja personel Koes Plus ada Nomo Koswoyo, sosok ini merupakan adik kandung Tonny Koeswoyo yang mengundurkan diri dari band Kus Bersaudara dan membentuk Band No Koes, kisahnya akan lain lagi tentunya. Nomo adalah figur jago bisnis dan seorang negosiator ulung. Jika ada Nomo di Koes Plus, " Remaco " bisa dibikin " bertekuk lutut ". Yon Koeswoyo pernah mengisahkan, betapa ia mengagumi sosok sang abang Nomo Koeswoyo dalam berbisnis karena dengan cerdik menjual per album Chicha Koeswoyo ke Remaco dengan harga tinggi sekali, kisah mas Yon penuh kekaguman. @ SS

 

KOMENTAR DISQUS :

Top