Indonesia English
Rabu, 10 Agustus 2022 |
Nasional - Hukum dan Kriminal

Anak Margriet Diperiksa, Gagal Bertemu Ibu Kandungnya

Jumat, 19 Juni 2015 21:41:05 wib - Komentar

Denpasar, (Banten88.com)- Penyidik Polresta Denpasar terus mengembangkan kasusu pembunuhan terhadap Engeline (8), bocah kelas II SDN, Sanur yang ditemukan tewas di dekat kandang ayam rumah orang tua angkatnya. Selain Agutinus Tai, penyidik sudah menetapkan orang tua angkat Engeline, Margrite sebagai tersangka.

Untuk melengkapi keterangan, kemarin penyidik melakukan pemeriksaan terhadap kakak angkat Engeline, yaitu Yvonne Caroline Megawe. Yvonne menjalani pemeriksaan sebagai saksi pembunuhan Engeline dengan tersangka Agus yang merupakan pembantunya. Dalam memberikan keterangannya, Yvonne dicecar sekitar 25 pertanyaan di Mapolresta Denpasar.

"Sudah kita lakukan pemeriksaan terhadap Yvonne, dia sudah memberikan keterangan dan tadi ada sekitar 25 pertanyaan yang ditanyakan penyidik," kata pengacara keluarga Margriet, Dion Pongkor, Denpasar, Bali, Jumat (19/6).

Dikatakan Dion, pertanyaan yang diajukan oleh penyidik di antaranya seputar apa yang dilakukan Yvonne dan keluarganya setelah mengetahui Engeline menghilang. Mereka mengaku mencari dan melapor ke Polsek Denpasar Timur (Polsek Dentim) pasca hilangnya Engeline. Dan dia tidak mengetahui peristiwa pembunuhan tersebut.

"Seputar soal upaya pencarian pasca-kehilangan Engeline, keterangan Yvonne sama seperti keterangan Margriet, ibu kandungnya yang mengatakan bahwa saat Engeline hilang, dicari tidak ketemu, dan dilaporkan ke polisi," ujarnya.

Yvonne, usai menjalani pemeriksaan sebagai saksi,  bergegas mendatangi Polda Bali untuk menemui ibunya. Ditemui wartawan, Yvonne tidak memberikan banyak keterangan, dia tidak menjawab sepatah katapun. Saat ditanya berapa pertanyaan saat memberikan keterangan, dia hanya menjawab singkat bahwa dirinya lupa.

Dua adik kakak putri Margrite Megawe, Yvonne dan Christina ternyata sesampainya di unit Reskrim Polda Bali tidak berhasil menemui ibunya. Hampir selama dua jam menunggu di ruang Direskrimum Polda Bali, keduanya gagal menemui Margriet, karena sejauh ini penyidik  belum memberi izin kepada siapapun untuk bertemu Margrite.

Mendapat perlakukan petugas seperti itu, Yvonne mengaku kecewa karena tidak bisa bertemu dengan ibunya. Keduanya terlihat menangis, Yvonne menutup mukanya dengan kedua belah tangannya, sementara Christina hanya bisa menahan tangis dengan mengoyang-goyangkan badannya agar tidak terlihat kesedihannya.

"Pasti saya kecewa saya,  kami kecewa tidak diperbolehkan masuk, saya ingin bertemu dengan ibu saya," ujar Yvonne kepada sejumlah wartawan.

Kepada wartawan, Yvonne mengaku hanya ingin bertemu atau sekedar memeluk ibunya saja, karena dia mengkhawatirkan kondisi ibunya. Kedua anak Margriet ini mengaku  sudah tidak bertemu sejak ibunya ditahan Polda Bali 6 hari lalu. "Hampir satu minggu kita sudah tidak bertemu sejak ditahan pertama kali di Polda," urainya.

Karena tidak diperbolehkan bertemu, kuasa hokum Margrite, Dion Pongkor, yang juga menjadi juru bicara Hotma Sitompoel Assosiates mengatakan, peristiwa itu sudah melukai dan telah terjadi pelanggaran hak asasi tersangka. Tersangka memiliki hak untuk bisa bertemu dengan keluarga dan pengacaranya.

"Ini yang menjadi pertanyaan, kita tidak tahu kenapa tidak boleh, karena hari besuk Bu Margriet pada Selasa dan Jumat, dan kita sudah janjian hari ini,"katanya.

Menurut Dion, sebelumnya dia sudah berkoordinasi dan kooperatif selama pemeriksaan yang dilakukan terhadap kliennya. "Katanya alas an petugas rapat, kita kan bertemu dengan Bu Margriet bukan ketemu Direkturnya, kita akan pikir-pikir dulu untuk menyampaikan somasi, nanti kita akan bahas dulu," pungkasnya.(Dang)

KOMENTAR DISQUS :

Top