Indonesia English
Senin, 20 Mei 2019 |
Peristiwa

ANGIN PERUBAHAN TIBA KOES PLUS TAK LAGI MERAJAI PASAR KASET

Minggu, 10 Maret 2019 19:24:32 wib - Komentar
KOES PLUS.

Oleh : Seno Supono

SEJAK 1970 hingga 1978 bisa dikatakan super group Koes Plus merajai pasar kaset Indonesia. Kami generasi Bunga (bukan generasi Milenial) merasa sangat bahagia bisa menjadi saksi hidup tentang kedahsyatan dan kedigdayaan band besar Koes Plus  yang digawangi oleh sang maestro Tonny Koeswoyo, kemudian sosok pintar dan rendah hati Yon Koeswoyo, lalu pribadi cerdas dan nyentrik Yok Koeswoyo serta seniman multi talenta Murry. Diluar Koes Plus ada Nomo Koeswoyo drumer Kus Bersaudara 1962 dan 1977 dikenal sebagai figur cerdas,  tegas, pemberani dan piawai berbisnis. Ia adalah leader band No Koes yang ketenarannya membayang - bayangi Koes Plus dan Direktur Operasi pabrik piringan hitam raksasa kedua setelah Remaco yakni Yukawi Indomusik dan pengorbit group band seperti Kembar Group, Topan Group  imitator Koes Plus), Nobo  (imitator Bimbo), OM (Orkes Melayu) Soneta Group, duo folk & country Franky & Jane, Enny Haryono, Henny Purwonegoro dll nya. Nomo adalah adik Kandung Tonny dan abang kandung Yon dan Yok.

Tahun 1979 itu, Koes Plus usai merilis album dengan judul " Aku dan Kekasihku". Di album ini banyak nian lagu hebat baik dari sisi aransemen musik, penulisan lyrik dan penataan vocal  yang resik, kompak dan rapi. Jika ditelaah dengan seksama,   menampakan betapa  istimewanya

album ini karena Koes Plus

telah mencapai kedewasaanya dalam bermusik. Album ini bertaburan lagu dahsyat macam

 " Berdiri Disini ", " Kelapa Hitam ", "  Bilang ", " Menyusuri Jalan ", " Malam Minggu ", " Diakhir yang Dini " dan" Bukalah Hatimu ".

Lagu -lagu di album ini mayoritas ditampilkan dalam beat yang cepat atau masuk kategori musik keras dan rancak atau istilahnya musik dengan pukulan yang keras (hard beat). Namun apa yang terjadi di pasar kaset, album hebat ini gaungnya kurang dahsyat tak seperti album - album Koes Plus sebelumnya yang selalu terjual antara 500 ribu hingga 1 juta kaset. Padahal untuk

mendongkrak pemasaran album, pihak Purnama Record memasang iklan seluas 1/2 halaman koran di surat kabar sore Sinar Harapan.

Namun suka tidak suka, mau tidak mau yang abadi didunia ini adalah perubahan. Dan angin perubahan itu telah tiba. Selera pecinta musik pop telah bergeser dari semula mengidolakan group band kini beralih ke penyanyi solo. Termasuk fenomena baru hadirnya teknologi MIDI (Musical Instrument Digital Interface) dipelopori Fariz.RM dan musikalisasi puisi Ebiet G.Ade yang mengguncang blantika musik pop. Promosi yang tidak gencar menyebabkan mega karya ini kurang diminati pecinta musik pop. Untuk mengetahui faktor apa saja yang akhirnya membuat Koes Plus tidak lagi sebagai pemimpin pasar kaset, penulis merangkum berbagai pendapat dan juga analisa  dari sumber yang kredible dan kompeten dalam bidang ilmu dan seni tentang band

legendaris Koes Plus. Berikut paparannya. :

IR.WASIS SUSILO, MM (Ketua Ormas Jiwa Nusantara  atau JN  2004 - 2007) : Trend penyanyi solo pernah terjadi ditahun 1960 an. Kemudian pada akhir tahun 60 an,

trend group musik mulai menggeliat dipelopori oleh Kus Bersaudara, Koes Plus dan Panbers serta sekumpulan pencipta lagu yang tergabung dalam band Favourites Group dan seterusnya. Tahun 1970 adalah era keemasan group musik. Namun di akhir 1970, terjadi perubahan style musik dengan peralatan lebih modern dengan munculnya MIDI yang dipelopori Fariz RM dan Gank Pegangsaan serta musik semi orkestra dalam album " Badai Pasti Berlalu ". Demikian pula 5 group papan atas popularitasnya mulai surut.

(Catatan penulis : 5 super group Remaco tsb yakni Koes Plus, The Mercys, Panbers, Trio Bimbo &;Iin Parlina serta Dlloyd. Jika boleh ditambahkan ada The Favourites Group). Seiring dengan itu, masih urai Wasis, selera masyarakat mulai menengok ke penyanyi solo seperti Eddy Silitonga, Ade Manuhutu, Diana Nasution, Rafika Duri, Christine Panjaitan hingga Ebiet G.Ade hingga epigonnya.

(Catatan penulis : Salah satu epigon atau peniru Ebiet adalah penyanyi Endar Pradesa dari Sukabumi dengan hits nya " Wulandari ".  Lebih lanjut Wasis membeberkan, masuknya musik progresive seperti lagu - lagu Crisye, 2 D (Dedi Dhukun dan Dian Pramana Putra) bahkan The Mercys pun harus bermetamorfosa menjadi band pengiring penyanyi solo dengan nama Lolly Pop. Sementara Koes Plus mulai menyurut setelah gagal

dalam penjualan album " Koes Plus in Folk Song dan Koes Plus in Concert ". Selanjutnya Tonny Koeswoyo dan Presdir Remaco, Eugene Timothy bersiasat menghidupkan kembali Koes Bersaudara 1977. Muncul sebentar dengan hits " Kembali ", " Nuswantoro " dan " Baju Merah ". tapi tak tertolong di album " Semua Sama ". Bahkan Remaco bangkrut karena kehabisan biaya untuk memonopoli lisensi penyanyi dan musisi Barat serta melawan pembajak dengan jurus menjual kaset seribu rupiah pembeli dapat 3 kaset produksi Remaco. Hal ini menyebabkan Remaco berhutang pada Purnama Record. Untuk menutup hutang maka Remaco membayar dengan  10 album Koes Plus ke Purnama.

(Catatan penulis : 10 album tsb dengan judul Glodog Plaza Biru, Bersama Lagi, Melati Biru, Cubit - Aku dan Kekasihku, Melepas Kerinduan, Berjumpa Lagi, Jeritan Hatiku, Sederhana Bersamamu serta 2 album Pop Melayu " Cubit - cubitan " & " Angin Bertiup ".

Ungkap Wasis lagi, selanjutnya Koes Plus mencoba bertahan dengan mengikuti trend musik seperti album " Badai Pasti Berlalu " dengan menampilkan album semi orkestra dengan melibatkan arranger Yanuar Ishak dalam album " Berjumpa Lagi ". Namun dari seluruh penjualan album, hanya " Cubit - cubitan dan Bersama Lagi " yang bisa menembus angka diatas 500 ribu copy kaset. Kemudian penjualan album Koes Plus agak lumayan juga terjadi pada album Da Da Da.

(Catatan penulis : Ketika album Da Da Da dirilis pada 1983, penulis sedang kuliah di Bandung. Lagu " Da Da Da " dan " Ombak Kecil Dipantai " termasuk yang sering diudarakan radio - radio di Bandung). Tapi selebihnya, masih urai ketua JN periode pertama ini, album Koes Plus hanya dikonsumsi penggemar Koes Plus saja. Sementara masyarakat umum lebih menggandrungi penyanyi solo pendatang baru yang lebih segar dengan aransemen yang dipengaruhi Barat. Sedangkan kemunculan musik dangdut telah memecah segmen industri musik Indonesia dengan berbagi kue antara musik melayu dan musik pop. Trend anggota group musik yang bersolo karier juga diikuti personel Koes Plus. Misal Yon Koeswoyo dengan album solo " Lantaran "  bekerjasama dengan Harry Cahyono. Lalu Yok Koeswoyo melalui " Nyanyian Hitam ". Demikian pula Murry menyibukan diri mengorbitkan penyanyi Yayuk Suseno dan Nia Zulkarnain. Sementara Tonny menangani album solo karier dan mencoba mengangkat nama seorang pelawak Srimulat, Mudayat. Tapi upaya itu tak sepenuhnya berhasil kalah dengan Gombloh, Dian Piesesha, Nia Daniaty, Helen Sparingga, Betharia Sonata, Obie Mesakh dll nya. Demikian Wasis Soesilo.

(Catatan penulis : Setelah solo album Yon Koeswoyo berjudul " Lantaran"  muncul solo album Yon lainnya " Bunga Nan Cantik ", " Dekik Pipimu", " Gara - gara Hujan " , " Surat Kedua " kemudian , " Duit "  solo album Pop Jawa dll nya. Sedangkan Yok Koeswoyo dalam " Nyanyian Hitam " berkolaborasi dengan novelis Teguh Esha yang melegenda dengan karya novel amat tenar di paruh 70 an berjudul " Ali Topan Anak Jalanan ". Album solo Yok selanjutnya adalah " Kasihku " dan " Cinta Terakhir " sedangkan kerjasama Yon dan Yok diluar Koes Plus menampilkan album " Kembara ".

IR.AGUSTA MARZHALL (Ketua JN periode II (2004 - 2007) dan leader band pelestari T.Koes : Saya sering menyebut album Koes Plus 1979 " Aku dan Kekasihku " sebagai album " Koes Plus in Hard Beat volume 3" sedangkan album " History of Koes Brothers " menjadi album " Koes Plus in Hard Beat Volume 4 ". Karena di album ini terkesan diisi dengan lagu - lagu dengan beat keras. Album Koes Plus 79 " Aku dan Kekasihku " menyisakan vocal mas Yon dan gitaran mas Tonny yang masih bisa kita tengarai, bahwa itu album Koes Plus. Selebihnya " seolah - olah " musisi

lain yang penuh skill, itu kesan saya terutama " lick" drum pak Murry bermain sangat tangkas dan berkelas. Sepertinya di album ini, pak Murry pantas menyandang gelar sebagai " the best drummer "

menutup puncak kreasinya di Koes Plus setelah di tahun 1969 membuka debutnya di blantika musik pop bersama Koes Plus dengan album " Dheg - dheg Plas "

yang fenomenal dengan gebrakan pukulan drum yang menghentak dan mengejutkan penikmat Kus Bersaudara. Lyrik disemua lagu album " Aku dan Kekasihku " inipun indah, sarat makna dengan penataan kata - kata yang tak seperti pada lagu - lagu Koes Plus biasanya. Keseluruhan arransemen pun terkesan " agak nakal " dengan dimasukan beberapa alat musik yang tak pernah ada di album Koes Plus sejak awal yaitu : Perkusi conga yang hampir ada disemua lagu juga alat tiup harmonika pada lagu " Bilang " yang asing bagi telinga para fans Koes Plus tapi sangat pas secara komposisi. Bagi saya di album ini hanya lagu " Malam Minggu " karya pak Murry yang " meng Koes Plus ". Namun sayang 1979 adalah seperti penurunan bagi Koes Plus. Album ini tidak dilirik masyarakat bahkan video clip nya pun nyaris tak nampak di TVRI seperti biasanya. Jadi praktis album ini seperti hilang tak berkumandang. Ditambah lagi 1979 adalah munculnya musikalisasi puisi Ebiet G Ade yang terbukti mampu  menghentikan banyak karya musik

lain pada waktu itu termasuk yang legend yakni Koes Plus. Itu sekilas yang saya lihat tentang album bagus Koes Plus 79 " Aku dan Kekasihku ". Saya sebagai musisi secara pribadi sangat mengapresiasi album ini. Saya sebagai musisi harus angkat topi dengan karya Koes Plus di album tsb. Demikian analisa Agusta Marzhall yang juga berpendidikan " Membaca Perilaku Manusia " atau semacam " Human Behavior " dari salah satu universitas di Jerman.

(Catatan penulis : Jika Agusta Marzhall mengatakan bahwa Murry sebagai " the best drummer), maka penulis menyematkan gelar bahwa Murry di jalur musik pop adalah sang Kaisar Drum Republik Indonesia. Penulis belum bisa " menyatu " dengan lagu - lagu Ebiet G. Ade seperti remaja di era 80 an, karena menurut penulis, lagu Ebiet  seperti serial " Camelia" atau" Cinta di Kereta Biru Malam " telah " mengalahkan " album hebat milik Koes Plus produksi Purnama Record seperti " Aku dan Kekasihku ", " Melepas Kerinduan ", " Berjumpa Lagi ", " Jeritan Hatiku " dan " Sederhana Bersamamu ". Bagi penulis yang merupakan fans fanatic Koes Plus,

mendengar lagu Ebiet terasa menelan pil pahit karena mengingatkan " kekalahan " Koes Plus di pasar kaset di era 80 an. Namun dalam percakapan Agusta Marzhall dengan Ebiet G.Ade seperti yang Agusta tuturkan pada penulis bahwa mas Ebiet tak pernah berfikir sekalipun atau merasa menundukan musik Indonesia pada awal debutnya. Apalagi dengan Koes Plus. Karena mas Ebiet adalah salah satu pengagum dan sangat hormat kepada Koes Plus, tutur Agusta pada penulis.

TJETJEP ROSADI (Ketua JN periode III (2011 - 2013) : Terkait album Koes Plus " Aku dan Kekasihku " yang tidak " booming ", mungkin karena album tsb muncul tiba - tiba. Masyarakat sedang asyik dengan album Koes Plus 78 "  Melati Biru " dan " Cubit - cubitan ". Proses penciptaan lagu terkesan terburu - buru karena kejar target. Jumlah produksi kasetnya terbatas. Nama pencipta lagu tidak disebutkan per personel namun hanya ditulis KOES PLUS saja, ini mungkin salah satu pengaruh terhadap minat pembeli. Saya tidak tahu apakah itu album Koes Plus 1979 atau bukan karena hanya tertulis " Koes Plus Aku dan Kekasihku ", ungkap kang Tjetjep Rosadi, yang juga kolektor nomor wahid seluruh album Kus Bersaudara dan Koes Plus dan dokumentator majalah musik dan film di era 70 an.

(Catatan penulis : Para fans Koes Plus seperti menanggung beban psikologi terhadap lagu baru. Misal kami sedang menyenangi  album Koes Plus volume 8, tiba - tiba secara beruntun muncul album baru Koes Plus volume 9, 10, 11, 12 dst dalam hitungan bulan. Padahal romantika dengan album volume 8 masih berlangsung indah dan enggan berpisah).

M. NATSIR NOOR EFFENDY, SH, M.Si, Ketua Pengwil JN Jateng & DIY (Semarang) : Faktor kurang optimalnya promosi album Koes Plus " Aku dan Kekasihku " menjadikan album ini kurang diminati. Karena sebelum - sebelumnya setiap album baru Koes Plus selalu diiklankan di TVRI dan radio - radio. Keberhasilan Koes Plus dalam album terdahulu mulai ditiru dan ini memicu kompetisi group band yang terus menjamur kemunculannya dengan beat yang sama.

AGUS SCUDETTO leader band Pelestari Scudetto dan Pelangi (Cimahi) :

Album " Aku dan Kekasihku ", sangat dahsyat. Pak Murry meng " explore " pukulan drum nya. Musiknya rancak terutama buat penggemar fanatik. Album Koes Plus 78 " Melati Biru "  adalah merupakan puncak kejayaan Koes Plus. Namun setelah era itu, popalaritas Koes Plus sedikit demi sedikit tergerus popularitas para solois dengan lagu balada maupun disco. Namun Koes Plus terus berkarya antara lain dengan album " Berjumpa Lagi " yang menggandeng musisi Yanuar Ishak. Setelah itu " Aku dan Kekasihku " lalu " Si Upik ". Tapi penggemar musik di tanah air diluar penggemar sejati Koes Plus sudah bergeser pada Ebiet, Chrisye dll nya. Maka tak heran setelah sekian lama dijejali lagu Koes Plus, orang ingin beralih untuk menerima warna musik lain. Tak meledaknya album Koes Plus " Aku dan Kekasihku " bukan berarti kualitas Koes Plus turun. Karena saat itu orang sudah jenuh, ingin menikmati yang lain, tutur kang Agus Scudetto.

PURWANTO YOHANES, fans Koes Plus ( Purwokerto) : Haduh, pada era itu banyak bermunculan group band baru yang sedang produktif serta banyaknya Radio swasta dan banyak penggemarnya dan lebih ke musik dangdut  ketika Koes Plus tak lagi merajai pasar kaset.

DRS. HARRY ISTANTA, leader band Pelestari Hass Pluzz Bekasi : Tidak meledaknya album Koes Plus " Aku dan Kekasihku " mungkin karena beda genre musik yang sedang trend kala itu. Biasanya musik Koes Plus itu romantis, tiba - tiba muncul album " Aku dan Kekasihku " yang sangat nge Hard Beat, jadi masyarakat belum begitu akrab dengan jenis musik itu, ungkap Hari Istanta yang juga Caleg Perindo dari kota Bekasi.

KHOLIQ, S.Pt, pemain band Pelestari Koes Plus (Sumedang) :

Koes Plus tak lagi menguasai pasar musik, mungkin sudah mulai menjamurnya musisi baru. Aneka warna musik baru memberi banyak pilihan bagi konsumen. Misal Lomba Cipta Lagu Remaja (LCLR), Ebiet G.Ade, lagu - lagu karya Rinto Harahap, Chaseiro dll nya. *

 

KOMENTAR DISQUS :

Top