Indonesia English
Senin, 21 Januari 2019 |
Kesehatan

Antraks Bisa Disembuhkan, 90 Persen Menyerang Kulit

Senin, 23 Januari 2017 00:43:22 wib - Komentar
Foto: ilustrasi/thinkstock

Yogyakarta, (Banten88.com):  Penyakit antraks pada manusia dapat disembuhkan dengan penanganan yang tepat. Antraks bisa menyerang kulit, saluran cerna dan saluran pernapasan.

"Bisa disembuhkan. Hampir 90 persen Antraks menyerang pada kulit," tegas dr Abu Tholib SpMK, MSc, PhD dari Departemen Mikribilogi, Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Gadjah Mada (UGM) kepada wartawan saat menanggapi kasus Antraks di Kulonprogo, Sabtu (21/1/2017).

Abu mengatakan dari 90 persen yang menyerang kulit tersebut, sekitar 99 persen akan sembuh. Sedangkan 1 persen yang meninggal dunia.

"Ada berbagai jenis antraks dan 90 persen menyerang di kulit. Yang meninggal itu biasanya kena paru atau organ lain," katanya.

Menurut Abu penularan antraks melalui udara. Dalam kasus di banyak negara, antraks tidak langsung menyebabkan kesakitan. Dengan terkena paparan sekitar 8 ribu spora, namun tidak terjadi apa-apa. Sebab ketika masuk terhirup melalui hidung, lendir di saluran pernapasan yang akan menetralisir.

"Tubuh manusia itu secara alami juga sudah punya alat untuk melawannya. Biasanya yang terparah yang menyerang pernapasan, itupun dengan catatan 10 ribu spora dalam sekali paparan. Antraks juga bisa disembuhkan dengan memberikan obat antibiotik," katanya

Sementara itu Ketua Tim Respons Cepat Waspada Antraks, dr Riris Andono Ahmad, MPh, PhD menambahkan antraks tidak serta merta menyebabkan kematian karena berdasar pengalaman sebelumnya, banyak kasus yang bisa disembuhkan. 

Terkait kabar pasien anak meninggal di RSUP Dr Sardjito akibat bakteri antraks, Kepala Pediatric Intensive Care Unit (PICU) dr Noornaningsih SpA (K) menjelaskan saat perawatan anak tersebut mengalami infeksi otak, demam, kejang dan penurunan kesadaran. Tim medis PICU selanjutnya melakukan terapi untuk penanganan infeksi otaknya serta melakukan pengambilan sampel cairan otak.

Sejak masuk ke RSUP Dr Sardjito, pasien tidak memiliki respons nafas dengan baik. Sehingga pasien dipasangi ventilator atau alat bantu pernafasan sejak masuk IGD serta diberikan antibiotik yang sesuai. Tak hanya itu, dilakukan pula cek laboratorium.

Selama rawat inap, dilakukan CT Scan pada pasien tersebut. Dari CT scan diketahui bahwa ada kelainan di kepala berupa infeksi otak. 

Dalam perawatan 6 hari tersebut, tidak ada tanda-tanda perbaikan dan pada 6 Januari 2017 anak tersebut meninggal dunia. Dari hasil laboratorium darah (kultur) yang hasilnya baru keluar setelah pasien meninggal, menunjukkan adanya infeksi bakteri.

"Sehingga selama dalam perawatan pasien ini didiagnosa menderita meningitis (radang otak). Sedangkan hasil tes kultur yang memang dalam pengecekannya cukup lama, diperoleh bakteri Bacillus anthracis," jelasnya. (Sumber : Detik.com)

LAINNYA

KOMENTAR DISQUS :

Top