Indonesia English
Selasa, 25 Juni 2019 |
Politik

ARDHYA PRATIWI PUTRI JENDRAL DJOKO SANTOSO BERTARUNG DI JAWA BARAT

Sabtu, 13 April 2019 08:48:59 wib - Komentar
ARDHYA Pratiwi Setiowati, SE, MSc

KUNINGAN, (Banten88.com) : ARDHYA Pratiwi Setiowati, SE, MSc putri Panglima TNI era pemerintahan Presiden SBY, Jendral TNI Djoko Santoso (Djoksan) saat ini tampil sebagai Caleg Gerindra DPR RI periode 2019 - 2024 dari Dapil X Jabar meliputi Kabupaten Kuningan, Kabupaten Ciamis, Pangandaran dan Kota Banjar.

Rabu (10/4/2019) bertempat di Baraya Convention Hall Kabupaten Kuningan, Ardhya Pratiwi didampingi Eka Satria Ramadhan, ST, MBA Caleg Gerindra DPRD II Kuningan menjalin silaturahmi dengan kader, relawan dan simpatisan Gerindra yang jumlahnya diperkirakan mencapai 800 orang.

Ardhya memiliki latar belakang seorang akademisi. Ia dosen di Universitas Indonesia dan Universitas Trisakti Jakarta. Bergelar S.2 dari Perancis dan  kandidat Doktor Ilmu Politik dan Ilmu Ekonomi dari salah satu universitas di Milan, Italia.

Menjawab pertanyaan media cyber Banten88.com, apa yang melatarbelakangi dan memotivasi berjuang sebagai Caleg DPR RI dari Dapil X Jabar ?. Ia jawab, ayahnya  Jendral (Purn) Djoko Santoso adalah putra Solo, Jawa Tengah sedangkan ibunya Angky R. Yudianti asli orang Bandung. " Jadi saya punya darah Sunda juga," ungkapnya pada Banten88.com.

Faktor lainnya adalah sudah 2 periode di Dapil X Jabar belum ada keterwakilan Gerindra, sehingga ini merupakan tantangan bagi saya dan kepercayaan yang diberikan Bapak Prabowo Subianto kepada saya dan Insya Allah akan saya ciptakan keterwakilan Gerindra di Dapil Jabar X, ujarnya optimis.

" Saya bukan type caleg pengobral janji. Jika diibaratkan saya adalah merpati. Sebagai wakil masyarakat tugas utama saya adalah mendengarkan keluhan serta keinginan masyarakat itu apa ?.Dan harus saya perjuangkan utamanya berjuang dibidang ekonomi dan sosial," tegasnya.

Dihadapan sekitar 800 massa Gerindra, Ardhya mengatakan, saya dan Eka Satria Ramadhan sebagai pemuda Indonesia,  tidak bisa menawarkan masa lalu, tapi kami bisa menawarkan masa depan." Kami berdua sudah mewakafkan waktu, tenaga dan pikiran untuk umat demi kemajuan rakyat, bangsa dan negara," tuturnya.

" Pesan dari ayah saya Jendral Djoko Santoso yang juga sebagai Ketua Badan Pemenangan Nasional Prabowo Subianto - Sandiaga Uno, bahwa kita tidak boleh lengah karena kalau kita lengah, kita menjadi lemah. Kalau kita lemah maka kita akan kalah. Kalau kita kalah, akan menderita sampai ke anak cucu," Demikian pesan sang jendral kepada putri yang dibanggakannya.

TAK BUTUH PEMIMPIN SUKA JANJI

Dalam orasi politiknya, Ardhya kandidat Doktor Ilmu Politik dan Ilmu Ekonomi ini kembali memaparkan, Indonesia ketika didirikan oleh para pendiri bangsa sepakat membentuk negara berbentuk Republik. Yang dimaksud dengan Republik artinya menuju kepentingan public atau kepentingan rakyat Indonesia seluruhnya bukan hanya kepentingan sebagian saja.

Pada hakekatnya ketika ada kebijakan - kebijakan pemerintah yang justru merugikan atau men dzolimi rakyat, sesungguhnya kebijakan tersebut telah mengkhianati para pendiri bangsa. Kebijakan itu telah mengkhianati konstitusi kita.

Ingat tahun 2014 ketika ada Pilpres, salah satu Capres berjanji akan menciptakan 10 juta lapangan kerja. Tapi ternyata setelah saya berkeliling dan berdialog dengan masyarakat di Dapil Jabar X sampai ke pelosok - pelosok, semua memiliki jawaban yang sama dengan jawaban bapak dan ibu disini, bahwa memperoleh pekerjaan semakin sulit.

Mengapa hal ini bisa terjadi ?. tanya Ardya kepada audiens. Lalu ia jawab, hal ini disebabkan adanya kebijakan pemerintah yang justru memudahkan tenaga kerja asing untuk masuk dan merampas lapangan pekerjaan rakyat Indonesia.

Demikian pula soal hutang luar negeri yang naik terus menerus. Kita akui, masih ungkap Ardya, Indonesia memang membutuhkan pembangunan infrastruktur. Tapi setelah diteliti oleh Bank Dunia, ternyata infrastruktur di Indonesia yang dibangun dengan dana pinjaman dari luar negeri, kualitasnya rendah karena persiapan kurang matang.

Terkait soal swasembada pangan yang artinya kita tidak import pangan dari luar negeri. Tapi import pangan kita naik atau turun? tanya Ardhya lagi lalu audiens menjawab "naik".

Lebih sedih lagi import beras secara massive atau besar - besaran terjadi saat petani panen padi. Juga terjadi impor gula besar - besaran ketika petani sedang panen tebu. Ini ironis karena kebijakan pemerintah kita justru menguntungkan petani Thailand dan Vietnam.

" Pemilu tinggal 7 hari lagi atau istilah dalam sepak bola waktu yang sangat genting atau injury time. Mari kita rapatkan barisan, samakan langkah, luruskan niat. Semoga perjuangan kita di Ridhoi oleh Allah SWT.Amin,".

Demikian antara lain orasi politik kandidat Doctor Ilmu Politik dan Ekonomi yang juga Caleg Gerindra DPR RI dari Dapil X Jabar, Ardhya Pratiwi Setiowati, SE, MSc yang didampingi Caleg DPRD II Kuningan, Eka Satria Ramadhan, ST, MBA. (SS)

KOMENTAR DISQUS :

Top