Indonesia English
Jumat, 17 September 2021 |
Nasional - Kesehatan

BANDUNG KOTA PENUH ROMANTIKA

Rabu, 14 Juli 2021 19:27:36 wib - Komentar

Bandung (Banten88.com) : SAYA ke Bandung tahun 1981 selepas menamatkan SMA dikota Salatiga (Jateng) guna kuliah selama 5 tahun mengambil jurusan Ilmu Administrasi Negara.  Kampus saya dikawasan  Margahayu, Soreang, Kabupaten Bandung.

Tak saya sangka ternyata dikawasan itu tinggal teman satu HD (Hemodialisa) atau cuci darah yakni bang Nanda (Alm).   Beda Bandung dengan Jakarta meski sama-sama kota Metropolitan, Jakarta adalah kota "yang tidak punya hati". Prinsip hidup di Jakarta yang elu-elu, gue-gue sepertinya sudah mendarah daging.
Ini berbeda dengan Bandung, suasana ramai dan gagahnya Jalan Asia Afrika yang membentang dari Cicaheum hingga Rajawali, dibaliknya adalah perkampungan asri yang sangat memelihara Budaya Sunda yang dikenal bernilai tinggi.
Apakah kita ada di Antapani, Cicadas, Andir, Dago, Cieumbeleuit, Sukajadi, semua menyambut saya ramah dan bersahabat.
Tanah Parahyangan seperti lagu Dian Piesesha dalam album Pop Sunda dikatakan kawasan subur dan makmur.
Bahkan seorang Pastor MAW Brouwer, ia sangat mengagumi bumi Parahyangan. Dalam koran Pikiran Rakyat ia menulis "Tuhan Tersenyum saat menciptakan Bumi Parahyangan".
Sementara leader band legendaris Koes Plus Tonny Koeswoyo mendiskripsikan keberadaan putri parahyangan sbb :
Putri Parahyangan berselera manja/Mengundang rasa/Putri Parahyangan/ Senyum di bibirmu terkenang selalu.
Bandung memang dikenal putrinya yang geulis-geulis, sehingga di tahun 80 an itu ada sandal terbuat dari kayu namanya Kelom Geulis buatan Tasikmalaya.
Bandung memang kota metropolitan, namun kota ini menjadi sangat istimewa karena kesungguhan seluruh warganya yang memelihara Budaya Sunda dengan sentuhan ramah tamah serta konsisten memelihara nilai2 kultural dari leluhur yang sarat filosofi serta hangat menyambut tamu. Sehingga Pemprov Jabar punya semboyan atau tagline "Gemah Ripah Repeh Rapih".
MENULIS SEMUA BIDANG
Sambil kuliah, saya sudah menjadi wartawan koran Sentana terbitan Jakarta untuk liputan Bandung.
Sebagai wartawan daerah, kami dituntut harus bisa menulis berbagai liputan seperti Politik, Ekonomi, Kesejahteraan Sosial, Hukum, Kriminal hingga seni Sunda.
Dari sinilah saya berteman baik dengan Budayawan Sunda kang Tjetje Hidayat Padmadinata, kang Gugum Gumbira Tiro Sonjaya, seniman Sunda abah Baun Gazali yang sering membintangi film bertema sejarah hingga pengacara Ali Angga Kusumah.
Sedangkan kang Gugum adalah teman sekampus. Bedanya saya ditingkat akademi, kang Gugum ditingkat doktoral.
PILEULEUYAN
Namun sesuatu yang sangat saya khawatirkan tiba, tahun 1988 saya harus alih tugas ke Jakarta. Sungguh berat nian rasanya harus meninggalkan Bandung kota yang penuh romantika.
Lalu samar2 terdengar lagu Pileuleuyan ciptaan seniman besar Sunda Mus K Wirya dengan petikan lyrik sbb :
HAYU batur hayu batur urang kumpul sarerea/Hayu batur hayu batur urang sosonoan heula.
Pileuleuyan pileuleuyan sapu nyere pegat simpay/
Pileuleuleuyan pileleuyan paturay patepang deui/
Amit mundur amit mundur amit ka jalma nu rea/ Amit mundur amit mundur kuring teh bade ngumbara.
Akhirnya kereta Parahyangan mengantarkan saya dari Bandung  ke Jakarta. Kota yang penuh persaingan, target, tantangan kerja serta ambisi2.
Sebagai jurnalis beban tugas saya semakin beragam dan menantang.
Wawancara mulai tingkat menteri, politisi di DPR, pimpinan Parpol dan musisi tenar seperti Tonny Koeswoyo (Koes Plus), Benny Panjaitan (Panbers), Reynold Panggabean dan Rinto Harahap (The Mercys), Nomo Koeswoyo (No Koes), top drumer rock Jelly Tobing hingga Hetty Koes Endang dan Iin Parlina (Trio Bimbo).
Bersamaan dengan itu saya juga aktif meliput bidang Pariwisata.
KETIMPA KONTAINER
Namun yang lebih memilukan adalah pada 2019 ketika saya menengok cucu ke Kuningan, Jawa Barat. Sampai  rumah anak saya, tiba-tiba saya muntah sekali. Esoknya muntah 2 kali. Lama2 muntah sehari 15 kali.  Lalu saya memeriksakan diri ke dokter legendaris pakar penyakit dalam, dr. Andreas Sigit Ladrang. Beliau katakan, ginjal saya sudah hancur dan saya harus cuci darah.
Mendengar itu, badan saya seperti ditimpa truk container. Dunia serasa berhenti berputar.  Dan kini saya sudah dua tahun menjadi pasien cuci darah. (Seno Supono).

KOMENTAR DISQUS :

Top