Indonesia English
Minggu, 29 Maret 2020 |
Ekonomi dan Bisnis

Banten Segera Bentuk Badan Usaha Milik Rakyat

Selasa, 24 Oktober 2017 18:37:11 wib - Komentar
Sosialisasi korporasi pertanian di Aula Dinas Pertanian dan Perternakan Provinsi Banten di Serang, Selasa (24/10/2017).

Banten,(Banten88.com): Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten melalui Dinas Pertanian & Peternakan (Distanak) Banten  segera membentuk satu badan usaha milik petani atau badan  usaha milik rakyat (BUMR) sebagai salah satu percontohan di Banten untuk dikembangkan di delapan Kabupaten/Kota.

“Tujuan dari pembentukan korporasi pertanian ini, dalam upaya memberikan nilai tambah bagi petani. Kalau selama ini, petani Banten menjual gabah, maka tidak ada nilai tambah. Tetapi, kalau menjual beras yang sudah dikemas, itu ada nilai tambah bagi petani Banten,” kata Kepala Distan dan Perternakan Provinsi Banten, Agus Tauchid usai sosialisasi korporasi pertanian di Aula Dinas Pertanian dan Perternakan Provinsi Banten di Serang, Selasa (24/10/2017).

Menurutnya, program korporasi petani ini merupakan program yang disampaikan Presiden Joko Widodo pada saat rapat terbatas dengan para Gubernur dan Bupati/Walikota beberapa waktu lalu. Oleh karena itu, Distan Banten segera menindak lanjuti hasil rapat terbatas tersebut dengan segera membentuk kluster badan usaha milik petani untuk tingkat Provinsi.

“Kami akan buat satu aja dulu sebagai percontohan. Nanti Kabupaten/Kota bisa mengikuti sesuai dengan potensinya masing-masing,” ujar Agus Tauchid dalam sosialisasi yang menghadirkan komisaris BUMR pangan yang sudah berhasil dari Sukabumi, Luwarso.

Agus mengatakan, 60 persen lebih petani di Banten adalah petani penggarap, sengingga tidak ada nilai tambah karena hanya menjual gabahnya setelah panen. Namun, jika dibentuk korporasi petani, bisa ada nilai tambah.

“Kalau selamanya petani jual gabah, maka tidak ada nilai tambah. Untuk itu, korporasi petani di Banten harus terwujud. Di Banten ada sekitar 204 ribu hektare persawahan,” tutur Agus.

Menurutnya korporasi petani tersebut nantinya dengan cara memberdayakan koprasi-koprasi dan UMKM pertanian yang dikelolah secara profesional dengan manajemen perusahaan yang kepemilikanya oleh petani atau rakyat serta pemerintah hanya memberikan regulasinya.

“Hari ini , kami menghadirkan BUMR Pangan dari Sukabumi yang beberapa waktu lalu dikunjungi Presiden. Targetnya pak Presiden akan membentuk 65 BUMR yang sama, namun kemudian ditambahkan menjadi sekitar 1000 BUMR secara nasional,” ucapnya.

Dikatakan Agus, potensi BUMR di Banten cukup besar terutama di empat Kabupatan yang memiliki potensi pertanian, yakni di Kabupaten Serang, Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Lebak dan Kabupaten Tangerang.

Asisten Daerah Bidang Ekonomi Pembangunan (Asda II) Pemprov Banten Ino S Rawita yang hadir dalam kesempatan itu mengatakan, Pemprov Banten memiliki potensi yang besar untuk pembangunan badan usaha milik rakyat tersebut.

Menurutnya, pihaknya mengajak BUMN dan BUMD di Banten untuk memberikan dukungan terhadap pembangunan petani tersebut.

“Petani harus jadi bos-bosnya perusahaan, bukan menjadi kulinya. Mudah-mudahan ini menjadi program unggulan di Banten,” terang Ino S Rawita.

Sementara itu, Komisi BUMR Pangan Sukabumi Luwarso mengatakan, Banten memiliki potensi yangcukup besar jika dilihat dari demografi dan luasan lahan pertanian, jika akan dibentuk badan usaha milik warga atau melakukan korporasi pertanian.

Pada sisi lain Banten juga sangat strategis dalam upaya mengopang kebutuhan pangan untuk kota-kota besar termasuk DKI Jaakarta karena konsumsi beras saja setiap hari diatas 100 ribu ton.

“Banten sangat strategis sebagai penyanggah ibukota, bagai mana nanti Banten menyiapkan bahan pangan untuk konsumsi warga DKI Jakarta,” tandas Luwarso.

Ia mengatakan, dalam upaya mewujudkan korporasi pertanian tersebut, paling utama adanya support atau dukungan dari pemerintah daerah dan niatan untuk berubah dengan menciba sebuah alternatif baru merubah pola korporasi petani yang selama ini belum diinisiasi.

Menurutnya, pengalaman di Sukabumi petani yang bergabung di BUMR pangan tersebut, sekitar 800 orang sampai 240 orang. Karena semuanya petani penggarap, sehingga setiap musim selalu berubah-ubah.

Sementara itu, komoditi yang dikembangkan masih beras dan kedepan akan dikembangkan ke komoditi lain. “Omset kami saat ini sekitar Rp48 miliar per-tahun,” jelasnya.(Adv).

 

KOMENTAR DISQUS :

Top