Indonesia English
Senin, 20 Mei 2019 |
Nasional - Peristiwa

Bentrokan Kampung Pulo Mereda, Polisi Amankan 27 Orang

Kamis, 20 Agustus 2015 20:09:51 wib - Komentar
Penertiban yang berujung bentrok di Kampung Pulo Jakarta Timur.

Jakarta, (Banten88.com) - Penertiban yang berujung bentrokan di Kampung Pulo, Jatinegara, Jakarta Timur mengakibatkan sejumlah fasilitas dan rumah warga rusak. Upaya relokasi aparat Satpol PP Pemprov DKI terhadap warga yang tinggal di Kampung Pulo, diwarnai kericuhan. Polisi memastikan akan menindak warga yang tidak taat aturan. "Saya sudah berikan perintah. Arahannya kalau bisa dinegosiasi, negosiasi. Kalau tidak bisa, lakukan tindakan hukum," kata Kapolri Jenderal Badrodin Haiti di Istana, Kamis (20/8).

Dikatakan Badrodin, para warga selama ini sudah menempati tanah milik Pemda. Malah mereka membangun tanpa adanya izin. Pemprov DKI sudah punya niat baik dengan merelokasi mereka ke tempat yang layak. Namun saat hendak mau digusur, malah perlawanan yang didapatkan Pemprov. "Pemprov kan punya niat baik, warga menentang. Tapi mereka kalau digusur melakukan perlawanan, ya sudah," tandasnya.

Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal Tito Karnavian ketika dikonfirmasi mengatakan, dalam aksi tersebut Kepolisian mengamankan 27 orang yang diduga terlibat dalam aksi perlawanan terhadap aparat pada penertiban yang berujung bentrokan. Saat ini, 27 orang itu sedang diperiksa secara intensif.  Dalam insiden tersebut, menurut catatan yang diperoleh, diketahui ada 12 orang yang luka termasuk dua dari Satpol PP.

"Terpaksa kita bawa, sebanyak 27 orang sudah kita amankan. Kita lihat, dicari bukti permulaan hukum. Setelah ada bukti, baru penahanan," ujar Kapolda Tito saat meninjau ke lokasi.

Dikataan Tito, Polda Metro Jaya siap membantu Pemprov DKI dalam upaya menertibkan kawasan tersebut. Ia pun mengimbau agar warga tidak bersikap anarkistis. Dia berharap warga mengambil kompensasi yg disediakan oleh Pemprov DKI untuk diberikan konpensasi rumah susun. Karena, mempertahankan lahan pemerintah, itu sama artinya menghambat pembangunan.

"Ini sudah anarkistis, pasti kami akan sangat menyesal untuk menindaknya secara hukum juga. Yang melakukan pembakaran dan penyerangan juga sama. Kita minta tolong jangan sampai ada pihak-pihak yang mengambil keuntungan dari peristiwa ini untuk kepentingan sendiri," katanya.

Bentrokan warga versus aparat tidak bisa dihindari. Warga Kampung Pulo yang tak mau digusur melakukan aksi anarkis dengan merusak dan membakar alat berat backhoe/ekskavator. Sempat tertunda beberapa jam relokasi yang dilakukan aparat, hingga akhirnya penggusuran kembali dilanjutkan setelah 2 backhoe baru didatangkan.

Dua Backhoe itu berwarna oranye dan kuning, tiba di lokasi penggusuran pukul 15.20 WIB. Backhoe oranye langsung masuk ke lokasi rumah warga yang akan digusur. Sementara yang warna kuning masih di atas truk. Polisi, personel TNI dan Satpol PP mengamankan proses penurunan backhoe itu. Di sekitar lokasi juga ada dua water cannon dan dua mobil pemadam kebakaran. Puluhan personel polisi, Satpol PP dan TNI terlihat berjaga-jaga.

Melihat bangunan rumahnya satu perastu dirobohkan, bahkan sebagian sudah hampir rata dengan tanah, warga di lokasi yang tadi sempat anarkis kini hanya bisa melihat pasrah tanpa berani mengadang petugas. Situasi cukup kondusif tanpa ada warga yang protes seperti pagi tadi. Backhoe yang tadi dibakar masih berada di lokasi dan diberi garis polisi.

Tidak segarang dengan aksi yang dilakukan sebelumnya saat melakukan negosiasi ganti rugi,  warga Kampung Pulo dengan Pemprov DKI Jakarta menemui jalan buntu. Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama tidak gentar menghadapi perlawanan warga yang rusuh merusak alat berat backhoe. Ahok berjanji akan mengirimkan alat berat lebih banyak ke lokasi.

Sosiolog Universitas Indonesia, Tamrin Amal Tomagola kepada wartawan mengatakan, peristiwa bentrokan antara warga Kampung Pulo dengan polisi dan Satpol PP, dinilai merupakan sesuatu yang tak terhindarkan. Bentrokan terjadi lantaran Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menggusur tempat tinggal warga tanpa memenuhi kesepakatan yang sebelumnya disetujui Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama dengan warga Kampung Pulo

“Warga sudah punya solusi, konsep warga soal Kampung Pulo itu sudah dipresentasikan ke Ahok. Waktu itu, Ahok juga sudah setuju, tetapi tiba-tiba keputusannya berubah. Malah kirim petugas buat bongkar paksa,” kata Tamrin Amal Tomagola.

Tamrin menilai, cara penggusuran di Kampung Pulo tidak manusiawi. Idealnya, penggusuran dilakukan ketika warga sudah menempati tempat tinggal yang baru. Faktanya, banyak warga yang belum menempati Rusun Jatinegara. Penggusuran ini dinilai berbeda dengan apa yang dilakukan oleh mantan Gubernur DKI Jakarta Joko Joko Widodo.

"Beginilah nasib orang kecil. Semangat yang sudah ditularkan oleh Pak Jokowi dari Solo sampai Jakarta, mudah-mudahan Pak Ahok juga, semangat membangun tanpa menggusur. Kalau terpaksa harus menggusur, harus dikasih tempat tinggal dulu,"  tukasnya.

Sebelumnya, sosiolog UI, Robertus Robert, menyampaikan, Pemprov DKI perlu memahami bahwa kampung adalah rumah. Untuk merumahkan kembali warga, warga harus dilibatkan aktif dalam prosesnya."Karena di rumah ada proses sosial yang unik, melibatkan hidup orang, termasuk emosi. Karena dari rumah, setiap orang membangun masa depan, tak peduli itu keluarga miskin atau kaya," tutur Robert.

Menjelang sore hari, ruas Jl Jatinegara Barat, Jaktim masih ditutup. Di ruas jalan yang biasanya macet ini dipenuhi petugas kepolisian, Satpol PP, dan warga. Petugas melakukan pengamanan sementara warga yang tidak kena gusur ingin menonton. Ada dua alat berat yang diangkut truk merapat. Petugas kepolisian terlihat melakukan pengawalan. Ada batu-batu masih terlihat di jalan. Sampah juga masih bertebaran di jalan.

Kondisi relatif kondusif. Di jalan ini pagi tadi terjadi perang batu. Warga yang menolak digusur melakukan perlawanan. Petugas Satpol PP dan kepolisian akhirnya merangsek masuk. Ada 27 orang yang diamankan. Penggusuran ini dilakukan di pemukiman yang ilegal di bantaran kali. Pemprov DKI ingin melakukan perbaikan kali Ciliwung guna mencegah banjir. Kapolda Metro Irjen Tito Karnavian juga merapat ke lokasi. Tito meminta warga taat hukum.

Perang sudah pergi dari Kampung Pulo, Jaktim. Pagi tadi, perang batu terjadi di kawasan ini. Bahkan ada warga yang hendak membakar alat berat. Tapi itu tadi pagi, siang ini rusuh mereda. Warga kembali beraktifitas seperti biasa. Beberapa warga terlihat membereskan barang-barang. Warga mengepak barang untuk pindah ke Rusun. Ada juga yang memilih bertahan dengan alasan ganti rugi. (Dang).

KOMENTAR DISQUS :

Top