Indonesia English
Selasa, 09 Agustus 2022 |
Nasional

CALON PEMIMPIN BIDANG PEMERINTAHAN & CALEG WAJIB BACA BUKU PROF.ERMAYA SURADINATA

Rabu, 10 Oktober 2018 19:57:12 wib - Komentar
GUBERNUR IPDN Prof.Dr. H. Ermaya Suradinata, SH, MH, MS.

BANDUNG (Banten88.com) : PADA 7 Agustus 2015, Prof.Dr.Drs. H.Ermaya Suradinata, SH, MH, MS dilantik Mendagri Tjahyo Kumolo sebagai Gubernur Institut Pemerintahan Dalam Negeri.

IPDN adalah salah satu lembaga pendidikan tinggi kedinasan dalam lingkungan Kementerian Dalam Negeri yang bertujuan mempersiapkan kader pimpinan pemerintahan tingkat pusat dan daerah yang berjiwa nasionalisme dan berwawasan kebangsaan. Presiden SBY dalam Sidang Kabinet 10 Oktober 2007 memutuskan penggabungan Institut Ilmu Pemerintahan (IIP) dengan Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN) menjadi Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN).

Namun yang patut dikedepankan dari seorang Ermaya Suradinata putra Subang, Jawa Barat ini adalah pemikirannya yang cerdas tentang tuntutan masyarakat akan hadirnya pemimpin pemerintahan yang cakap dan terampil serta mau melayani. Pemikiran Ermaya yang cerdas dan konsepsional ini tidak saja tepat untuk saat ini namun juga relevan dengan tuntutan mutu kepemimpinan bidang pemerintahan kedepan.

Ia meraih gelar sarjana strata 2 (S2) dengan IPK 3,99 dan memperoleh predikat cum laude saat meraih gelar doctor dengan IPK 3,99.

Ia sebelum menjadi Gubernur IPDN adalah Wakil Rektor IPDN dan merupakan orang sipil pertama yang menduduki jabatan sebagai Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) dan pernah menjabat sebagai Dirjen Sospol Kemendagri.

Pada 2009 Ermaya Suradinata menulis buku ke 38 dengan judul " Kepemimpinan Daerah dan Nasional. MEMBANGUN DAERAH MENUJU INDONESIA BANGKIT ". Ia dengan tepat menegaskan,  pada masa transisi seperti ini, proses pejabat publik yang dipilih dari partai politik tidak semua siap menjadi pemimpin pemerintahan. Mereka yang sebelumnya bukan orang pemerintah perlu penyesuaian - penyesuaian untuk jadi pemimpin pemerintahan. Kendatipun ada juga sebagian kecil yang tahu dan paham tentang pemerintahan. Bagi yang belum tahu pemerintahan hal ini akan menjadi kendala dalam membangun daerahnya serta dalam melayani masyarakat,  ungkap Prof. Ermaya.

Apa yang ditegaskakan itu memang sesuai dengan kenyataan dilapangan. Penulis melihat banyak calon pemimpin dijaring oleh parpol dan caleg yang duduk dikomisi yang membidangi aparatur dan pemerintahan, ternyata tidak memiliki latar belakang ilmu pemerintahan sama sekali. Jujur saja menurut penulis, hal ini akan menimbulkan syndroma leadership dan kegamangan dalam memimpin. Sebagai pemangku kepentingan dalam proses pengambilan keputusan dan penerapan kebijakan, arahnya tidak tepat sasaran. Bahkan begitu tajamnya kritikan yang ditujukan kepada pemimpin tsb, karena ketika masyarakat memerlukan kehadiran pimpinan, ternyata sang pemimpin tsb menghilang entah kemana. Sehingga sudah saatnya para pemimpin yang dijaring parpol dan para calegsebelum dilantik hendaknya membaca buku " Kepemimpinan Daerah dan Nasional. Membangun Daerah Menuju Indonesia Bangkit " yang ditulis Prof.Dr.H. Ermaya Suradinata, SH, MH, MS.

Buku ini ditulis berdasarkan pengalaman dan pemahaman persoalan yang terjadi di daerah - daerah di Indonesia.

Buku ini antara lain ditujukan untuk Gubernur, Walikota/Bupati dan calon pemimpin pemerintahan kedepan termasuk para anggota DPR. Buku tsb dengan tepat juga membahas geo politik khas Indonesia yang berguna dan penting dalam membangun bangsa.

Ermaya begitu berpengalaman dibidang politik pemerintahan (polpem) mengingat separuh dari usianya yang kini 63 tahun diabdikan dibidang pemerintahan dari eselon terendah hingga menjadi Gubernur Lemhannas dan kini sudah 3 tahun menjabat sebagai Gubernur IPDN.

Kariernya sebagai abdi negara diawali tahun 1972 sebagai Agen Polisi Pamong Praja di Irian Jaya (Papua) dan sudah 19 kali mengikuti serah terima jabatan (sertijab). Termasuk menjadi Kepala Trantib dan Camat. Penyusunan buku ini dilatarbelakangi bahwa pembangunan tingkat nasional tidak mungkin tanpa dimulai dari pembangunan daerah. Sebab ujung tombak pembangunan bukan pada tingkat nasional tapi ditingkat daerah, papar Ermaya dengan sistematika.

Karena membangun daerah merupakan bagian dari membangun nasional. Dalam kaitan ini, diperlukan komitmen dari pejabat daerah, gubernur, walikota dan bupati untuk membangun daerahnya dengan melibatkan masyarakat. Sehingga pada saat pembangunan dilakukan, masyarakat merasa memiliki pembangunan yang dihasilkan. Disinilah keterlibatan masyarakat untuk membangun, beber Ermaya.

PELOPOR REVOLUSI MENTAL DI IPDN

Jawa Barat kini punya " 2 Gubernur " yakni Ridwan Kamil yang berkantor di Gedung Sate Bandung dan Ermaya Suradinata sebagai Gubernur IPDN yang berkantor di Kampus Pusat IPDN Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat.

Pimpinan IPDN datang pergi silih berganti sejak Prof.Dr.H. I.Nyoman Sumaryadi, M.Si putra Bali kemudian digantikan Dr.H.Suhajar Diantoro putra Kepri dan kini Ermaya Suradinata, putra Subang, Jawa Barat. Penunjukan Ermaya putra Sunda asli ini telah membawa dampak sangat positip bagi urang Jawa Barat yang merasa sangat bangga karena yang memimpin IPDN yang kampus pusatnya di Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat adalah putra asli Jawa Barat. Ini artinya putra Jawa Barat jika diberikan kesempatan memimpin dalam kepemimpinan skala nasional, sama hebatnya dengan putra daerah lain di Indonesia.

Terkait dengan Revolusi Mental  yang merupakan gerakan menggembleng manusia Indonesia menjadi manusia baru, bekerja keras dan berfikir cerdas dan dilandasi moral yang baik. Prinsip - prinsip itu telah diterapkan Ermaya di kampus IPDN. " Melalui revolusi mental yang dimulai dari pendidikan di IPDN, sehingga seluruh praja IPDN harus menjadi pelopor revolusi mental ", tegas Ermaya lagi.

Dengan revolusi mental, masih papar Gubernur IPDN ini, pihaknya siap membentuk calon aparatur negara yang lebih baik dengan tujuan memberikan pelayanan kepada masyarakat sejak tingkat Desa/Kelurahan, Kecamatan, Kota Kabupaten dan Provinsi.

Kepada Praja IPDN yang sudah lulus, ia berpesan agar siap ditempatkan dimana saja. Ini adalah bagian kontrak praja dengan negara. Karena praja telah dibiayai negara selama  menempuh pendidikan di IPDN.

Maka sebagai gantinya, praja harus dapat mengemban tugas sebagai pegawai pemerintahan dimanapun  bahkan tempat terpencil sekalipun, urainya.

Kepada seluruh praja IPDN telah ditanamkan jiwa nasionalisme dan patriotisme. Perjuangannya adalah untuk jadi perekat kesatuan bangsa. Ia juga meminta agar lulusan IPDN harus bisa diberdayakan tidak hanya di Kemendagri dan Pemda semata tapi juga harus bisa diberdayakan misalnya di Kemenhan atau Kemlu. Papar Gubernur IPDN ini.

DOSEN SESPIM POLRI & SESKO TNI

Tahun 1992 Ermaya mengajar Managemen Perubahan pada kursus Staf Senior TNI AD.juga sebagai Dosen di Armed (Artileri Medan) TNI AD. Dosen Pusat Pendidikan Teritorial  TNI AD, dosen Sekolah Pimpinan (Sespim) Polri dan Sekolah Komando (Sesko) TNI. Pada 1993 selain sebagai Guru Besar Universitas Padjadjaran (Unpad)  juga sebagai Direktur Pascasarjana Universitas Satyagraha Jakarta.

FILOSOFI TENTANG JABATAN

Menurut Ermaya, jabatan itu bukanlah untuk selamanya. Ia punya prinsip jika sudah dilantik harus siap diberhentikan.Bila pimpinan menghendaki dirinya berhenti, dia akan mengucapkan terimakasih karena tugas telah selesai." Saya punya integritas dan harus loyal pada pimpinan ", tuturnya. Menurutnya pemberhentian harus sesuai aturan. Misalnya telah habis masa jabatannya sesuai peraturan atau atas permintaan pimpinan. Demikian Gubernur IPDN Prof.Dr.H.Ermaya Suradinata, SH,MH, MS.  - BANTEN88.COM/SENO SUPONO.

KOMENTAR DISQUS :

Top