Indonesia English
Kamis, 27 Juni 2019 |
Nasional - Hukum dan Kriminal

Cemari Lingkungan, 8 Pabrik Ditutup Saluran Pembuangan Limbahnya

Selasa, 15 September 2015 21:02:01 wib - Komentar
Hudaya Latuconsina Penjabat Bupati Serang.

SERANG,(Banten88.com): Akhirnya pemerintah kabupaten (pemkab)  Serang  memberikan tindakan tegas  terhadap perusahaan  yang tidak mengindahkan Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL), sehingga dalam pengelolaan limbah perusahaan berdampak kepada pencemaran sungai yang terbentang di pinggiran hulu Su­ngai Ciujung.

Dari kasus tersebut, delapan  perusahaan terpaksa  ditutup saluran pembuangan limbah cair  karena limbah  cairnya tidak diolah terlebih dahulu melalui Intalasi Pengelolaan Air Limbah (Ipal) dan enam perusahaan mendapat teguran keras. Demikian dikatakan Hudaya Latuconsina Penjabat Bupati Serang. Selasa. (15/9).

Hudaya mengatakan, tindakan tegas yang dilakukan  pemerintah ini  karena sebelumnya Pemerintah  sudah beberapa kali menegur perusahaan  dan mereka sudah beberapa kali membuat pernyataan untuk mengolah limbahnya dengan baik, namun kenyataannya, hal itu tak dilakukan.

Delapan perusahaan ditutup saluran pembuangan air limbahnya karena tak mengolah limbah cairnya secara baik dan benar. Delapan perusahaan itu antara lain,  PT Cipta Paperia (industri pembuatan kertas/karton), PT Bahari Makmur Sejati (industri pengolah udang), PT Berry (industri minuman kaleng), PT Boo Yong (industri outsole sepatu), PT Ocean Asia Industry (industri kain tekstil), PT Unican (industri kembang gula), PT Asia Chemical (industri pembuat lem), dan PT Kanemory Food (industri pengolahan makanan).

Sedangkan enam perusahaan yang mendapat teguran meliputi PT PA Rubber (industri outsole sepatu), PT Sunjin (industri pencelupan benang), PT Kabatama (industri galvanis), PT Mitsuba (industri aksesoris kendaraan), PT Kino Indonesia (industri farmasi dan miniman), dan PT Aluprima Facifik (industri pembuatan alumunium).

Menurut penuturan Hudaya, penutupan saluran pembuangan air limbah  delapan perusahaan itu dilakukan untuk menghindari dampak pencemaran yang lebih kompleks. Adapun teguran kepada enam perusahaan itu akan ditindaklanjuti dengan penutupan  saluran pembuangan air  limbah jika perusahaan tersebut tidak melakukan optimalisasi pengelolaan IPAL nya.

Tindakan ini, kata Hudaya, tak hanya berlaku saat musim kemarau tapi sepanjang perusahaan itu belum menyelesaikan sistem pengelolaan limbahnya. “Kalau perusahaan  mereka membuat sistem pengelolaannya limbahnya dengan baik, kita akan keluarkan izin IPAL-nya,” katanya.

Hudaya meminta agar perusahaan itu bisa mengerti dengan tindakannya. Karena tindakan itu bukan sanksi tapi pembelajaran. Tindakan ini lebih ringan daripada pencabutan izin lingkungannya yang berarti produksinya dihentikan.(YAN).

KOMENTAR DISQUS :

Top