Indonesia English
Selasa, 07 April 2020 |
Nasional

DARI KOTA KECIL PACITAN JATIM NEO JIBLES IMITATOR KOES PLUS MENGGEBRAK

Kamis, 27 Februari 2020 17:58:18 wib - Komentar
NEO JIBLES band imitator super group KOES PLUS dari kota Pacitan (Jawa Timur).

JAKARTA, (Banten88.com) : KELOMPOK anak muda generasi milenial berusia 21 sd 25 tahun yang tidak punya history dengan kejayaan dan kedigdayaan band legendaris super group Koes Plus yang sangat berjaya dan berpengaruh di blantika musik pop era paruh 70 an, namun mereka mampu dan kompak memainkan musik Koes Plus dengan sound mendekati aslinya.

Mereka adalah group imitator Koes Plus Neo Jibles dari kota kecil Pacitan (Jatim) yang lokasinya berbatasan dengan Kabupaten Wonogiri (Jateng) serta berhadapan langsung dengan Samudra Indonesia.

Band pelestari ini diawaki oleh Taufik Eko Hidayanto (25), lead guitar, keyboard dan vocal. Ario Yudha Prasetyo (22), lead vocal dan guitar rhythem. Ricky Eka Atmaja (22), bass dan vocal serta M. Rizal Rusliansyah diposisi drum dan vocal.

Dalam penjelasannya kepada Banten88.com, leader Neo Jibles, Taufik mengatakan Neo Jibles artinya Neo itu baru dalam bahasa Inggris atau muda dalam bahasa Latin. Sedangkan Jibles diambil dari kosa kata bahasa Jawa yang artinya Mirip.

" Jadi Neo Jibles kami bangun dengan konsep memainkan musik Koes Plus semirip mungkin dengan lagu aslinya baik chord maupun jenis suaranya," papar sang leader.

Ketika Koes Plus sangat tenar di paruh 70 an anda - anda kan belum lahir, bagaimana bisa tahu ada super group dahsyat yang mengguncang blantika musik pop Indonesia ?, tanya Banten88.com.

" Kami tahu dan mulai tertarik dengan Koes Plus di usia 10 tahun. Tahu sejarah dan musik Koes Plus dari orang tua dan radio," tambah Taufik.

Kapan Neo Jibles dibangun?, tanya Banten88.com lagi.

" Kami berdiri pada 2017 tapi latihannya juga baru beberapa kali saja karena kesibukan masing - masing. Sementara Ario masih kuliah di Jember," terang Taufik yang groupnya bermarkas di BMP Studio, Arjowinangun, Pacitan.

Ada yang mengejutkan dari penampilan Neo Jibles saat membawakan mega hits Minggu yang Cerah dari album ke 11 Koes Plus, suara keyboard Taufik mirip organ mas Tonny merk Farfisa di kaset Koes Plus Volume 11.

Lalu Banten88.com bertanya, suara keyboard anda mirip sound Koes Plus di album ke 11, keyboard merk apa yang anda mainkan ?.

" Kami menggunakan keyboard type Korg Krome dan hingga saat ini sudah 150 lagu Koes Plus yang sudah dikuasai personel Neo Jibles,".

Selanjutnya Banten88.com bertanya lagi. Menurut anda dan kawan - kawan siapa band pelestari yang permainannya mengena dihati Neo ?.

" Ada dua yakni B.Plus dan Hoss Band. Mereka adalah band pelestari yang konsisten dengan originalitas musik Koes Plus," bebernya.

Karena Neo berada di kota kecil Pacitan tentu event dan fasilitas untuk bermusik tidak selengkap teman - teman band pelestari di Jabotabek. Kondisi itupun dirasakan anak - anak Neo. Taufik menambahkan bahwa di Pacitan terbilang jarang event dan jarak yang cukup jauh juga jadi kendala jika ada undangan keluar kota, urainya.

Namun demikian Neo Jibles sudah menundukan panggung di TMII Jakarta, XXI Lounge Mega Mall Bekasi dan La Cone Cafe serta manggung di Solo. Seperti diketahui Solo adalah tempat bertenggernya fans Koes Plus yang sangat puritan dengan jumlah bejibun.

TENTANG PERFORMANCE NEO

Ketua Komunitas Koes Plus Jiwa Nusantara Pacitan, Masruri Abdul Goni kepada Banten88.com menyampaikan penilaiannya atas performance Neo Jibles. Menurut Masruri, Neo Jibles sudah menjadi kebanggan komunitas Koes Plus Pacitan dan masyarakat Pacitan. Skill bermain musik anak - anak Neo sangat tinggi dan sound yang dikeluarkan mirip aslinya. Pemilihan atau pengambilan voice untuk suara keyboard dan sound guitar selalu berusaha seperti aslinya dalam musik Koes Plus.

Mendengar musik Neo, masih tutur Masruri, mereka yang mengalami disaat Koes Plus berjaya, pikiran langsung melayang - layanh teringat memori indah dimasa silam yang penuh kenangan bersama indahnya lagu - lagu Koes Plus dimasa lalu. Demikian Ketua Komunitas Koes Plus Jiwa Nusantara Pacitan, Masruri Abd. Goni.

TAK ADA GADING TAK RETAK

Masih banyak waktu bagi Neo Jibles untuk menjadi sempurna. Tak ada gading yang tak retak. Harus terus berlatih dengan keras agar suara vocalis utama lebih " Ngeyon " lagi. Demikian pula posisi suara 2 harus ditingkatkan agar lebih pecah dan ambyar dengan terus berlatih sambil terus mendengar duet mas Yon dan mas Yok misalnya pada lagu Janjimu dan Kau Datang Lagi serta Hatiku dan Hatimu yang pecah

Ketika mas Tonny Koeswoyo membangun band Kus Bersaudara 1962 dikenal dengan kredo Missa Solemnis. Yang artinya Bermula Dari Hati Semoga Mendapat Tempat Dihati Pula. Kredo ini diambil dari karya komponis besar dunia Bethoven.

Sementara penyair besar Taufik Ismail memberikan penilaian Koes Plus adalah musisi yang mewakili gejolak anak muda.

Koes Plus tidak saja paten dalam adonan musik dan penulisan lyrik yang bermutu tinggi, namun Koes Plus tampil mewakili gejolak generasi muda Indonesia termasuk dalam gaya berbusana. Coba tengok sampul album Koes Plus Volume 10, mas Yok menggunakan setelan dasi yang keren habis. Sementara di album History of Koes Brothers mas Tonny mengenakan baju lengan panjang garis - garis merah nampak anggun dan menawan. Mas Yon dalan satu pose, mengenakan kaos lengan panjang yang ada gambar hati berwarna merah menyala yang sangat menarik perhatian. Sementara mas Murry dengan setelan hitam tampak macho di album Koes Plus 78.

Itu semua menunjukan Koes Plus telah menjadi ikon fashion bagi generasi muda paruh 70 an.

Soal costum memang penting diperhatikan termasuk bagi personel Neo. Skill bermain musik yang bagus belum diimbangi dengan costum yang menarik. Costum yang dikenakan terbilang sederhana  Untuk urusan costum neo bisa belajar dari seniornya T.Koes Band yang gondrong dan  dandanannya mirip personel Koes Plus. Apalagi jika pemain T.Koes sudah mengenakan celana cutbray diatas panggung sadap nian dipandang. (SS)

KOMENTAR DISQUS :

Top