Indonesia English
Senin, 04 Juli 2022 |
Kesehatan

Depresi Mengintai Pria Yang Mengalami Insomnia

Rabu, 21 Juni 2017 12:05:36 wib - Komentar
Studi terbaru dari Australia menyebut pria yang mengalami gangguan tidur sleep apnea sekaligus insomnia berisiko tinggi depresi. Simak penjelasannya di sini.

Jakarta, (Banten88.com):  Risiko depresi tidak hanya muncul akibat trauma atau rasa sedih berkepanjangan. Studi terbaru dari Australia menyebut depresi juga mengintai orang-orang yang memiliki gangguan tidur seperti sleep apnea dan insomnia.

dr Carol Lang dari Basil Hetzel Institute, University of Adelaide Queen Elizabeth Hospital Campus, melakukan penelitian kepada 700 partisipan pria. 323 Partisipan memiliki gangguan tidur sleep apnea, yang ditandai dengan ngorok hebat saat tidur, 37 mengidap insomnia, dan 47 lainnya memiliki dua gangguan tersebut.

Hasil penelitian menyebut hanya 8 persen dari pengidap sleep apnea yang mengalami depresi. Sementara pasien insomnia yang mengalami depresi sedikit lebih tinggi, yakni 22 persen.

Namun pada pria yang memiliki sleep apnea dan insomnia sekaligus, persentasi pengidap depresinya cukup tinggi, 43 persen. Peneliti menduga hal ini ada kaitannya dengan kurangnya jam tidur sekaligus buruknya kualitas tidur yang dapat menyebabkan masalah pada kesehatan jiwa.

"Sleep apnea dan insomnia merupakan dua jenis gangguan tidur yang paling banyak ditemui di masyarakat. Hasil penelitian menyebut memiliki dua gangguan ini sangat menurunkan kesehatan fisik dan jiwa seseorang," papar Lang, dikutip dari Reuters.

Sleep apnea merupakan gangguan tidur yang membuat pasiennya kesulitan bernapas karena saluran pernapasan yang menyempit atau terganggu, sehingga menimbulkan suara ngorok yang sangat terasa. Pasien sleep apnea bisa tidur lebih nyenyak jika menggunakan alat continous positive airway pressure (CPAP) yang dijual di pasaran.

Sementara insomnia adalah gangguan tidur yang membuat pasiennya kesulitan untuk tidur di malam hari, mudah terbangun saat tidur, atau tak bisa tidur dalam waktu lama. Hal ini membuat pengidapnya kurang istirahat dan sering merasa lemas di siang hari.

"Jika mengalami gangguan tidur, sebaiknya segera periksakan ke dokter atau klinik spesialis tidur agar tidak merusak kesehatan jiwa Anda," tutupnya. (Sumber : Detik.com)

KOMENTAR DISQUS :

Top