Indonesia English
Rabu, 08 Februari 2023 |
Nasional - Hukum dan Kriminal

Dicecar Jaksa Dari Segala Penjuru, Wawan Tidak Berkutik

Selasa, 22 September 2015 18:30:49 wib - Komentar
Tb Chairi Wardana

Serang, (Banten88.com) – Pengadilan Negeri tindak pidana korupsi Serang, kembali menggelar sidang lanjutan kasus dugaan korupsi alat kesehatan yang dialokasikan pada bantuan Kedokteran Umum Puskesmas Kota Tangsel senilai 23,5 miliar. Dalam kasus dugaan korupsi Alkes ini tentu melibatkan orang-orang penting yang sempat menjadi penguasa Banten. Setelah minggu kemarin Jaksa Penuntut Umum menghadirkan saksi Walikota Tangsel Airin Rachmi Diany, hari ini suami Airin Tb Chairi Wardana di datangkan dari LP Sukamiskin Bandung untuk bersaksi.

Tb Chairi Wardana alias Wawan dihadirkan JPU karena keterlibatannya sebagai pemilik dari PT. Bali Pasifik Pragama, perusahaan yang diketahui sebagai pemenang dalam proyek pengadaan Alkes yang bersumber dari dana APBD perubahan tahun 2012. Dalam dakwaannyam perusahaan Wawan memperoleh aliran dana sebesar 9,7. Sidang korupsi Alkes ini seperti biasa selalu ramai dibanjiri pengunjung, dan dimulai pada pukul 09.00, Selasa (22/9).

Untuk mengurai sejauhmana keterlibatan Wawan, Jaksa penuntut KPK menghadirkan Wawan yang bersaksi untuk terdakwa Dadang Prijatna dalam kedudukannya sebagai Manager Oprasiona PT Bali Pasifik Pragama yang dulu di elu-elukan sebagai salah satu orang kepercayaan Wawan. Mendapat pengawalan petugas lapas Sukamiskin, Wawan nampak lebih kelihatan tua dengan  mengenakan baju batik berwarna hijau dipadu celana hitam, Wawan terlihat santai memasuki dan duduk di kursi dekat JPU di ruang sidang utama.

Seperti biasa, ketua majelis hakim Jesden Purba sudah berada di ruangan, melirik kiri kanan lalu menanyakan kondisi kesiapan sidang, setelah itu memukulkan palu tanda persidangan sudah dimulai. Tak ketinggalan Jaksa Penuntut KPK yang diketuai Sugeng dengan seksama mengikuti jalannya sidang yang baru saja dibuka oleh ketua majelis hakim Jesden Purba.

Jaksa penuntut yang dimotori Sugeng langsung menyecar Wawan dengan sejumlah pertanyaan. Mereka mempertanyakan mengenai aliran dana yang diterima Wawan dalam pengadaan Alkes. Dicecar seperti itu, Wawan membahtah jika dia sudah memerintahkan Dadang Prijatna yang telah menjadi terdakwa untuk melakukan pengaturan proyek dalam beberapa ploting yang sudah dikondisikan sebagai pemenang proyek.

Selain itu, Wawan juga membantah bahwa ia mengetahui secara langsung mengenai plotingan  pemenang proyek kepada sejumlah perusahaan yang berafiliasi kepada PT Bali Pasifik Pragama. “Soal ploting dan pengaturan proyek saya tidak tahu,” jawab Wawan singkat saat menjawab pertanyaan Jaksa Sugeng.

Dianggap jawaban Wawan berbelit, kembali penuntut menanyakan ihwal pengaturan lelang yang sudah dikondisikan, namun Wawan tetap membantah, dan pertanyaan berikutnya mengenai SKPD yang diarahkan. Sekali lagi Wawan membantah telah mengarahkan para kepala dinas terkait sejumlah proyek pengadaan barang dan jasa. Wawan hanya membenarkan jika rapat yang dilaksanakan di kantornya, sama sekali tidak membahas pengkondisian proyek.

“Benar jika rapatnya di The East Hotel Jakarta, tapi  tidak dalam membahas proyek, karena saya tidak ikut dalam rapat tersebut,” katanya.

Sekali lagi Wawan membenarkan jika istrinya Airin Rachmi Diany sebagai Walikota Tangsel, pernah menggunakan kantornya untuk rapat bersama para kepala SKPD. Selain itu Wawan juga membenarkan bahwa dia  pernah menyapa serta berjabatan tangan dengan para kepala SKPD yang hadir pada saat itu. “Saya sempat menyapa dan bersalaman, setelah itu duduk sebentar, tak lama saya pergi ke luar ruangan, itu yang saya lakukan sebagai tuan rumah,” katanya.

Kesaksian Wawan sama persis dengan keterangan yang disampaikan Airin, dalam kesaksiannya Wawan mengaku rapat yang dilakukan di rumah dan di kantornya karena tak lain untuk bisa berbagi waktu dengan keluarga dan anak-anaknya. “Karena sering pulang sampai larut malam, maka saya minta kepada istri saya untuk rapat di rumah atau di kantor saya saja agar bisa sambil mengurusi anak-anak,” jelasnya.

Tak puas atas jawaban Wawan yang berbelit-belit, jaksa penuntut kembali mengajukan pertanyaa mengapa perusahaannya mengerjakan proyek yang dimenangkan PT Mikindo Adiguna Pratama milik Agus Marwan alias Miko? Dan kenapa proyek tersebut tidak dikerjakan sendiri oleh Agus Marwan. Mendapat pertanyaan seperti itu Wawan tidak bisa menjawabnya, bahkan pertanyaan itu kembali diulang oleh Jesden Purba yang menjadi hakim ketua.

Karena pertanyaan jaksa dipertegas majelis hakim, membuat Wawan menjadi gugup dan tidak mampu menjelaskan secara rinci apa hubungannya PT Bali Pasifik dengan PT Mikindo Adiguna Pratama. “Mohon maaf majelis hakim yang mulia, saya mencoba mengingat-ingat dulu, setahu saya Bali Pasifik  memiliki anak perusahaan namanya PT Buana Wardhana Utama. Perusahaan ini memiliki kerja sama dengan perusahaan Jaya Medika yang dikelolaBu Yuni Astuti,” tuturnya.

Sugeng tak mau tertinggal, mendengar jawaban Wawan seperti itu, dia kembali menanyakan apa hubungannya pemilik Java Medika Yuni Astuti dengan PT Mikindo sebagai perusahaan yang memenangkan lelang tersebut. “Kalau hubungannya sebatas kedudukan Bu Yuni itu distributor,” jawab Wawan. Jaksa menanyakan lagi hubungan causanya. “Iya yang saya tanyakan adalah apa hubungannya Yuni Astuti dengan perusahaan pemenang lelang. Begini ya yang menang itu siapa dan yang mengerjakan juga lain lagi,” timpal jaksa Sugeng.

Dicecar terus seperti itu, Wawan mengaku tidak mengetahui secara persis, dia membenarkan sebagai pemilik perusahaan tapi dia tidak mengetahui secara rinci terkait apa saja pengadaan dalam kasus alkes tersebut. Menurutnya dia hanya mengetahui secara global laporan pengadaan dari terdakwa Dadang Prijatna. “Terus terang saya kecewa, benar memang ada kesalahan,” kata Wawan terisak ketika Hakim Sigit menanyakan apakah dia merasa bersalah dalam kasus ini. (Dang).

KOMENTAR DISQUS :

Top