Indonesia English
Kamis, 21 Maret 2019 |
DINDIKBUD Provinsi Banten

Dindikbud Banten Kembangkan Konser Karawitan

Rabu, 29 Maret 2017 18:22:55 wib - Komentar
Workshop Konsep Karawitan Muda Indonesia, di lantai III, Gedung Dindikbud Banten, Rabu (29/3).

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Banten, E. Kosasih Samanhudi menilai, Banten memang tak bisa dilepaskan dari sejarah panjang perkembangan kebudayaan Islam di Indonesia. Provinsi yang terletak di ujung barat Pulau Jawa ini, menjadi saksi kejayaan Islam nusantara.

“Dalam perjalanan sejarahnya sebagai kota pelabuhan, Banten tidak bisa menolak datangnya beragam budaya dari luar daerah,” kata Kadindikbud Banten dalam kegiatan Workshop Konsep Karawitan Muda Indonesia, di lantai III, Gedung Dindikbud Banten, Rabu (29/3).

Masih dijelaskan oleh Kosasih, kendati masuknya beragam budaya dari luar, masyarakat Banten terbukti tangguh dalam mempertahankan budaya asli nenek moyangnya, seperti yang bisa disaksikan dalam setiap pertunjukan yang menampilkan budaya Banten.

“Masyarakat Banten juga mampu melestarikan beberapa alat musik tradisionalonal, yang sering dimainkan hingga saat ini,” ujarnya.

Bahkan, lanjutnya, beberapa alat musik tradisionalonal menjadi pionir dan ditiru oleh masyarakat suku lainnya di nusantara. Salah satu contohnya adalah bedug. Masih kata Kosasih, sebelum budaya dan agama Islam masuk ke Indonesia, bedug telah lebih dulu dikenal oleh masyarakat Banten sebagai gendang tradisionalonal dan sarana komunikasi.

“Dahulunya bedug Banten dimainkan dalam seni rampak bedug, atau seni memainkan bedug secara bersama-sama,” ungkapnya.

Musik Banten dalam konsteks kesenian tradisional, sambung Kosasih, masih sebagai pengiring tari dari salah satu bentuk kesenian tradisional. Di setiap daerah di Banten memiliki warna, karakter dan ciri khas tersendiri terhadap musik tradisional.

“Hal ini menunjukan bahwa Banten memiliki kekayaan yang luar bisaa terhadap kesenian tradisional. Hal tersebut dibuktikan dengan masihnya alat musik tradisional tersebut digunakan oleh komunitas seni di Banten,” katanya.

Di lokasi yang sama, Sekretaris Dindikbud Banten Ardius Prihantono mengatakan, workshop ini merupakan salah satu upaya pembelajaran tentang membuat komposisi musik tradisionalonal, untuk diterapkan dalam sebuah komposisi musik iringan tari, bedug, lagu atau membuat komposisi instrumental.

“Musik tradisional yang kebanyakan berlaras pentatonis harus tetap dilestarikan dan dikembangkan. Dengan adanya kegiatan ini, saya berharap Banten akan melahirkan composer yang berkualitas, berwawasan luas dan inovatif,” kata Ardius.

Dalam kesempatan itu, Ardius juga berharap, peserta workshop bisa menciptakan karya komposisi yang tidak meninggalkan sentuhan unsur etnik, dan kegiatan ini menjadi sarana pembelajaran konsep baru.

Ismet budayawan asal Jawa Barat yang hadir dalam kegiatan tersebut mengatakan, kegiatan ini merupakan salah satu program unggulan Kemendikbud, untuk memberikan pengalaman baru kepada generasi muda terkait dengan pertunjukan.

“Hal yang paling prinsip dalam penampilan adalah menampilkan sesuatu yang baru, tanpa menghilangkan unsur etnik. Karena, kreator tidak memiliki standar sehingga bisa mengembangkan unsur etnik yang ada, menjadi sesuatu yang baru tanpa menghilangkan estetik,” katanya. (Advertorial).

 

KOMENTAR DISQUS :

Top