Indonesia English
Kamis, 17 Januari 2019 |
Nasional - Hukum dan Kriminal

Divonis 10 Tahun Penjara, di Banding 2 Terdakwa Guru JIS Bebas

Jumat, 14 Agustus 2015 18:29:50 wib - Komentar
Hotman Paris dan guru JIS.

Jakarta, (Banten88.com) – Pengadilan Tinggi (PT) Jakarta Selatan secara mengejutkan telah  menganulir putusan Pengadilan Negeri Jaksel, dalam perkara pencabulan yang dilakukan dua guru Jakarta International School (JIS) Neil Bantleman dan Ferdinant Tjiong. Padahal di Pengadilan tingkat pertama, majelis hakim menjatuhkan vonis 10 tahun penjara.

Pengacara dua terpidana, Hotman Paris Hutapea baru saja mengambil putusan bebas terdakwa dua guru JIS Neil Bantleman dan Ferdinant Tjiong dalam kasus kekerasan seksual. Dia lalu membacakan putusan itu di depan 30-an keluarga terdakwa dan perwakilan JIS. Keluarga dua guru JIS menangis mengaharu biru merasa gembira sambil berpelukan mendengar putusan itu.

Keluarga kedua guru JIS juga bersorak sorai. Suasana itu terlihat di lingkungan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jl Ampera Raya, Jumat (14/8), setelah Hotman mengambil kertas salinan putusan di ruang panitera pengadilan, tak terbendung kegaduhan rasa gembira meledak seketika begitu Hotman selesai membacakan putusannya.

Dikatakan Hotman, Pengadilan Tinggi Jakarta telah mengeluarkan putusan dan diputus pada 10 Agustus 2015.  "Menyatakan terdakwa Neil, tidak terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana seperti yang didakwakan oleh jaksa. Memulihkan harkat dan martabat terdakwa. Memerintahkan terdakwa dibebaskan dari tahanan. Hal ini berlaku juga terhadap Ferdinant. Jadi ini sudah resmi keluar," katanya.

Menurut Hotman, stafnya akan membawa salinan putusan itu ke Kejari Jaksel. Dia berharap setelah salat Jumat, 2 guru JIS yang ditahan di Rutan Cipinang dapat dibebaskan. "Kita ketemu di Rutan Cipinang. Ini ada anaknya juga dan istri-istri dari pengajar JIS yang telah dipisahkan kurang lebih selama 1 tahun," tutur Hotman.

Neil dan Ferdinant dihukum dihukum 10 tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Keduanya juga dihukum membayar denda Rp 100 juta subsidair 6 bulan kurungan. Hakim menyatakan terdakwa memenuhi syarat secara sah dan meyakinkan melakukan perbuatan dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan, tipu muslihat, membujuk dan membiarkan adanya tindakan cabul. Atas hukuman itu, keduanya banding.

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kombes Pol Krishna Murti ketika dikonfirmasi wartawan mengatakan, dia menghormati putusan pengadilan atas vonis bebas dua guru terpidana ditingkat banding. Polda Metro Jaya yang memproses keduanya saat penyidikan, menyatakan menghormati keputusan tersebut.

"Saya tidak bisa mengomentari putusan Pengadilan Tinggi. Tetapi apa pun vonisnya kami tetap menghormati putusan tersebut," kata Krishna Murti, Jumat (14/8).

Menyikapi putusan tersebut, Krishna menyatakan selama proses penyidikan, penyidik telah menjalankan sesuai prosedur. Dia menyampaikan, penyidik juga saat itu memiliki bukti-bukti yang cukup sehingga kasus tersebut bisa dibawa ke proses peradilan. "Terkait bahwa keduanya divonis bebas, masih ada upaya-upaya hukum yang bisa dilakukan jaksa penuntut umum sebagai pengacara Negara nisa melakukan kasasi," jelasnya.

Ditempat terpisah, suara Tracy Bantleman bergetar, air matanya sesekali menetes dari mata coklatnya. Ia tak kuasa menahan haru atas kebebasan suaminya yang merupakan terdakwa kasus pelecehan seksual di JIS Ferdinant Bantleman.  "Saya sangat bahagia. Saya sangat bersyukur karena Pengadilan Tinggi bisa memeriksa kasus ini dengan intergritas," ucapnya dalam bahasa Inggris, di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jumat (14/8).

Wanita berambut pirang ini juga mengaku tidak sabar bertemu suaminya yang sudah ditahan di rutan Cipinang selama 13 bulan. Ia mengungkapkan, waktu tersebut cukup panjang untuk menanti pembebasan suaminya. "Saya tidak sabar bertemu suami saya, saya rasa dia belum tahu," kata wanita berkewarganegaraan Kanada ini.

Kegembiraan sama juga terpancar dari wajah Sisca Tjiong, istri dari Ferdinant Tjiong, terdakwa lainnya, juga tak kuasa menahan tangis haru saat ditanya tanggapannya soal kebebasan suaminya. Ia sampai bingung untuk menggambarkan kegembiraannya. "Perasaan saya enggak bisa lukiskan ya. Akhirnya doa-doa dari anak-anak saya, dari semua orang yang mencintai suami saya dan Neil semua terjawab. Akhirnya kebenaran bisa ditegakan, akhirnya keadilan untuk suami saya juga buat Neil bisa kami dapatkan," kata Sisca.

Dia mengaku kembali optimistis dengan penerapan hokum di Indonesia bisa berbuat adil dalam mengadili suaminya. Sebab, keputusan Pengadilan Tinggi menyatakan kedua terdakwa kasus pelecehan seksual di JIS ternyata tidak bersalah.  "Saya percaya hukum Indonesia menuju ke jalan yang benar," kata dia.

Di hadapan para wartawan, Sisca dan Tracy pun berpelukan sambil menangis. Orangtua para siswa JIS yang menyaksikan hal itu bertepuk tangan dan bersorak riuh. Pengadilan Tinggi DKI Jakarta memutuskan dua terdakwa tidak terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana seperti yang didakwakan oleh jaksa.

Kedutaan Besar Amerika Serikat mengapresiasi putusan bebas 2 guru Jakarta JIS, Neil Bantleman dan Ferdinant Tjiong. Dubes AS untuk Indonesia Robert O Blake menyambut baik putusan pengadilan tingkat banding ini. "Amerika Serikat menyambut baik putusan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta, yang memutus bebas dua guru Jakarta Intercultural School (JIS), Neil Bantleman dan Ferdinant Tjiong," ujar Blake dalam keterangan tertulis yang diterima wartawan,  Jumat (14/8).

Blake mendorong upaya penegakan hukum dan pengadilan yang independen di Indonesia. Sebab menurutnya hal itu merupakan bagian penting dalam sistem demokrasi mana pun dan kami menghargai keadilan serta kehati-hatian pengadilan tingkat banding Jakarta. Kedua guru JIS ini sebelumnya divonis 10 tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Bantleman dan Tjiong juga dihukum membayar denda Rp 100 juta subsidair 6 bulan kurungan.

Karena hukuman tersebut dianggap tak adil oleh mereka, keduanya lalu mengajukan banding. Di Pengadilan Tinggi DKI Jakarta, harapan keduanya terkabul. Mereka divonis bebas. Pengacara keduanya, Hotman Paris sudah merapat ke PN Jakarta Selatan untuk mengambil putusan bebas tersebut.

Sementara dalam pertimbangannya, majelis tingkat banding yang diketuai Silvester Djuma, mengatakan, keterangan saksi korban dalam sidang tingkat pertama diPN Jaksel, bukanlah merupakan alat bukti. "Karena sifat saksi korban masih anak-anak, menurut pasal 185 (7) kuhap, keterangan saksi yang tidak disumpah tidak merupakan alat bukti tetapi harus dipergunakan sebagai tambahan tambahan alat bukti yang lain," demikian pertimbangan majelis yang dibacakan Humas PT DKI M Hatta, di Gedung PT DKI, Jl Letjen Soeprapto, Jumat (15/8).

Hatta mengatakan, majelis tingkat banding juga tidak sependapat dengan majelis PN Jaksel. Menurut majelis banding, hasil pemeriksaan medis terhadap terdakwa ditambah keterangan ahli bukan merupakan suatu bukti. "Maka pertimbangan majelis tingkat pertama tidak cermat, tidak matang dalam masalah pembuktian," ujarnya. (Dang).

KOMENTAR DISQUS :

Top