Indonesia English
Kamis, 22 Februari 2024 |
Nasional - Peristiwa

Doorr Delapan Terpidana Mati, Australia Tarik Dubes

Rabu, 29 April 2015 18:33:54 wib - Komentar

Semarang,(Banten88.com):Banyak cerita mengharukan menjelang detik-detik eksekusi mati terhadap delapan orang terpidana mati narkoba. Apa mau dikata, kini ke-delapan terpidana mati sudah terbujur kaku tidak bernyawa lagi setelah peluru panas dihentakan regu tembak. Tampak di lapangan tembak Limus Buntu, Nusakambangan, lokasi yang dijadikan sebagai tempat untuk meng-eksekusi 8 terpidana terlihat sunyi senyap, tidak seperti hari kemarin yang ramai.

 Diperoleh cerita dari pendamping spiritual salah satu terpidana mati, Rina merasakan perpisahan yang tidak terlupakan dengan Okwudili Oyatanze. Rina mengantarkan warga Nigeria itu hingga terdengar suara dorr letusan tembakan yang menandai eksekusi sudah dilakukan. Rina, diketahui pendiri Yayasan Gita Eklesia itu mengaku sebelum eksekusi dilakukan, para rohaniwan diberi kesempatan mendoakan masing-masing terpidana yang didampingi selama 3 menit. "Kami diberi waktu 3 menit untuk mendoakan sebelum ditembak, mereka sudah sangat kuat. Sebagai pendeta, saya belum pernah melihat terpidana yang menyambut ajal penuh suka cita," tutur Rina di Panti Asuhan Eklesia, Rabu (29/4).

Menurut Rina, suasana itu semakin mengharukan saat 8 terpidana mati itu menyanyikan pujian berjalan menuju tiang eksekusi."Malam tadi delapan anak Tuhan itu bersuka cita, mereka menyanyi sampai ke tiang, sesaat kemudian terdengar suara kraakkk, dooorrr. Detik-detik itu saya bisa mendampingi, dan saya sangat bersyukur," imbuhnya penuh haru.

Usai dieksekusi, jenazah ditangani tim medis, Rina mendampingi jenazah Okwudili Oyatanze atau yang akrab disapa Dili. Setelah itu, jenazah warga Nigeria itu disemayamkan di panti asuhan eklesia sesuai permintaannya. Kedekatan Dili dan Yayasan Gita Eklesia cukup dekat karena selama 11 tahun ia sudah didampingi oleh Rina.

Sementara pasca eksekusi 8 terpidana mati, sejumlah Negara mengecam kebijakan pemerintah Presiden Jokowi yang telah mengabaikan hubungan diplomatik yang selama ini sudah terjalin baik. Salah satunya Australia yang mengisyaratkan ancaman akan memutuskan hubungan diplomatik dengan Indonesia, karena salah seorang warganya turut dieksekusi.

Mendapat ancaman itu, sontak membuat mantan Panglima Komando Daerah Militer Jaya Letjen (Pur) Sutiyoso naik darah. Mengenai ancaman dari negara asal terpidana mati seperti Australia menurutnya tak perlu digubris. Sutiyoso menilai jika hukuman mati sudah lewat prosedur yang sesuai maka ancaman negara lain tak usah dipedulikan. "Yang mana luar negerinya? Nda usah pedulikan, wong jelas-jelas pantas dihukum mati dan sudah dilakukan pada gelombang satu nggak usah mikir panjang-panjang. Itu pemerintah undang-undang, sikat aja," kata Sutiyoso di Makopassus, Cijantung, Jakarta Timur.

Mengenai pembatalan salah seorang terpidana mati asal Filipina, Mary Jane Veloso, menurut Bang-Yos, masih ada pertimbangan dari pemerintah Indonesia, dan sekarang bukti yang mengaku pelaku utamanya sudah ditahan Filipina sedang diselidiki. "Keputusan sudah ditinjau, kalau terbukti ya dieksekusi, kalau tidak ya jangan," katanya berapi-api.

Menurut Sutiyoso, penundaan eksekusi mati Mary Jane ini menjadi pro dan kontra. Untuk itu dia mengingatkan dalam hukuman mati diperlukan bukti-bukti yang meyakinkan. "Kalau namanya opini kan bisa pro-kontra, lihat dulu lah kalau ada bukti-bukti yang meyakinkan ya sikat, prinsipnya jangan menghukum orang yang tidak bersalah,” jelasnya. (Dang)

 

KOMENTAR DISQUS :

Top