Indonesia English
Selasa, 11 Desember 2018 |
Advetorial

Pilot Jebolan STPI Tangerang Harus Berjiwa Merah Putih

Senin, 25 Desember 2017 08:25:23 wib - Komentar
Drs.H. Harman Sujanto, SSIT, MM bersama para Taruna Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI) Curug, Kabupaten Tangerang.

Tangerang (Banten88.com):  PARA pilot atau penerbang lulusan Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI) Curug, Kabupaten Tangerang,  Banten, harus piawai menerbangkan pesawat dan harus berjiwa Merah Putih. STPI adalah sekolah penerbangan milik Departemen Perhubungan. Demikian diungkapkan dosen senior STPI, Drs. H. Harman Sujanto kepada media cyber www.banten88.com Minggu. (24/12/2018).

Lebih lanjut Harman membeberkan tidak hanya para pilot saja, namun seluruh Taruna STPI yang terbagi dalam 4 jurusan yakni Penerbang, Teknik Penerbangan, Keselamatan Penerbangan dan Management Penerbangan, harus berjiwa merah putih, menjunjung tinggi nilai - nilai Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika serta cinta NKRI.

Terkait dengan hal tersebut, dalam rangka membentuk mental taruna agar berjiwa Merah Putih, setiap taruna STPI wajib mengikuti Mata Kuliah Dasar Umum (MKDU) meliputi Pancasila, Ilmu Sosial Dasar, Ilmu Budaya Dasar, Bahasa Indobesia dan Agama.

Ini bedanya kurikulum di STPI dengan sekolah penerbang swasta. Karena MKDU tidak diajarkan di sekolah penerbangan swasta. Dalam kesempatan tersebut , Harman juga menegaskan bahwa pilot lulusan STPI soal kemampuan dan kepiawaian dalam menerbangkan pesawat, tidak gentar jika harus diadu dengan lulusan sekolah penerbang swasta.

Masih menurut Harman  dosen senior yang asli putra Solo ini, STPI menerapkan rekruitment calon penerbang  benar - benar  ketat dan bisa dipertanggungjawabkan dari segi mutu dan kualitasnya. Para calon penerbang tersebut agar bisa diterima sebagai taruna harus melalui berbagai tahapan test. Harus lulus test administrasi tentang kelengkapan dokumen pendidikan termasuk ijazah dsbnya. Lulus test potensi akademik untuk mata pelajaran Matematika, Fisika, Bahasa Inggris dan Psychotest. Lulus test Bakat, Kesehatan, Kesamaptaan dan wawancara. Rekruitment calon pilot di STPI diakui Harman jauh lebih ketat jika dibandingkan dengan sekolah penerbang swasta.

Jika di swasta calon penerbang hanya mengikuti test  simulator, kesehatan dan wawancara saja. Sedangkan waktu pendidikan di STPI untuk jurusan penerbang jauh lebih lama dibanding swasta yang hanya 18 bulan saja. Di STPI lama pendidikan pada jurusan penerbang  non gelar D2 dan D3 bisa mencapai 3 hingga 4 tahun. Lulusan D3 akan memiliki SIM komersil sehingga bisa menerbangkan seluruh jenis pesawat.

Namun Harman mengakui, bisa menyekolahkan anaknya disekolah penerbang masih merupakan cita - cita favourite para orang tua. Karena pilot merupakan profesi yang membanggakan keluarga. Saat ini biaya sekolah jurusan penerbangan di STPI maksimal Rp. 250 juta. Biaya tersebut sudah termasuk asuransi, makan, tidur di asrama dan fasilitas laundry.

Asrama taruna yang baru diperkirakan bisa menampung 1800 orang. Sedangkan sekolah penerbang swasta biayanya antara Rp.800 juta hingga Rp.1 miliar. Oleh karena  itu persaingan masuk STPI pada jurusan Penerbang  sangat ketat,. " Diperlukan anak cerdas dan berbakat untuk mengisi jurusan Penerbang ", tambah Harman yang juga pernah menjabat sebagai Ka.Unit Bimbingan Taruna (Bimtar) dan Ka.Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (PPM) STPI ini.

 

PUNYA HUMAN RELATIONS  YANG BAIK.

Sebagai pejabat dan dosen senior, Harman dikenal rendah hati dan mempunyai human relations yang baik. Ia tidak merasa gengsi ngobrol atau sekedar berbagai rokok dan kue  kepada office boy atau para pedagang yang berjualan tak jauh dari depan rumahnya yang rindang. " Kalau mereka yang nyamper saya rasanya akan pakewuh. Tapi kalau saya yang menghampiri, sehingga  terjadi dialog kekeluargaan yang baik " tutur dosen senior  pengajar mata kuliah Instalasi Tenaga Listrik untuk pesawat yang juga hoby bernyanyi ini.

Kepada media cyber banten88.com Harman menuturkan, misalnya jika kita ada apa - apa bukan saudara yang jauh yang memberikan pertolongan, tapi mereka - mereka itu yang kelak akan turun tangan. Dari komunikasi yang baik, saling menghormati dan saling menghargai, akhirnya jadi saudara.

Dalam bergaul dengan lingkungan, kita lepas jabatan kata hati yang bicara, paparnya. Ia sampaikan ketenteraman dan ketenangan hati adalah kunci agar kira tetap sehat ditengah padatnya berbagai kegiatan. Dosen senior ini telah menghantarkan para anak didik yang kini sudah " menjadi orang penting "  kebanyakan berkarier di perhubungan udara dan airlines. Komunikasi dosen senior dengan bekas anak didiknya yang rata -:rata sudah menjadi pejabat, tetap terjalin dengan baik hingga saat ini. Demikian dosen dan pejabat senior STPI, Drs. H. Harman Sujanto, SSIT, MM.( SS.)

KOMENTAR DISQUS :

Top