Indonesia English
Minggu, 25 Agustus 2019 |
Politik

EKA SATRIA SAMPAIKAN "PARADOKS INDONESIA " DIDEPAN PARA SIMPATISAN

Jumat, 08 Maret 2019 12:45:24 wib - Komentar
EKA SATRIA RAMADHAN.

KUNINGAN (Banten88.com) : EKA SATRIA RAMADHAN, S.T., MBA Caleg DPRD Kabupaten Kuningan  Jabar dari partai Gerindra meliputi wilayah Kecamatan Kuningan, Cigugur, Sindang Agung , Garawangi, Ciniru dan Hantara, Selasa  malam (5/3/2019) berdialog dengan para simpatisan bertempat dirumah Dudung Sudarman, seorang simpatisan partai Gerindra yang tinggal di Kelurahan Cigugur.

Eka Satria dalam penyampaiannya  tentang Paradoks Indonesia yang merupakan pandangan strategis Capres dan Cawapres nomor urut 2  Prabowo - Sandi mengatakan, Paradoks Indonesia adalah " kejanggalan " tentang kondisi yang terjadi di Indonesia. Negara kita, beber Eka Satria, seperti diungkapkan Capres pak Prabowo, kaya akan sumber daya alam dan sumber daya manusia. Namun mengapa masih banyak rakyat Indonesia yang hidup miskin dan lapar?. Mengapa biaya hidup semakin tinggi dan mengapa pula mencari pekerjaan begitu susah?. Mengapa negara kita terus berhutang?. Mengapa kekayaan kita terus mengalir ke luar negeri ?. Kondisi inilah yang disebutkan oleh pak Prabowo Subianto (Ketua Umum Partai Gerindra) sebagai " Paradoks Indonesia ", tegas Eka.

Selanjutnya Caleg Dapil 1 Kuningan ini memaparkan lagi, seperti disampaikan Capres nomor urut 2 pak Prabowo Subianto terkait potret kekayaan Indonesia bahwa luas daratan Indonesia seluas benua Eropa. Merupakan negara kepulauan terbesar di dunia. Garis pantai terpanjang di dunia. Jumlah penduduk terbesar ke - 4 didunia. Memiliki sumber daya alam melimpah meliputi : potensi hutan, tambang, pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan dan kelautan. Semua jenis bahan tambang ditemukan di Indonesia. Daerah tropis yang subur, keanekaragaman flora dan fauna yang tinggi. Keragaman suku, bahasa, religi dan seni budaya.

POTRET KEMISKINAN

Dalam kesempatan jumpa dengan simpatisan Gerindra di kediaman Dudung  Sudarman Selasa malam tsb, Caleg Eka Satria juga mengemukakan  potret kemiskinan di Indonesia yang dijabarkan Capres Prabowo Subianto bahwa 68 juta orang atau 26,9 % tergolong miskin karena hidup dibawah standard Bank Dunia penghasilan dibawah dibawah US$ 1,3 atau Rp.17.000,- per hari (Bank Dunia, 2015). Kenyataannya seperti ditegaskan pak Prabowo Subianto, saat ini jumlah rakyat Indonesia yang miskin semakin meningkat lebih dari 100 juta orang karena kenaikan biaya hidup (harga BBM, listrik /TDL, gas elpiji, sembako, biaya transportasi, biaya pendidikan dll), serta minimnya lapangan pekerjaan. Yang kaya makin kaya yang miskin makin miskin. 1% penduduk menguasai 49% kejayaan Indonesia dan 1% penduduk mengusai pula 72% tanah Indonesia, tutur Eka Satria menjabarkan pandangan strategis capres Prabowo Subianto didepan para simpatisan dikediaman Dudung Sudarman.

Sistem ekonomi yang diterapkan saat ini terbukti lebih menguntungkan segelintir orang atau kelompok dibandingkan mayoritas rakyat. Ekonomi lebih dinikmati oleh masyarakat yang memiliki kekuatan modal dibandingkan rakyat kecil.

SOLUSI PRABOWO - SANDI

Prabowo - Sandi dan Gerindra dengan tegas menyatakan bahwa sistem ekonomi yang dianut sekarang ini keliru dan harus dikoreksi. Kita harus kembali kepada Pasal 33 UUD 1945 sesuai yang diamanatkan oleh pendiri Bangsa, Soekarno - Hatta dengan melaksanakan sistem ekonomi Pancasila atau Ekonomi Kerakyatan.

Sistem ekonomi Neo - liberal yang sekarang ini diterapkan adalah pasar bebas dan prinsip menetes kebawah yang menyebabkan " orang kaya semakin kaya, orang miskin semakin miskin ". Dengan sistem ekonomi kerakyatan maka kebocoran anggaran dan mengalir keluarnya kekayaan nasional keluar negeri dapat diminimalkan sehingga Bangsa Indonesia akan memiliki dana pembangunan yang cukup untuk mensejahterakan rakyat. Demikian disampaikan  Eka Satria Ramadhan, S.T., MBA, Caleg

DPRD Kuningan tentang pandangan strategis capres nomor urut 2 Prabowo Subianto soal Paradoks Indonesia didepan para simpatisan dikediaman Dudung Sudarman di Cigugur, Kuningan, Jabar. (SS).

KOMENTAR DISQUS :

Top