Indonesia English
Sabtu, 17 November 2018 |
Pemerintahan

Gubernur: Kesehatan Jadi Program Prioritas Utama dalam Pembangunan Banten

Kamis, 08 November 2018 19:03:53 wib - Komentar
Gubernur Banten Wahidin Halim pada acara Pengembangan Model Percepatan Pelaksanaan Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PIS-PK) APBD 2018 di Pendopo Gubernur, KP3B, Curug, Kota Serang pada Kamis (8/11/2018).

Serang,(Banten88.com): Program Kesehatan menjadi sangat strategis karena merupakan bagian dari misi Pemprov Banten yang tertuang dalam RPJMD dengan menempatkan kesehatan sebagai prioritas utama program Pembangunan Pemprov Banten, salah satunya melalui kebijakan yang mengarah pada upaya peningkatan pembangunan kesehatan di seluruh wilayah Banten berupa jaminan kesehatan untuk mewujudkan masyarakat yang sejahtera dan merasa aman dalam melakukan berbagai kegiatan kesehariannya.

Hal ini dikatakan Gubernur Banten Wahidin Halim dalam sambutannya saat membuka acara Pengembangan Model Percepatan Pelaksanaan Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PIS-PK) APBD 2018 di Pendopo Gubernur, KP3B, Curug, Kota Serang pada Kamis (8/11/2018).

Selanjutnya dikatakan Gubernur, bahwa persoalan kesehatan di Provinsi Banten masih menjadi hal yang krusial dan membutuhkan perhatian khusus dari seluruh pihak. Tidak hanya mengenai disparitas wilayah timur, utara, barat dan selatan, namun dari segala sisi masih membutuhkan perhatian khusus. Seperti sarana prasarana yang kurang memadai hingga kurangnya tenaga medis seperti dokter dan petugas kesehatan lainnya. Oleh karenanya, target RPJMD 2017-2022 ditargetkan akan merekrut sebanyak 500 orang tenaga medis. Tahun 2017 sebanyak 100 orang, tahun 2018 sebanyak 200 tenaga medis dan sisanya 200 orang ditargetkan selesai tahun depan. Termasuk perekrutan dokter spesialis yang saat ini jumlahnya memang belum memadai, Pemprov telah menganggarkan dengan peningkatan pendapatan cukup signifikan dari sebelumnya.

“Begitu juga jalan-jalan yang menuju RS atau Puskesmas akan saya bangun, kalau rumahnya nggak layak huni saya bangun juga, kalau katanya banyak hantunya, hantunya udah saya tertibin,” seloroh Gubernur yang disambut tawa peserta yang hadir dalam acara tersebut.

Untuk itu, lanjut Gubernur, perlu ditelusuri penyebab mengapa Banten belum menjadi daya tarik bagi tenaga kesehatan khusus untuk mengabdi dan melayani masyarakat. Disamping itu, perlu membangun etika dan wawasan yang merangsang motivasi agar dokter-dokter spesialis mau bekerja di Banten khususnya wilayah selatan. Menurutnya, dibutuhkan diskusi panjang untuk memecahkan persoalan kesehatan sesuai dengan kewenangan baik dari provinsi maupun kabupaten/kota. Jangan sampai ada semacam sekat-sekat antara provinsi dengan kabupaten/kota, karena pada hakikatnya pemerintah provinsi memiliki fungsi melakukan upaya pembinaan-pembinaan kepada pemerintah daerah di bawahnya sesuai dengan amanat undang-undang nomor 23 tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah.

“Tahun ini kita juga akan bangun rumah sakit di Kecamatan Cilograng, Kabupaten Lebak dalam upaya memfasilitasi masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan agar tidak perlu berobat ke Sukabumi, Jawa Barat. Karena prinsip saya, kalau masyarakat sakit, bagaimana mau produktif. Kalau umur tidak panjang, bagaimana mau produktif. Saya berharap pada Plt Kadinkes dan jajarannya untuk terus menerus berkoordinasi dengan kabupaten dan kota, harus sama-sama mengantisipasi persoalan kesehatan,”jelasnya.

Terakhir, Gubernur meminta agar sarana prasarana kesehatan di kabupaten/kota dapat terus ditingkatkan untuk menunjang pelayanan kesehatan yang lebih optimal. Terkait program kesehatan gratis, Pemprov menunggu data validasi dari kabupaten/kota terkait jumlah masyarakat yang belum ditangani oleh pemerintah kabupaten/kota. Karena berdasarkan data Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, dari 4 juta masyarakat Banten yang terdaftar, lebih dari 3000 orang identitasnya tidak jelas. Sehingga membutuhkan validasi agar diketahui peserta BPJS sesuai nama dan alamatnya. “Kalau datanya sudah ada, kita bisa anggarkan dan kita bisa sharing dengan kabupaten/kota. Makanya perlu dibangun kerjasama teutama soal data. Sehingga bentuk bantuannya jelas kepada penerima yang memang membutuhkan,”tegasnya.

Sementara dalam laporannya, Plt Kadinkes Provinsi Banten M Yusuf mengungkapkan bahwa pelaksanaan PIS-PK ditekankan pada integrasi pendekatan akses pelayanan kesehatan, ketersediaan tenaga kesehatan, pembiayaan serta sarana prasarana termasuk program upaya kesehatan masyarakat dan perseorangan yang mencakup seluruh keluarga dan wilayah puskesmas, dengan memperhatikan manajemen puskesmas. Selain itu, perlu dilaporkan pula bahwa kegiatan ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang kemajuan pelaksanaan PIS PK, menilai keberhasilan PIS PK, meningkatkan pembinaan keluarga secara terintegrasi dan berkesinambungan, meningkatkan komitmen daerah dalam pelaksanaan PIS PK, meningkatkan capaian target sasaran keluarga sehat dan melakkan perencanaan kebutuhan wilayah kesehatan dengan tepat. “Pertemuan koordinasi pelaksanaan PIS PK pada hari ini, dengan jumlah peserta sebanyak 260 orang terdiri dari dinas kesehatan kabupaten/kota, kepala puskesmas dan lintas program Dinas Kesehatan Provinsi Banten,”tutur Yusuf.

Dalam acara juga dilakukan pemberian piagam penghargaan pemenang Puskesmas Berprestasi tingkat Provinsi Banten berdasarkan Keputusan Gubernur Banten nomor 002.6/Kep.232-Huk/2018 tertanggal 14 September 2018, dengan rincian ategori Tingkat Perkotaan yakni Juara I diperoleh Puskesmas Cibeber, Kota Cilegon, Juara II oleh Puskesmas Gembong, Kabupaten Tangerang, Juara III oleh Puskesmas Parigi, Kota Tangerang Selatan. Untuk kategori Tingkat Pedesaan yakni dimenangkan oleh Puskesmas Bojongmanik, Kabupaten Lebak. Selain itu, diberikan pula piagam penghargaan pemenang Penilaian Kelompok Asuhan Mandiri, Taman Obat Keluarga dan Akupresur Tingkat Provinsi Banten tahun 2018 berdasarkan Keputusan Gubernur nomor 002.6/Kep.189-Huk/2018 tertanggal 23 Juli 2018, dengan rincian Juara I Kategori Tingkat Perkotaan diantaranya Kelompok Asuhan Mandiri ‘Dewandaru’, Puskesmas Pasar Kemis, Kelurahan Sindangsari, Kecamatan Pasar Kemis, Kabupaten Tangerang, Juara II Kategori Tingkat Perkotaan oleh Kelompok Asuhan Mandiri ‘Lavender’, Puskesmas Pisangan, Kelurahan Pisangan, Kecamatan Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan, Juara III Kategori Tingkat Perkotaan oleh Kelompok Asuhan Mandiri ‘Zodia’, Puskesmas Citangkil, Kelurahan taman Baru, Kecamatan Citangkil, Kota Cilegon. Dan untuk Juara I Kategori Tingkat Pedesaan oleh Kelompok Asuhan Mandiri ‘Sereh Wangi’, Puskesmas Cimanuk, Desa Batu Bantar, Kecamatan Cimanuk, Kabupaten Pandeglang.(ERN).

KOMENTAR DISQUS :

Top