Indonesia English
Rabu, 06 Juli 2022 |
Nasional - Hukum dan Kriminal

Irjen Ronny Sompie Tantang Hotma Sitompoel Gugat Polri

Selasa, 30 Juni 2015 21:59:37 wib - Komentar
Kapolda Bali Irjen Ronny Franky Sompie.

Denpasar, (Banten88.com)- Setelah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus pembunuhan Engeline (8), siswi kelas II SDN Sanur, Margriet Christina Megawe (60), menolak untuk dilakukan pemeriksaan oleh penyidik Polda Bali. Margriet menolak diperiksa melalui alat tes kebohongan menggunakan detektor kebohongan atau lie detector.

Kuasa hukum Margriet, Hotma Sitompoel, memastikan penolakan pemeriksaan terhadap kliennya. Hotma menilai, pemeriksaan dengan lie detector tidak perlu lagi karena sebelumnya, Margriet sudah pernah menjalani tes serupa.  "Kita keberatan diperiksa, karena Margriet sudah dua kali diperiksa. Sudah ditetapkan sebagai tersangka pembunuhan, bukannya seharusnya semua alat bukti yang ada sudah lengkap," ujar Hotma, Selasa (30/6).

Dalam membela hak kliennya, Hotma menegaskan, jika seseorang ditetapkan sebagai tersangka, tentu saja sudah ada bukti-bukti yang meyakinkan sangkaan penyidik. "Pertanyaannya kenapa harus diperiksa dengan lie detector lagi jika sudah pernah tes kebohongan, emua hasil lie detector, keterangan Puslabfor, barulah ditetapkan sebagai tersangka. Kalau sekarang dimintai keterangan, untuk apa lagi klien kami diperiksa," tukasnya.

Atas penetapan tersangka Margriet, rencananya Hotma akan melakukan praperadilan terhadap penyidik Polda Bali. Langkah itu menurutnya akan dilakukan untuk menemukan rasa adil dalam penetapan tersangka kliennya. “Kita sedang mempersiapkan langkah praperadilan, kita lihat saja apakah sah penetapannya,” katanya.  

Menanggapi praperadilan Hotma, Kapolda Bali Irjen Ronny Franky Sompie mempersilakan Hotma Sitompoel selaku kuasa hukum tersangka kasus pembunuhan Engeline, Margriet Megawe, untuk menggugat Polri jika tak puas dengan penyidikan yang dilakukan Polda Bali dan Polresta Denpasar.

"Silahkan saja diguhat, dasarnya dia menolak apa, ya digugat saja ka nada ruangnya. Kalau komplain itu jangan hanya disampaikan kepada media, tetapi dijawantahkan melalui sebuah prosedur hukum. Kalau ada penyimpangan di dalam proses penyidikan, itu ada ruangnya, yaitu pra-peradilan. Saran saya, silahkan digugat saja," tegas Ronny.

Lebih lanjut Ronny menyatakan, jalur untuk meminta keadilan bisa ditempuh dengan melapor ke Mabes Polri jika tidak puas dengan kinerja penyidik. Dalam penanganan kasus pembunuhan Engeline yang ditangani Polresta Denpasar, penyidik Reskrimum Polda Bali memang memberikan bantuan.

"Silahkan laporkan saja ke Mabes Polri kalau ada penyimpangan. Nanti kan pihak dari  Mabes Polri turun untuk mengawasi. Tidak ada tekanan dari Polda Bali untuk penyidik Polresta Denpasar. Apakah Polda Bali tidak boleh membantu Polresta Denpasar, terus buat apa Kepolisian Nasional ini dibentuk,"  tandasnya.

Dikatakan Ronny, mengenai tugas kepolisian nasional ada sampai tingkat polsek. Ada Peraturan Kapolri Nomor 14 Tahun 2012 tentang Manajemen Penyidikan yang menjadi pegangan penyidik Polda Bali ketika melakukan asistensi. "Jangan pula diartikan sewenang-wenang, bukan ada kepentingan pribadi, melainkan hanya kepentingan untuk keadilan," katanya.

Seperti diberitakan sebelumnya, dalam perkembangannya, saat ini Margriet sudah ditetapkan jadi tersangka dalam dua kasus, yaitu kasus penelantaran anak dan kasus pembunuhan. Dalam kasus penelantaran anak yang ditangani Polda Bali dan kasus pembunuhan yang ditangani Polresta Depansar. Dalam kasus penelantaran anak, Margriet masih mau diperiksa. Namun ketika ditetapkan sebagai tersangka pembunuhan Engeline sejak 28 Juni 2015, dia menolak diperiksa sebagai tersangka kasus pembunuhan. (Dang).

KOMENTAR DISQUS :

Top