Indonesia English
Senin, 21 Januari 2019 |
Nasional

JEJAK SANG LEGENDA. NO KOES USIA PENDEK TINGGALKAN BANYAK LAGU TENAR

Rabu, 12 September 2018 06:24:32 wib - Komentar
PERSONEL band No Koes. Berdiri : Pompy Suryadarma, Bambang Karsono dan Usman.Duduk : Said, Nomo Koeswoyo dan Sofyan.

Oleh : Seno Supono

PADA 1973 ketika band legendaris Koes Plus sedang berada di puncak ketenaran, para penggemar musik pop dikejutkan dengan kehadiran sang pesaing baru yakni band No Koes.

Band ini diawaki oleh Nomo Koeswoyo mantan drumer band tenar Koes Bersaudara adik kandung leader Koes Plus Tonny Koeswoyo.

Nomo berperan sebagai leader, aranger, penulis lagu dan penyanyi serta memainkan gitar akustik. Dia juga Direktur Operasi perusahaan rekaman besar PT. Yukawi Indo Musik merupakan saingan kuat PT. Remaco tempat singgasana band besar Koes Plus yang kala itu merajai blantika musik pop.

Perusahaan rekaman Yukawi Indomusik juga tempat bernaungnya musisi dangdut legendaris R.H.Oma Irama saat mencetak hits Begadang, Rupiah dan Penasaran.

Selain Rhoma Irama duo country Franky and Jane dari Surabaya juga bernaung dibawah panji Yukawi yang beralamat di Cimanggis Depok.

Nomo sadar, pesaingnya adalah band raksasa yang memiliki mega hits bukan main banyaknya.

Maka direkrutlah oleh Nomo musisi yang memiliki skill dan punya warna untuk memperkuat No Koes.

Dalam percakapannya dengan penulis, Nomo yang usianya saat ini sudah kepala 7 namun tampak sehat, bicara jelas dan pendengarannya bagus.

Dia didampingi putra bungsunya Reza Koeswoyo adik penyanyi tenar Chicha Koeswoyo dan Helen Koeswoyo. Reza juga mantan penyanyi cilik.

Nomo kini tinggal di Magelang kota sejuk dan damai dilereng Gunung Merbabu bersama keluarga Reza.

Penulis bertanya, apa resepnya hidup sehat mas ?. " Olahraga, ngasuh cucu, berbicara baik dan berperilaku baik ", tutur penemu bakat duet country legendaris Franky and Jane ini.

Kemudian terkait dengan pendirian No Koes, apa kreterianya memilih personel No Koes, tanya penulis ?. " Saya memilih gitaris Bambang Karsono dan Keyboardist Pompy Suryadarma serta  Usman (gitar rhythem), Said (bas) dan Sofyan. Karena Bambang dan Pompy saya memiliki skill permainan yang baik. Sedangkan trio Usman, Said dan Sofyan mereka sudah memiliki ciri khas ".

Seperti diketahui trio Usman, Said dan Sofyan adalah saudara kandung, ketiganya pemain band Mans Group pengisi kaset side B album Panbers di perusahaan rekaman Dimita Moulding dan sudah punya hits berjudul Surabaya dan Padang Dosa.

Pilihan Nomo atas Pompy Suryadarma tidak salah karena dikemudian hari permainan organ Pompy dan gebukan drum Sofyan sangat mempengaruhi musik No Koes.

Pompy tidak menggunakan organ Farfisa buatan Perancis yang dikenal suaranya lembut seperti dipakai Tonny Koeswoyo (Koes Plus) dan Charles Hutagalung (The Mercys). Namun Pompy memakai organ buatan Portugal yang suaranya menghentak keras dan dengan bunyi sangat khas.

Hampir semua lagu No Koes didominasi suara organ Pompy. Sehingga fans musik langsung tahu itu organ No Koes yang rancak yang memainkan  Pompy.  11 lagu ditampilkan No Koes dalam album perdana dengan title " Sok Tahu ". hebatnya langsung populer. Ketenaran band No Koes mulai membayang - bayangi sang raja pop Koes Plus.    Yang lebih " kurang ajar " lagi adalah para producer kaset bajakan. Disampul kaset No Koes versi bajakan diatas tanda silang warna merah ciri utama album No Koes dipajang foto Tonny Koeswoyo.

Sehingga menimbulkan berbagai tafsir dikalangan penggemar musik pop bahwa hits Sok Tahu yang ditulis Nomo di album perdana No Koes adalah sindiran yang ditujukan kepada sang kakak Tonny Koeswoyo.

Lyrik lagu SOK TAHU

Ya ya ya  ya  ya

Sekarang dikau tahu

Ya ya ya ya ya

Akan perbuatanku

Jangan berlagak sok tahu semuanya

Semua itu palsu bagaikan isi hatimu

Ya ya ya ya ya sekarang aku puas

Ya ya ya ya ya

Biarkan aku bebas.

PERSETERUAN SENGIT NOMO VS TONNY DIKIPAS

Kala itu tertiup kuat aroma persaingan antara Tonny dipihak Koes Plus dan Nomo sebagai benggolan No Koes. 

Media cetak mengipas - ngipas perseteruan sengit sesama " marga ' Koeswoyo ini. Waktu itu media cyber belum lahir.

Ketika album Koes Plus Volume XII beredar dengan mega hits " Cinta Buta ", No Koes dalam album Volume V menyindir  Koes Plus dengan membuat lagu ber lyrik kontra dengan lagu Cinta Buta . Lagu yang ditulis Nomo dalam irama Pop Rock tsb diberi judul  Siapa Bilang.

Soal ngeledek lagu Cinta Buta milik Koes Plus, itu juga diakui Nomo kepada penulis. " Tapi kami hanya tidak akur di media saja lho ", tutur Nomo.

Perseteruan No Koes vs Koes Plus

terus memanas karena dikipas media. Dampaknya penggemar Koes Plus dan No Koes terbelah dua seperti Pilkada DKI  2017.

Namun perang tanding saudara sekandung itu, seperti dikatakan Nomo Koeswoyo, hanya terjadi di media saja. " Kami adalah saudara kandung yang akur " tutur Nomo yang didampingi putra bungsunya Reza Koeswoyo kepada penulis.

Dalam pengamatan penulis, itu artinya dinasti Koeswoyo cerdik memanfaatkan power media agar ketenaran mereka terus terpompa.

7 SUPER GROUP BERJAYA DI DEKADE 70 AN

Pada pertengahan tahun 70 an itu, perusahaan rekaman terbesar di Asia Tenggara PT.Remaco memiliki 6 super group yakni : Koes Plus, Panbers, The Mercys, Trio Bimbo & Iin Parlina, Dlloyd dan Favourites Group.

Namun sesungguhnya jika mau jujur di blantika musik pop kala itu ada 7 super group salah satunya adalah No Koes.

Sebagai super group No Koes tidak kalah tenar dengan 6 super group made in Remaco.

Bahkan  ketenaran No Koes  terus membayang - bayangi Koes Plus. Jika Koes Plus kata mas Yon pada penulis banyak menolak show karena jadwal rekaman yang sangat padat dan pada akhirnya hal itu disesali mas Yon.

" Coba kalau dulu saat Koes Plus tenar kita layani permintaan show, tentu Koes Plus akan memperoleh pemasukan uang yang banyak ", tutur mas Yon kala itu menerawang ke masa Lalu.

Nomo Koeswoyo adalah sosok piawai dibidang komunikasi massa dan komunikasi bisnis.

Untuk mempopulerkan No Koes, band ini menggebrak tour show ke kota - kota di Jawa mulai Bekasi hingga Malang. Targetnya bukan laba tapi ketenaran. Jika sudah tenar tentu mudah mencari uang. Nomo juga piawai memanfaatkan power media dan berteman baik dengan wartawan musik beken seperti Zan Zapha, Denny Sabri, SK. Martha, Yoyo Dasriyo (Yodaz), Bens Leo, Theodira KS, Milur Milardi, Ipong C, Yusril Jalinus majalah Tempo dll nya.

UMUR PENDEK TINGGALKAN BANYAK LAGU TENAR

Sebagai super group yang sangat digemari, umur band legendaris No Koes tidak panjang hanya sekitar 3 tahun.

Band ini tenar dengan tag line " Kulo Nicky Sinten " atau terjemahannya " Saya Ini Siapa? "  atau bisa diartikan sebagai " Elu belum tahu siapa gue. Elu jangan macam - macam ama gue. Tar gue balikin lu ".

Itu semboyan atau kredo atau tagline laki - laki cerdas, pemberani dan penuh percaya diri. Itulah analogi tentang sosok Nomo Koeswoyo.

Tiba - tiba bagai ledakan petir menyambar saat dinihari. Majalah musik TOP yang merupakan saingan majalah musik tenar Aktuil menurunkankan headline berjudul NO KOES DIAMBANG KEHANCURAN.

Berita itu mengguncang jagat musik pop Indonesia. Penggemar No Koes seperti lagunya Audy Item, menangis semalaman.

Akhirnya No Koes bubar.

Nomo bergabung dengan saudara kandungnya Tonny, Yon dan Yok mengibarkan Koes Bersaudara 1977.

Setelah itu dedengkot No Koes ini bersolo karier di Remaco mengetengahkan hits Laki - laki dan Pompy masih membantu Nomo dalam album No Koes in Hard Beat yang mengkedepankan hits Saudara Tua dengan memanggil Yok Koeswoyo sebagai pemain bas tamu.

Sementara trio Usman; Said dan Sofyan merekrut adik kandungnya Mamo Agil organist band Pandawa Lima Semarang untuk membentuk band Usman Bersaudara yang mengguncang dengan hits Omong Kosong dan Kasih Mama.

Meski berumur hanya 3 tahun, No Koes meninggalkan puluhan mega karya emas antara lain :

1. Album pop Indonesia dengan mega hits : Sok Tahu, Mimpi Indah, Perantauan, Saat Kupulang Sendiri, Dicari, Pola Hidup Sederhana, Bersepeda, Telah Kucoba, Numpang Lewat, Malam yang Indah, Rindu, Remaja dan Cinta serta Kisah Seniman.

POP JAWA : Kulo Nicky Sinten, Jaranan, Kulo Nuwun, Tukang Panjak Wetonan Tuban, Gondal Gandul, Srengenge Nyunar, Si Dul

POP MELAYU : Keadilan Tuhan, Bebas, Ditinggal Ayah, Evie Adiku,

Jangan selalu marah, Sarinah dll.

POP KERONCONG : Ibu Sayang, Keroncongan, Keroncong Perpisahan dan Sahabat Karibku.

FANS NO KOES BELUM TERORGANISIR

Saat ini belum ada seorang inisiator yang mau mengelola fans fanatik serta melestarikan mega karya band No Koes.

Padahal penggemar No Koes utamanya di Jakarta, Jawa Tengah dan Jawa Timur masih banyak.

Ini berbeda dengan Koes Plus. Group ini punya organisasi bernama Jiwa Nusantara yang didirikan Wasis Susilo dan Yok Koeswoyo pada 2004.

Tugasnya mengelola fans Koes Plus dan melestarikan mega karya emas band Kus Bersaudara dan Koes Plus lintas generasi.

Menurut Ketua Jiwa Nusantara  Surabaya dan juga Sejarawan Koes (Kus Bersaudara, Koes Plus dan No Koes) Okie T. Rahardjo yang dikenal dekat dengan Nomo Koeswoyo kepada penulis Selasa (12/9/2018) menguraikan, jumlah album No Koes selama berkarier sbb : 7 album Pop Indonesia, 4 Album Pop Jawa, 2 album Pop Anak - anak, 4 album Pop Melayu, 3 album Pop Jawa Melayu, 2 album Pop Keroncong, 1 album No Koes in Hard Beat dan 1 album Natal. #

KOMENTAR DISQUS :

Top