Indonesia English
Rabu, 26 September 2018 |
Nasional

JOGYA DAN SOLO LAYAK PEROLEH PREDIKAT SEBAGAI " KOTA KOES PLUS "

Sabtu, 09 Juni 2018 19:19:26 wib - Komentar
Ketua Komunitas Koes Plus Jogyakarta (JKPC) Wowo Sastro Nugroho bersama David Yon Koeswoyo, Chicha Nomo Koeswoyo dan Louise Herning Hapsari (Sari) Yok Koeswoyo.

Jakarta,(Banten88.com): # 2019 GANTI PRESIDEN saat ini sedang menggejala. Namun disini penulis tak hendak membahas masalah politik praktis. Namun penulis amat terkesan dengan # 2019. 50 TAHUN KOES PLUS yang tertera dalam T. Shirt yang dikenakan mas Wowo Sastro Nugroho, Ketua Jogya Koes Plus Community (JKPC). T.Shirt warna hitam dengan tampilan huruf tegas memang " sadap  nian " dipandang.

Band legendaris Koes Plus dengan formasi Tonny Koeswoyo, Yon Koeswoyo, Yok Koeswoyo dan Murry didirikan di Jakarta pada 1969. Tahun 2019 mendatang,  band Koes Plus genap berusia 50 tahun. Kelompok musik yang amat berjaya dan berpengaruh  pada dekade 70 an itu memiliki imitator atau pengikut yang jumlahnya mencapai 600 group diseluruh Indonesia.

Informasi ini penulis peroleh dari Ir.Wasis Susilo. MM , ia yang bersama basist Koes Plus Yok Koeswoyo  mendirikan  organisasi kemasyarakatan Jiwa Nusantara (JN)  yang secara intensif mengelola kegiatan  fans Kus Bersaudara dan Koes Plus. Para imitator ini lazim disebut sebagai band Pelestari yang tugasnya melestarikan mega karya Kus Bersaudara dan Koes Plus. Para pemain band pelestari ini berusaha sekuat tenaga dalam penampilannya baik musik, vocal dan costum agar mirip Koes Plus.

Dengan memiliki 600 imitator, ini merupakan peristiwa yang sangat membanggakan. Dengan demikian selain tepat dan pantas memperoleh gelar sebagai band legendaris, satu predikat lagi yang layak disematkan kepada Koes Plus adalah Koes Plus telah menjelma menjadi suatu aliran musik. Jika selama ini dalam aliran musik ada  pop, rock, jazz dll nya. Kini muncul aliran baru yakni aliran musik Koes Plus. Dahsyatnya aliran tersebut   sudah mewabah hingga ke daratan Amerika. Musisi asal AS, Alan Bishop mantan personel Sun City Girls kini mendirikan  band dengan nama  West Koes (Koes Barat).

Band tsb telah merekam ulang 11 mega hits milik Kus Bersaudara dan  Koes Plus, seperti Kelelawar, Mister Time, Poor Clown, Land of Ever Green, Tiba-tiba ku Menangis, Pentjuri Hati, Rahasia Hatiku dll nya. Ini  fakta tidak terbantahkan  betapa pengaruh Koes Plus begitu dahsyat  mempengaruhi musisi kelas dunia.

JOGYA DAN SOLO " KOTA KOES PLIS ".

Masih tutur Wasis Susilo yang juga ketua JN periode pertama (2004), saat ini di Jogya dan Solo terdapat 30 stasiun Radio yang setiap harinya memutar lagu - lagu Koes Plus minimal 1 jam dalam seharinya. Acara tsb bisa mencapai 2 jam jika ditambah dengan ulasan eksistensi  tentang Koes Plus.

Sementara itu, Ketua Komunitas Koes Plus Jogyakarta  mas Wowo Sastro kepada penulis mengungkapkan, minimal harus ada 4 komponen pendukung agar pelestarian mega karya Koes Plus semakin masive disetiap daerah. Komponen itu  meliputi tumbuh dan berkembangnya band pelestari. Lalu ada organisasi yang mengurus dengan konsisten kegiatan fans. Harus tersedia panggung untuk mengisi acara " Koes Nite " secara live dan rutin  dan didukung media seperti Radio yang menggeber lagu - lagu Koes Plus. Di Jogya, masih ungkap Wowo Sastro, inilah Radio yang rutin memutar lagu - lagu milik Koes Plus antara lain  Radio Sonora Jaringan Jogyakarta, RRI, Retjo Buntung, GCD  dan MBS.

Wowo secara rutin bersama Mandrowo personel band pelestari Hoss Band  setiap Senin pukul 19.00 hingga jam 21 memandu acara pemutaran dan ulasan  Koes Plus di Sonora Jogya. Disamping Jogya, Radio Sonora juga menyiarkan acara serupa di Jakarta dengan pembawa acara Agusta Marzhall dan di Surabaya dipandu Okie T. Rahardjo. Srdangkan  untuk Jogyakarta, band pelestari yang paling detail dalam penggarapan musik dan vocal agar mirip Koes Plus adalah Hoss Band dan ini terbilang paling senior.

Setelahnya ada Jogya Plus, Dia Plus, AM Plus, Spirit Band, Union Band, Nusanrara Jogya dan masih banyak lagi. Eloknya di Jogya ini, juga begitu banyak panggung yang memberikan kesempatan kepada band imitator Koes Plus untuk unjuk kebolehan. Panggung itu antara lain Kompayo XT Square, Gardena, Etnic Cafe, RRI, Museum Benteng Vredeburg, Lavender Lounge Rich Hotel, Edu Park dan panggung RM. Bu Hartin. Sebagai komandan komunitas Koes Plus Jogya, Wowo secara intensive mengelola kegiatan fans yang kini anggotanya semakin banyak anak muda. " Minimal setiap 2 bulan sekali kami bertemu di markas JKPC mengevaluasi kegiatan serta membahas rencana kerja pengurus kedepan ", urai Wowo. Terkait dengan predikat " Jogyakarta sebagai Kota Koes Plus ", ia berkomentar " Predikat ini merupakan kebanggaan yang harus terus kita jaga. JKPC harus tetap semangat dan tidak mengenal istilah vacum " , tegasnya. Jika Presiden Soekarno terkenal dengan pidato berjudul Jangan Sekali sekali Melupakan Sejarah atau " Jas Merah ". Demikian pula pesan musisi Koes seperti Yon Koeswoyo, Yok Koeswoyo, Nomo Koeswoyo dan Murry kepada Ketua Komunitas Koes Plus Jogyakarta ini  beliau - beliau mengatakan " Jangan melupakan kami ", papar Wowo menirukan kalimat bernas dari sang legenda. Kesungguhan Wowo dalam mengelola fans dan terus menggelorakan dan melestarikan mega karya Kus Bersaudara dan Koes Plus, adalah  jawaban nyata dan bertanggungjawab atas  permintaan para legenda. (SS).

 

KOMENTAR DISQUS :

Top