Indonesia English
Sabtu, 13 Juli 2024 |
Pendidikan

Kanwil Kemenag Banten Tolak Keras LGBT

Rabu, 24 Februari 2016 22:19:38 wib - Komentar

SERANG,(Banten88.com): Kanwil Kemenag Provinsi Banten menolak keras keberadaan kelompok Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) di Banten. Di mana persoalan LGBT saat ini menjadi persoalan bangsa ini sehingga harus diantisipasi keberadaannya di Banten. 

Kepala Kanwil Kemenag Provinsi Banten Moh Agus Salim mengatakan, saat ini kelompok LGBT tengah gencar mengkampanyekan LGBT, karena keberadaan mereka ingin dilegalkan di Indonesia. Apalagi keberadaan LGBT disinyalir disokong oleh Negara-negara maju agar LGBT disahkan  oleh negara kita. Alasan sasaran mereka ke Indonesai, karena Indonesia merupakan Negara dengan umat muslim terbesar di dunia. Sehingga Indonesai dijadikan model oleh para kelompok tersebut bagi Negara-negara lain.

“Persoalan ini tentunya menjadi tanggung jawab dan kewajiban kemenag Banten. Terutama kalangan pesantren untuk menjadi filter mengantisipasi merebaknya LGBT di Banten,” kata Agus, Rabu, (24/2). 

Agus menerangkan, ada tiga hal yang akan menghancurkan peradaban bangsa ini, pertama adalah menghancurkan rumah tangga, menghancurkan tatanan pendidikan, dan menghancurkan siapa yang menjadi panutan.

“Oleh karena itu, upaya yang harus dilakukan untuk mengantisipasi hal tersebut adalah dengan meningkatkan kualitas beragama di Banten, meningkatkan kualitas antar umat beragama, dan meningkatkan kualitas pendidikan agama dan keagamaan Islam di Banten,” ujarnya.

Agus menegaskan, pihaknya dengan tegas menolak keberadaan LGBT di Banten. Karena di dalam semua agama manapun, ajaran LGBT itu melanggar norma-norma agama.

“Bahkan di dalam ajaran Islam dengan tegas LGBT itu diharamkan. Makanya, kita akan tolak keras kelompok-kelompok yang mengkampanyekan LGBT di Banten,” katanya.

Sementara itu, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Banten A.M Romly mengatakan, untuk menghadapi kaum Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) dibutuhkan tindakan persuasif.

“Pelaku LGBT itu beda dari orang-orang pada umumnya, artinya kelainan, kelainan tingkah laku dan pola pikir,” katanya.

Romly menjelaskan, ada dua pendekatan yang harus dilakukan untuk menghadapi kaum LGBT. Pertama, pelaku dan pegiat LGBT harus dibimbing dengan nasihat keagamaan.

“Tindakan mesti persuasif, tidak boleh dengan cara-cara yang kasar, tidak boleh menggunakan cara-cara yang justru akan menjauhkan mereka dari agama. Kedua, jika itu menyangkut penyakit, maka harus ditangani secara medis,” katanya.

Romly mengaku, sejauh ini MUI Banten sendiri belum mendapat laporan terkait perkembangan LGBT di Banten, karenanya pihaknya belum melakukan aksi nyata untuk menghadapi kasus tersebut.

“Belum ada, karena belum tahu siapa dan dimana LGBT berada, paling kita terus melakukan dakwah, terutama di nasihat-nasihat perkawinan, bahwasannya fitrah manusia itu kepada lawan jenis,” ujarnya.

Menurutnya, para ulama dan umaro harus bersinergi untuk menghadapi gerakan kaum LGBT. “Tokoh-tokoh agama diminta untuk memberi arahan-arahan kepada mereka, pelatihan-pelatihan rohani yang berlandaskan Islam. Yang penting jangan dikucilkan sama masyarakat,” tegasnya.

Selain itu, Kyai Romly menilai, kaum LGBT memerlukan perhatian khusus dari umat agar mereka bisa kembali menjadi manusia yang normal.

“Mungkin kita melihat mereka adalah orang-orang yang perlu dikasihani, walaupun kadang mereka juga tidak perlu dikasihani. Tapi tetap kita sebagai sesama muslim harus peduli dengan mereka,” katanya. (YAN).

KOMENTAR DISQUS :

Top