Indonesia English
Rabu, 10 Agustus 2022 |
Hukum dan Kriminal

Kapolda Boy Rafli Amar Sesalkan Aksi Anarkis Kiyai dan Santri di PT Mayora

Senin, 25 Januari 2016 18:17:39 wib - Komentar
Kapolda Banten Brigjend Pol Boy Rafli Amar.

Serang,(Banten88.com): Aksi anarkis  penolakan rencana pembangunan pabrik minuman kemasan pada pertengahan Januari lalu, mendapat perhatian Kapolda Banten Brigjen Pol Boy Rafli Amar. Kapolda menyayangkan sikap penolakan warga yang berujung pada aksi anarkis perusakan pagar tembok milik PT Mayora.

"Sangat disayangkan sampai terjadi perusakan. Seharusnya jika memang ada penolakan terkait rencana pembangunan pabrik minuman kemasan bisa diselesaikan dengan cara dialog, jangan main hakim sendiri," tegas Boy Rafli dalam acara coffee morning dengan unsur muspida, tokoh agama/masyarakat dan insan pers di aula serba guna Mapolda Banten, Senin (25/1).

Perwira tinggi bintang satu ini mengatakan percepatan ekomoni merupakan program yang dicanangkan Presiden RI Joko Widodo. Untuk itu, lanjut Kapolda, perlu adanya pemahaman kepada masyarakat tentang aspek ekonomi yang dapat memberikan peluang kerja kepada masyarakat dan Jangan menjadi hambatan dalam proses pembangunan.

"Investasi yang dikucurkan PT Mayora pada pabrik ini sebesar Rp350 miliar. Pabrik minuman kemasan ini akan menyerap tenaga kerja 800 hingga 1.000 orang," kata Kapolda.

Seperti diberitakan sebelumnya, ratusan kiyai dan santri dari Kec. Baros, Kabupaten Serang, Rabu (13/1), menggeruduk lokasi pembangunan pabrik kemasan air mineral milik PT Tirta Fressindo Jaya (Mayora Grup) di Ds Ciinjuk, Kec. Cadasari, Kab. Pandeglang. Warga menolak pembangunan perusahaan yang bergerak dibidang air minum kemasan karena dinilai mengancam kelangsungan hidup warga akan air bersih.

Salah seorang pengunjuk rasa Syahroni mengatakan, lahan yang bakal dijadikan gudang air minum kemasan oleh PT TFJ merupakan area mata air dan tempat cagar budaya santri. Oleh karena itu menurutnya tidak seharusnya kekayaan alam itu diduduki untuk kepentingan bisnis. 

"Disini ada enam mata air yang tertutup karena diuruk. Akibatnya suplai air ke masyarakat jadi kurang malah jadi kering," ujar Sahroni.(YAN).

KOMENTAR DISQUS :

Top