Indonesia English
Senin, 16 Juli 2018 |
Nasional - Peristiwa

Korban Hercules Sudah Teridentipikasi 114 Orang

Jumat, 03 Juli 2015 18:23:00 wib - Komentar
Kombes Pol Helfi Assegaf

Medan, (Banten88.com) – Tim DVI telah berhasil melakukan identipikasi terhadap seluruh korban pesawat Hercules. Proses identifikasi korban kecelakaan pesawat Hercules untuk yang dilakukan hari ini di RSUP Haji Adam Malik telah selesai. Dari data yang diperoleh, total korban yang berhasil teridentipikasi ada 114 korban.

Kabid Humas Polda Sumut Kombes Helfi Assegaf  ketika dikonfirmasi wartawan membenarkan jika petugas sudah melakukan identipikasi secara menyuluruh. Menurutnya, baik korban yang kondisinya masih utuh maupun yang tidak sudah terdata semuanya. "Total jumlah jenazah ada 114 yang sudah teridentipikasi. 32 kantong yang akan dilanjutkan besok, tapi kalau tidak ada data pembandingnya, identifikasi kita lanjutkan melalui tes DNA," ujar Helfi Assegaf, di RSUP Haji Adam Malik, Medan, Jumat (3/7).

Dari informasi yang diperolej, pada hari ini tim DVI berhasil mengidentifikasi sebanyak 18 korban. Jenazah tersebut pada pukul 17.30 WIB sudah dibawa dari RSUP Adam Malik ke Lanud Soewondo untuk diserahkan kepada keluarga. Suasana semakin megharu biru ketika pihak keluarga korban menerima jasad korban yang sudah tidak utuh lagi.

Sementara, tragedy jatuhnya pesawat bukan hanya terjadi kali ini saja. Dari catatan yang diperolej sudah tiga kecelakaan pesawat terjadi di Indonesia dalam tiga tahun terakhir. Dari kecelakaan pesawat Sukhoi Superjet 100 pada tahun 2012, pesawat Airasia QZ8501 tahun 2014, serta yang terakhir kecelakaan pesawat Hercules C-130 Selasa (30/7/) lalu.

Direktur Eksekutif DVI Polri, Kombes Anton Castilani mengatakan, dia yang terjun langsung dalam proses identifikasi tiga kecelakaan pesawat itu, berbagi cerita bagaimana perbedaan tingkat kesulitan Tim DVI Polri dalam melakukan proses identifikasi antara tiga peristiwa tersebut dengan situasi dan tempat kejadian berbeda.

"Ini yang selalu saya rasakan, saya bisa bilang tidak ada satupun yang namanya operasi DVI itu persis sama. Walau pun katakanlah sama-sama kecelakaan pesawat, tapi beda dalam penangannya," ujar Anton di RSUP Haji Adam Malik, Medan, Sumut, Jumat (3/7).

Dikatakan Anton, dalam penanganan korban Sukhoi yang jatuh di Gunung Salak, Jawa Barat, Tim DVI menghadapi kondisi korban yang seluruhnya hancur nyaris tidak dikenali lagi. Namun dengan berbagai pendalaman metode, Tim berhasil mengidentifikasi dan mengembalikan korban kepada keluarga dalam waktu 8 hari.

"Waktu disana tidak ada satu tubuh pun yang utuh, makanya waktu Sukhoi itu kita bergantung pada pemeriksaan DNA, jadi bagian tubuh ini milik si A, ini si B, ini si A lagi dan begitu seterusnya sampai 45 jenazah yang sulit teridentipikasi," katanya.

Selain Sukhoi sambung Anton, pada kecelakaan Airasia di laut Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, Tim menghadapi kesulitan yang berbeda sebab pesawat jatuh ke laut. Proses identifikasi kecekalaan Asia berlangsung hingga dua bulan. Selain karena pencarian jenazah di laut, proses juga dilakukan di dua kota yang letaknya berjauhan, yaitu Pangkalan Bun, Kalteng dan Surabaya Jawa Timur.

"Coba anda bayangkan, pesawat itu jatuh di laut, proses pembusukan di air dan sebagainya. Ini merupakan kesulitan yang berbeda dalam menanganinya," urainya.

Jika dibandingkan dengan dua peristiwa kecelakaan pesawat sebelumnya lanjut Anton, penanganan proses identifikasi korban pesawat Hercules lebih mudah dibanding dengan Sukhoi dan Airasia. 10 sampai 20 persen korban Hercules mengalami luka bakar. Selebihnya tidak terbakar dan ada juga yang tidak utuh, tapi mudah teridentipikasi.

"Penangangan Hercules lebih  mudah, TKP-nya terlokalisir, evakuasi relatif lebih mudah, lebih cepat, karena dari TNI, banyak keluarga sehingga informasi dan data lebih cepat," katanya.

Menurut Anton, jika Sukhoi butuh 8 hari dan Airasia selama dua bulan, untuk kecelakaan Hercules pada hari ke empat, Jumat pukul 16.30 WIB, sebanyak 108 jenazah telah berhasil teridentifikasi. Rencananya, hari ini merupakan hari terakhir proses identifikasi dengan Post Mortem. Jika hingga besok tidak data pembanding, maka akan dilanjutkan dengan tes pemeriksaan DNA. Artinya, seluruh sampel DNA akan dibawa ke Mabes Polri.

"Liat situasi dulu, kalau tudak besok ya lusa sudah selesai semua. Kita berbenah dulu disini, biar nggak ada yang ketinggalan," ujarnya.

Dijelaskan Anton, untuk pemeriksaan laboratorium DNA dilakukan di Mabes Polri, sebab alat laboratoum DNA hanya ada satu yaitu yang di Mabes Polri dan belum ada di Polda-Polda. "Alatnya mahal, satu set itu harganya di atas 50 miliar, yang ada ini buatan Amerika, sejak tahun 2007 dan baru peremajaan kembali pada tahun 2015,” tukasnya. (Dang).

 

KOMENTAR DISQUS :

Top