Indonesia English
Sabtu, 17 November 2018 |
Advetorial

LAGU KOES PLUS PENUH FILOSOFI & PENGARUHNYA TERHADAP KEHIDUPAN

Selasa, 02 Oktober 2018 21:07:27 wib - Komentar
Koes Plus.

Oleh : Seno Supono

SAYA merasa beruntung. Sebagai fans fanatic Koes Plus bisa mengoleksi Kaset, CD, VCD, Laser Disc dan Piringan Hitam (PH) Koes Plus serta film tentang  promo album Koes Plus semasa era kejayaan TVRI, televisi nasional saluran pemersatu bangsa. Hanya saja PH saya pasang didinding rumah begitu saja, karena saya tidak punya pemutar plat. Tapi dijamin koleksi saya semua barang ori. Cita - cita saya ketika masih SMA di Salatiga jika bisa ke Jakarta ingin kerumah mas Tonny Koeswoyo. Sampai  sampai alamat rumah mas Tonny  sudah saya hafal diluar kepala yakni Jl. Haji Nawi No.72 Cipete Jakarta Selatan. Kala saya SMA tahun 1979,

Jakarta itu dari Salatiga jauh nian. Naik bus malam hampir 12 jam lebih.

Singkat cerita impian saya jumpa mas Tonny akhirnya kesampaian.

Kesan saya  Mas Ton orang besar, namun rendah hati dan kebapak an. Dengan sabar melayani pertanyaan saya. Dan saya kala itu baru tahu bahwa mas Ton sedang menangani album solo personel Srimulat tapi saya lupa namanya. Pada kesempatan itu, mas Ton menjabarkan arti dari kalimat " Setan Alas Digunduli " pada lagu Nuswantoro dalam album Pop Jawa Koes Bersaudara 1977. Menurut mas Ton bahwa suatu saat nanti kejahatan akan terungkap, meski disembunyikan dengan berbagai cara. Kalimat mas Ton ternyata benar adanya. Setelah 4 dekade, kini kita menyaksikan langsung satu persatu penjahat "digunduli" oleh KPK dan dijebloskan ke penjara Suka Miskin di Bandung. Oh iya saat saya berkunjung ke rumah mas Ton terlihat ada Angga putra ke dua mas Yok Koeswoyo pemain bas Koes Plus.

Angga  memiliki nama lengkap Rangga Panji Koeswoyo  yang ganteng dengan rambut keriting melintas depan rumah Mas Ton. Angga adalah pemain bas band remaja Koes Junior dengan hits " Generasi Cuweq ". (Kini Angga sudah almarhum).

Komplek Koes itu berdiri diatas tanah kira - kira seluas 1000 meter. Lokasinya persis dipinggir jalan Haji Nawi seorang  tokoh Betawi yang berpengaruh dan kuat secara ekonomi. Begitu memasuki komplek setelah melewati pintu pagar yang besar, terdapat rumah mas Ton. Jika kita jalan kira2 15 meter kedalam tampak sebelah kiri rumah mas Yok dan sebelah kanan adalah rumah mas Yon vocalis Utama Koes Plus. Sedang mas Murry drumer Koes Plus tinggal di luar komplek Koes di Condet Batuampar Jaktim. Komplek Koes  dikelilingi tembok setinggi 2,5 meter suasananya sangat asri dan damai. Udaranya kala itu terasa segar dan terdengar kicau burung didepan rumah mas Yok.

Diteras rumah mas Ton ada kursi rotan tinggi. Kursi itu tempat duduk mas Ton tatkala diambil foto oleh wartawan mahalah Aktuil  untuk cover majalah musik berpengaruh terbitan Jl. Lengkong Kecil Bandung. Dengan headline berjudul  Mengapa Koes Plus?. Saya sempat foto dengan mas Ton dan yang memotret teman saya Dolemi. Tapi yang saya sesali foto itu hilang. Foto hitam putih itu seandanya masih ada, akan menjadi koleksi langka yang tiada ternilai harganya.

MENYAKSIKAN SHOW KOES PLUS

Ditahun 1980 an itu saya menyaksikan show Koes Plus dalam formasi lengkap yakni Tonny Koeswoyo (Organ/Guitar Melody/Vocal) Yon Koeswoyo (Guitar Rhythem/Lead Vocal), Yok Koeswoyo (Bas/dubing vocal suara 2) dan Murry (Drum/Vocal). Live show tsb digelar di Taman Ria Monas Jakarta. Kala itu Jakarta memiliki 2 taman ria dan satunya lagi adalah Taman Ria Remaja Senayan berlokasi tak jauh dari Gedung TVRI Pusat Jakarta.

Sebelum show, dari para roadies (sound man) saya dapat informasi bahwa Koes Plus saat mau show sudah jarang latihan. Dan mas Yok sedang sakit flu. Singkat kisah tepat jam 8 malam keempat jawara musik pop itu setelah memberi hormat kepada penonton, menandakan sikap rendah hati. Maka menggebraklah lagu pembuka" Laguku Sendiri ",  disusul   " Hati Orang Siapa Tahu ", " Bujangan ", " Penyanyi Muda ", " Kisah Sedih di Hari Minggu " dll nya. DIGDAYA DI PANGGUNG

Magnet Koes Plus kala itu dimata penonton masih sangat dahsyat. Lagu demi lagu ditumpahkan dalam suasana riang gembira. Penonton terlihat antusias. Saat intro lagu dimainkan, penonton langsung menyanyikan lagu tersebut. Mas Ton bak seorang MC yang menguasai benar situasi panggung sehingga terbangun komunikasi yang hangat dengan penonton. Suasana menjadi begitu hidup. Setiap lagu selesai dinyanyikan, banjir aplus membahana.

Sayangnya ketika mas Ton menyanyikan lagu " Jangan Berulang Lagi " dari album ke 4 Koes Plus,  mengambil nada terlalu tinggi sehingga suaranya tak sampai ketika mencapai nada lebih  tinggi lagi. Penonton hanya tertawa dan mas Ton tentu tersipu. Mas Yok tidak ikut nyanyi karena sedang flu. Namun gaya main bas nya yang lincah dan atraktif sungguh menghibur. Sementara gebukan drum mas Murry terdengar dahsyat, mantap, energik. Sehingga mampu membangkitkan semangat. Tongkrongan mas Murry terlihat keren dibelakang set drum Fiberglas yang merupakan mode drum paling mutakhir kala itu. Jenis drum ini pula digunakan Koes Plus saat promo album ke 14 di TVRI Pusat Jakarta dan album Koes Plus 1978 dengan hits  Bersama Lagi. Jelly Tobing drumer  Superkid juga  menggunakan drum jenis ini. Meski tahun 1980 itu telah datang era Ebiet G Ade dan Iis Sugianto yang terlanjur  " merebut mahkota emas musik pop " dari tangan Koes Plus, namun dalam show, Koes Plus masih tetap dahsyat, digdaya dan disuka.  Diatas panggung sihir sebagai kaisar musik pop tetap memukai dan tidak mudah luntur.

Mas Yon sebagai lead vocal suaranya masih sangat prima. Mas Yon dan mas Yok adalah idola remaja pada eranya karena vocalnya yang istimewa dan gantengnya luar biasa.

Kala itu belum mode gaya mas Yon "melepas"

lagu dan membiarkan penonton bernyanyi. Setiap lagu diselesaikan dengan tuntas oleh mas Yon. Sedangkan mas Ton adalah juru bicara group saat menjalin komunikasi dengan penonton. Misalnya menyapa penonton dan menanyakan ingin lagu apa ?. Karena mas Ton itu berjiwa humoris, show terasa cair dan tidak kaku.

Sekitar 1,5 jam Koes Plus menghibur penonton ditaman Ria Monas.

Ketika keempatnya turun panggung, ada oknum penonton melempar benda ke mas Yon. Tentu darah muda mas Yon terpancing dan pasang kuda - kuda siap melawan. Tapi oleh mas Ton tangan mas Yon ditarik untuk meninggalkan kerumunan massa menuju ke kantor management taman ria. Setelah insiden kecil itu usai, fans fanatik Koes Plus tidak terima, mereka tetap bergerombol menjaga panggung hingga Koes Plus meninggalkan taman ria Monas. Namun secara keseluruhan show Koes Plus malam itu mendulang sukses. Ketika mas Ton wafat pada 1987, peran berkomunikasi dengan penonton diambil alih oleh mas Yok.

Demikian ingatan dan kesaksian saya tentang dahsyat nya show Koes Plus dalam formasi lengkap.

1972 KOES PLUS SHOW DI SALATIGA

Tahun 1972 an sebelum Koes Plus pindah ke Remaco. pernah show di kota saya Salatiga. Panggungnya menyewa halaman SMAN 1 Salatiga yang disulap jadi tempat konser dengan pengamanan gedek (anyaman dari bambu ) mengelilingi lokasi panggung. SMAN 1 adalah sekolah top tempat sekolahnya remaja cerdik pandai. Ini sekolah tempat bintang tenar Roy Marten menimba ilmu. Saya tidak menonton karena karcisnya kelewat mahal Rp.150,-. Sedangjan uang saku saya per hari hanya Rp.5,-. Namun hebatnya 4 tahun kemudian ketika Koes Plus show di Surabaya, harga tuket pada 1976 sudah melambung menjadi Rp.2.500,- tutur Koesyanto nara sumber acsra Surabaya Koes Plus Nite (SKPN) di Radio Sonora Surabaya pada penulis.

Salatiga kala itu adalah kotamadya yang jauh dari hiruk pikuk. Saat jam 21.00 suasana sunyi senyap. Sayup - sayup namun agak jelas terdengar keempat musisi Koes menggebrak dengan lagu Nusantara 1. Dinusantara yang indah rumahku/Kamu harus tahu/Tanah permata tak kenal kecewa/Dikhatulistiwa....dst.

Saya langsung bangkit dari tempat tidur lalu memasang telinga baik2. Wuih sungguh senangnya mendengar suara asli sang idola. Meski tak bisa bersua atau menatap wajahnya. Di Salatiga ada toko buku cukup ngetop dan komplit Kukuh Subardi   namanya. Foto2 show Koes Plus dipajang dibalik kaca toko itu. Setiap pulang sekolah saya selalu melewati toko buku tsb. Saya berhenti didepan toko untuk memandangi wajah mas Ton, mas Yon, mas Yok dan mas Murry. Kalau tak salah mas Ton belum berkumis tetap memakai kaos oblong kesayangannya dan tidak pernah memakai jam tangan. Begitu memandang wajah - wajah sang raja musik pop, hati saya membuncah bangga nian dan  kagum nian. Salah satu anak pemilik toko buku Kukuh Subardi bernama Sri Utami akhirnya jadi teman sebangku di SMAK Salatiga, Musisi Topan Group Ari Wibowo yang dikemudian hari dikenal sebagai " Ariwibowo Madu & Racun " serta bintang film Rudy Salam abang Kandung Roy Marten adalah kakak alumni saya di SMAK Salatiga  namun keduanya adalah angkatan jauh diatas saya. 

PENGARUH KUAT LAGU KOES PLUS

Beberapa waktu lalu mbak Sari Yok Koeswoyo putri peman bas Koes Plus mas Yok Koeswoyo mengatakan kepada saya " Mas Seno itu terlalu pro Koes Plus ", ungkap mbak Sari Yok yang kini Caleg PDIP dari Dapil Jatim. Lalu saya jawab  bahwa saya itu tidak sekedar pro Koes Plus mbak, tapi saya fans fanatic Koes Plus. Dan hampir seluruh lagu Koes Plus telah mempengaruhi hidup saya. Karena lyrik lagu Koes Plus itu mengandung nilai - nila filosofi teramat dalam yang bermanfaat untuk kehidupan. Misalnya tentang :

1. Penyerahan diri yang total kepada Tuhan Yang Maha Esa.

2. Mengasihi sesama manusia tanpa melihat suku dan agamanya.

3. Merawat persahabatan dan tidak berkhianat kepada teman.

4. Mencari rejeki didasari kerja keras, tidak sirik dan " nrimo ing pandum " (Selalu bersyukur menerima rejeki dari Tuhan).

5. Jika cobaan hidup datang menerima dengan ihlas dan lapang dada.

6. Merawat kesetiaan dan kasih sayang kepada pasangan hidup.

7. Mencintai NKRI, Kebhinekaan dan Toleransi.

Lyrik lagu Koes Plus itu sudah seperti " doktrin "  buat saya sejak remaja hingga kini dan sudah tertancap dalam di sanubari.

Musisi Koes kini hanya tinggal Mas Yok Koeswoyo dan mas Nomo Koeswoyo. Sedang mas Tonny, mas Murry dan mas Yon Koeswoyo telah wafat. #

KOMENTAR DISQUS :

Top