Indonesia English
Minggu, 05 Juli 2020 |
Hukum dan Kriminal

Limbah Bau Busuk Dekat Gunung Pinang Sudah Di “ Police Line ” Polisi

Senin, 01 Juni 2020 11:19:01 wib - Komentar
Polsi memberika Police Line terhadap limbah bau di dekat Gunung Pinang.

Serang,(Banten88.com):  Bau busuk menyengat yang di duga berasal dari limbah bahan berbahaya dan beracun  (B3) di dekat gunung Pinang Kramatwatu meresahkan warga Kampung Toyomerto, Desa Wanayasa, Kecamatan Kramatwatu, Kabupaten Serang, Banten.

"sudah lebih dari dua minggu bau busuk menyengat itu  tercium di kampung ini, bau nya bikin pusing, apa lagi pada malam hari baunya semakin menyengat,"  kata Agung (36 Tahun) warga kampung Toyomerto kepada wartawan.

Agung juga mengaku sangat keberatan Kampung Toyomerto dijadikan tempat pembuangan limbah yang berbau busuk itu.  "Kami sangat keberatan lah, kami seolah-olah di paksa harus menghirup udara yang berbau busuk akibat limbah yang di buang sembarangan itu, apa lagi dari informasi yang kami dengar jenis limbah yang di buang itu adalah jenis limbah B3," ujarnya.

Hal senada juga dikatakan Adi (45 Tahun), warga Toyomerto lainnya, Adi menginginkan limbah B3 jenis sludge kertas yang berbau menyengat itu segera di pindahkan dari kampung Toyomerto, dan diberikan sanksi kepada orang dan perusahaan yang telah membuang limbah itu.

"Kami mau hidup nyaman tanpa  bau busuk yang bisa menimbulkan penyakit, pokoknya siapapun yang telah membuang limbah di tempat lapak pencucian pasir itu, agar secepatnya memindahkan limbah itu dari kampung kami," kata Adi.

Informasi yang berhasil di himpun wartawan mengatakan, sludge kertas berwarna ke abu-abuaan yang di buang di lokasi pencucian dan penjualan pasir  di duga milik salah seorang oknum anggota DPRD Provinsi Banten.

Disekitar lokasi pembuangan limbah tersebut terlihat umbul-umbul berlogo partai Gerindra dan gambar AS, ada juga papan plakat bertuliskan jual pasir. Sekitar beberapa meter dari papan plakat terlihat limbah sludge kertas yang sudah di bercampur dengan tanah dengan garis polisi di sekeliling limbah. Hal ini menandakan bahwa kasus pembuangan limbah ini sudah di tangani oleh pihak kepolisian.

Ajit, penjaga alat-alat berat di tempat pencucian dan penjualan pasir itu ketika di konfirmasi membenarkan bahwa, tempat penjualan dan pencucian pasir itu adalah milik AS oknum anggota DPRD provinsi Banten.

"lapak penjualan dan pencucian pasir ini milik pak AS, termasuk lahan yang dijadikan tempat pembuangan limbah itu, bapak AS adalah anggota Dewan Provinsi Banten dari partai Gerindra, itu yang ada gambarnya di umbul-umbul ," kata Ajit. 

Ajit  juga mengaku tidak tahu menahu terkait pembuangan limbah B3 berupa sludge kertas di lokasi penjualan dan pencucian pasir yang di jaganya, karena  limbah itu tiba di lokasi pembuangan pada malam hari, saat itu Ajit sudah tidur. Namun Ajit juga tidak menampik bahwa pembuangan limbah di tempat itu kemungkinan atas restu dari oknum anggota DPRD Provinsi Banten berinisial AS.  "Mungkin pak AS sudah tahu, tapi untuk lebih jelasnya, konfirmasi ke beliaulah," ujar Ajit.

Sepengetahuan Ajit, limbah B3 itu berasal dari  karawang dan di buang pada malam hari saat Ajit sudah tidur. "sudah dua minggu lebih limbah itu berada di lokasi. Kabarnya, limbah itu berasal dari Karawang, kalau garis polisi itu di pasang oleh polisi sekitar seminggu yang lalu," tutur Ajit.

Ajit mengaku sempat di tanya oleh polisi yang memasang garis Polisi di sekitar limbah itu. " saya sempat di tanya pak Polisi seputar keberadaan limbah itu, ya saya jawab apa adanya, sejak kapan limbah itu ada di lokasi, siapa yang punya usaha lapak penjualan pasir ini, saya menjelaskan apa yang saya tahu saja,  " ucap Ajit. 

Sementara itu, Lili Amaliawati ST, Kepala Seksi penanganan kasus lingkungan pada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Serang ketika di konfirmasi melalui telepon selulernya mengatakan bahwa, kasus pembuangan limbah di kampung Toyomerto itu sudah di tangani oleh Polresta Kota Serang.

"Persoalan pembuangan limbah itu sudah di tangani oleh Polresta Kota Serang," kata Lili Amaliawati melalui WA pribadinya.

Menurut Lili, panggilan akrab Lili Amaliawati, untuk menentukan jenis limbah yang di buang di Kampung Toyomerto itu harus dilihat dari proses produksi kertasnya. Begitupun ketika di tanya terkait pengaruh limbah itu terhadap lingkungan dan warga sekitar,  Lili mengatakan bahwa semua itu butuh analisa lebih lanjut. "Kalau dilihat lokasi agak jauh ya, untuk sementara bau mungkin yang akan dirasakan masyarakat," ungkap Lili.(yan).

KOMENTAR DISQUS :

Top