Indonesia English
Senin, 25 Juni 2018 |
Peristiwa

MAS YON KOESWOYO DALAM KENANGANKU

Minggu, 07 Januari 2018 13:50:41 wib - Komentar
FOTO mas Yon dengan putranya Kenas Burton Koeswoyo. Generasi Koeswoyo lapis 3 yang kini mengikuti jejak sang papi terjun didunia musik. Saat ini Kenas sedang menyiapkan album perdana. Kenas termasuk anak ajaib, menguasai alat musik gitar tanpa diajari atau belajar dari papinya. (Bonita Angela).

Oleh Seno Supono, Fans Fanatik Koes Plus. 

KALA  itu tahun 1972, Koes Plus baru saja mempromo album Volume 8 dengan mega hits KOLAM SUSU di stasiun televisi kebanggaan anak negeri yakni TVRI. Saya  meski baru kelas 4 SD dikota saya Salatiga, namun sudah kecanduan musik Koes Plus. Harga kaset Koes Plus yang Rp.700,- termasuk mewah pada saat itu.

Virus Koes Plus jauh lebih manjur,  lebih dahsyat serta lebih mewabah dan memabokan dibanding virusnya Slank, Gigi, Sheila, Dewa atau Ahmad Dani Band yang hanya  mampu membuat pusing dalam tanda kutip anak - anak muda perkotaan.

Tapi virus Koes Plus kala itu, mampu meracuni dan bikin ketagihan anak - anak, orang dewasa hingga kakek nenek, orang kaya, orang setengah kaya, orang seperempat kaya  atau orang kaya kagok sampai orang miskin semua menyukai Koes Plus. Lagu KOLAM SUSU atau DIANA setelah dipromo dengan gencar di TVRI memiliki imbas yang sangat hebat ditataran popularitas.

Anak gembala di pedesaan dan anak - anak kota seperti saya dengan lantang menyanyikan bait ....." Diana diana kekasihku/Bilang  pada orang tuamu/Cincin yang bermata jeli itu/Tanda cinta kasih untukmu. Apalagi jika TVRI sudah menayangkan iklan Koes Plus bakal tampil pada acara Kamera Ria, wuih bukan main senangnya hati ini.

Setelah Koes Plus tayang, esoknya dikelas, kami membahas dengan dengan rasa sukacita tentang  penampilan Koes Plus semalam di TVRI. Kesan kami saat itu Koes Plus adalah  band yang personelnya bertampang ganteng dan ramah karena murah senyum saat di shoot camera televisi.  Ajaibnya kami cepat hafal lagu - lagu Koes Plus.

Pas jam istirahat, kami libas itu lagu dari album volume 8 dari Kolam Susu, Diana, Desember, Kembalilah Kepadaku (Jangan Bimbang dan Ragu), Nusantara II, Mana Hatimu, Buat Apa Susah, Tiada Lain di Hatiku. Semua kami nyanyikan dengan lyrik lagu hafal diluar kepala. Teman saya Kustiono yang piawai main perkusi ( maksudnya memukul - mukul meja) bergaya bak drumer sohor mas  Kasmuri dan saya vokalis utama seolah olah sudah mirip mas Yon padahal muka saya jelek. Itulah kehebatan Koes Plus mampu membangkitkan spirit hidup yang luar biasa.

Hidup terasa indah dan penuh gairah ketika Koes Plus mengiringi orkestra hidup ini dengan lagu - lagu riang, gurih dan lyrik mendalam penuh makna. Ketika pulang sekolah, saya melewati Toko Buku Kukuh Subardi. Tak disangka, saya melihat majalah Aktuil, majalah musik yang sangat berwibawa kala itu terbitan Bandung,  sedang dipajang  dalam bungkus plastik bersama majalah lainnya seperti Varia Nada, Variasi dan Detektip Romantika. Betapa girang dan bangga melihat pose mas Tonny sedang duduk di kursi rotan tinggi tampak gagah dan ganteng. Mas Yon dan mas Yok difoto saat show dan mas Murry sedang di meja makan. Koes Plus menjadi cover utama Majalah Aktuil dengan judul berita MENGAPA KOES PLUS?. Ketika saya SMP dan SMA pengaruh Koes Plus di jagat musik pop semakin tak terbendung.

Berbagai genre musik dijelajahi dengan menghasilkan album lagu keras Koes Plus In Hard Beat, Pop Keroncong, Pop Melayu, Pop Jawa, Pop Jawa Melayu, Folk Song (akustik), History of Koes Brothers, album Qasidah dan Album Natal dan semua laku keras di pasar kaset. Bahkan ketika saya kuliah di Bandung Koes Plus tetap menunjukan eksistensinya dengan album ASMARA. Saya termasuk beruntung sempat menyaksikan show Koes Plus dengan formasi utuh yakni Mas Tonny, mas Yon, mas Yok dan mas Murry di IRTI Taman Ria Monas Jakarta pada 1980.

Saya tidak membayar, karena sebagai juru warta sebuah harian di Jakarta diberi kemudahan untuk meliput Koes Plus.  Saya merasa dekat dengan personel Koes Plus termasuk dengan isteri mas Yon mbak Susrini  atau Susi (kini sudah berpisah) dan mbak Bonita.  Ini bukan berarti saya kategori wartawan hebat sekaliber mas Bens Leo. Tapi saya  adalah salah satu wartawan yang perduli Koes Plus. Sering membuat berita Koes Plus dan meresensi album Koes Plus ketika band ini popularitasnya sudah mulai surut. Barangkali nilai itu yang teringat di memori Mas Yon, mas Yok dan mas Murry. Mas Yon dan mas Yok kala itu memiliki pandangan berbeda soal beredarnya kaset Koes Plus yang dijual tanpa membayar royalti kepada musisi Koes Plus. Saat saya jumpa mas Yok di komplek Koes Jl. Haji Nawi no.72 Jaksel, mas Yok merencanakan menggugat Presdir Republic Manufacturing & Co (Remaco), Eugene Timothy (Yujin). Tapi mas Yon memiliki pandangan berbeda. Kata mas Yon, dengan adanya kaset Koes Plus yang terus dipajang ditoko kaset, nama Koes Plus akan terus diingat, tuturnya.

Sekitar tahun 1995 saya ketika itu Redaktur Harian SENTANA bersama rekan wartawan Arvin Hardian dan mas Harry Cahyono mengunjungi mas Yon dirumahnya, di Jalan Salak, Pamulang, Tangsel. Harry Cahyono penulis lagu LANTARAN  merupakan lagu andalan solo album pertama mas Yon. Mas Harry juga penulis scenario sinetron Si Doel Anak Sekolahan. Mas Yon menyambut kami dengan ramah. Ketika saya ambil gitar lalu menyanyikan lagu KAU KUSAYANGI, mas Yon dengan spontan tangannya mengetuk-ketuk meja ikut berdendang. Lagu selesai saya nyanyikan, mas yon bilang " Wah uenak tenan. Lagune sopo to?" Tanya mas Yon. Lalu saya jawab, itu lagu Koes Plus mas judulnya KAU KUSAYANGI yang menyanyi mas Yon sendiri  dalam album KOES PLUS 79 MELEPAS KERINDUAN. Mendengar jawaban itu, mas Yon tertawa berderai. Mas Yon lupa lagu sendiri?. Mungkin  saja karena lagu Koes Plus jumlahnya 989 yang tersebar hampir seratus album. Ia adalah pribadi yang ramah dan rendah hati.

Ketika saya tanya, bagaimana mas rasanya menjadi orang yang sangat terkenal. Dia jawab, rasanya biasa saja dan tidak ada yang istimewa. Sementara itu terkait kisah orang yang sangat terkenal, mbak Susi pernah mengisahkan kepada saya ketika mas Yon sedang makan siang di rumah makan Padang didaerah Tanah Abang Jakarta  Pusat. Sontak saja rumah makan tersebut dipenuhi manusia. Informasi dari mulut ke mulut ada Yon Koeswoyo, menjalar cepat ke seantero Tanah Abang. Melihat manusia begitu membludak, mas Yon akhirnya kabur lewat pintu belakang dan mobil ditinggal begitu saja. Demikian mbak Susi mengisahkan.  Tahun 1974 Koes Plus merilis 24 album.

Ini berarti dalam sebulan Koes Plus mengeluarkan 2 album. Dan merupakan  pencapaian yang sangat spectakuler. Belum ada musisi didunia ini yang pencapaian produktifitasnya mampu mengalahkan Koes Plus. Menjawab pertanyaan itu mas Yon mengemukakan  " Tangan Tuhan telah bekerja untuk Koes Plus ", jawabnya dan suasana saat itu seketika  hening. Untuk saya dan generasi saya yang populer disebut generasi Bunga, bukan generasi milenial. Koes Plus telah menuntun kami kala itu dari remaja menuju dewasa dan bertanggung jawab. Simaklah lyrik lagu Koes Plus ...Persoalan dalam hidup ini yang datang tiap hari/Kau harus menjawabnya sendiri walau didalam hati/Engkau akan mengerti/ Aku akan mengerti/ Semua kan mengerti. Sebagai wartawan saya punya banyak kesempatan foto bersama dengan para pemangku kepentingan. Namun saya tidak bangga foto bersama mereka. Karena para pejabat paling lama 5 tahun sekali diganti. Saya sangat bangga foto bersama personel Koes Plus dan foto di dinding rumah tidak perlu harus diturunkan karena memang Koes Plus akan tetap abadi dihati kita. Sang Legenda tidak akan pernah mati. Mas Yon memiliki filosofi hidup Ndilalah atau Nganggo Dalane Allah atau hidup dijalan Tuhan. Kini mas Yon Koeswoyo telah kembali ke Rumah Tuhan di Sorga. Selamat jalan. Mari terus kita kirim doa, kita kenang kebaikannya dan kita lanjutkan dan kembangkan  jejak langkah yang penuh torehan tinta emas dijagat musik Pop Indonesia.

KOMENTAR DISQUS :

Top