Indonesia English
Rabu, 03 Juni 2020 |
Nasional - Hukum dan Kriminal

Mau Beri Uang Pembungkam, OC Kaligis Terpojok Oleh Nyanyian Gerry

Sabtu, 25 Juli 2015 20:18:54 wib - Komentar
Yagari Bhastara Guntur.

Jakarta, (Banten88.com) – Posisi pengacara kondang OC Kaligis makin terpojok, dia tidak bisa mengelak mendapat serangkaian serangan dari anak buahnya sendiri. Yagari Bhastara Guntur alias Gerry semakin liar membuka keterlibatan Kaligis dalam kasus suap Hakim PTUN Medan. Gerry terus bernyanyi soal peran OC Kaligis.

Kesaksian Gerry kembali diungkap oleh pengacaranyaHaeruddin Massaro, menurutnya Kaligis pernah meminta Gerry untuk bungkam dan tak banyak bernyanyi ke KPK. "Hari Jumat, waktu  lebaran, Gerry lebaran di rutan Guntur dan Jumatan disana. Saat keluar dari Jumatan dipanggil bang OC, kata OC Gerry sini kamu, itu Gerry, kantor sudah tutup, ratusan orang tidak bisa mengais nafkah lagi. Kenapa kamu nggak pasang badan aja biar saya yang tanggung biaya,” ujar Haerudin menirukan ucapan Gerry, Sabtu (25/7).

Kepada Haerudin Gerry menceritakan jika Kaligis menawarkan bantuan dana selama dipenjara KPK. Kaligis menurut Gerry, juga sudah mengamankan berbagai barang bukti terkait kasus yang menjeratnya. "Kepada OC Gerry menolak dan bilang kalau KPK sudah punya bukti rekaman dan sadapan, tapi OC meyakinkan dan bilang Endah nama panggilan kecil Yurinda sekretaris Kaligis sudah bawa itu barangnya," jelasnya.

Dikatakan Haerudin, pertemuan Kaligis dan Gerry terjadi saat pengacara muda itu usai melaksanakan salat Jumat di Rutan Guntur pada Jumat (17/7). Saat itu, di KPK tidak mengadakan salat Jumat bersama karena semua karyawan tengah libur lebaran, sehingga tahanan yang ada di rutan KPK melaksanakan salat Jumat di Rutan Guntur.

"Ketemunya di Guntur kan pas lebaran. Gerry salat Jumat, keluar Jumatan dia dipanggil sama OCK, 'Sini dulu lah Gerry, sekarang kantor tutup, tidak ada lagi, ada 100 orang yang tidak bisa ngais nafkah di situ, coba kalau kau pasang badan. Saya biayai kamu semua'," ujar Haeruddin lagi-lagi meyakinkan keinginan Kaligis seperti diceritakan Gerry.

Menurut Haeruddin, Gerry saat itu diam saja. Namun, saat menceritakan peristiwa tersebut kepada Haeruddin, Gerry menolaknya. Menurut Haeruddin, Gerry merasa bahwa mustahil untuk pasang badan karena KPK memegang semua bukti sadapan. "Gerry bilang, gimana saya pasang badan. Kan rekaman sudah ada. Kan tidak bisa'," kata Gerry melalui Haeruddin.

Haeruddin mengatakan, percuma jika Gerry menutupi peran Kaligis karena penyidik telah memegang alat bukti. Menurut dia, pembelaan yang diberikan Gerry pun tak akan dipercaya jika berseberangan dengan alat bukti tersebut. "Gerry pun bilang, apa orang tidak akan percaya. Masa Gerry mau kasih duit ke situ? Apa urusannya Gerry?" kata Haeruddin.

Pihak OC Kaligis yang dikonfirmasi terkait hal ini tak mau memberikan tanggapan. Sejak awal, tim hukum Kaligis melalui jubirnya Afrian Bondjol memang tak pernah mau menanggapi nyanyian Gerry. Boy, panggilan akrab Afrian tak mau membicarakan materi kasus sebelum Kaligis dibawa ke persidangan.

Sementara itu, Yurinda Tri Achyuni yang merupakan sespri Kaligis juga tak menjawab saat ditanya soal perintah menghilangkan barang bukti. Yurinda yang semalam baru selesai menjalani 13 jam pemeriksaan di KPK terus bungkam saat ditanya soal perintah Kaligis yang menyuruh menghilangkan barang bukti.

Yurinda dalam kasus ini juga memiliki peran penting. Dia adalah orang yang diminta Kaligis untuk menyiapkan uang suap ke hakim PTUN Medan dan menyimpan duit haram itu dalam 5 buku yang kemudian dibagikan ke hakim dan panitera PTUN Medan.

KPK baru saja selesai melakukan pemeriksaan terhadap dua bawahan terdekat OC Kaligis. Dua orang yang diperiksa adalah Yurinda Tri Achyuni dan Yenny Octarina Misnan yang merupakan sekretaris OC Kaligis. Yenny keluar lebih dulu dari ruang pemeriksaan KPK pada Jumat (24/7) sekitar pukul 23.40 WIB. Tak ada komentar sedikitpun dari Yenny yang merupakan orang yang disebut-sebut paling tahu aktifitas keuangan kantor OC Kaligis.

Tak lama berselang, Yurinda yang juga sekretaris OC Kaligis keluar ruang pemeriksaan. Yurinda selesai menjalani pemeriksaan pukul 00.10 WIB. Saat ditanya soal hal itu, Yurinda tak mau menjawab sedikitpun. Perempuan berambut panjang itu terus berjalan sambil dikawal belasan koleganya. Informasi yang didapat, oleh penyidik Yurinda dicecar soal buku berisi uang suap yang dia bawa bersama Kaligis dan Gerry. Yurinda memang berperan menyiapkan uang suap untuk hakim PTUN Medan yang dia selipkan ke buku sesuai perintah Kaligis.

Sementara saat ini Gerry tengah mengajukan diri sebagai Justice Collaborator (JC). KPK mensyaratkan, jika ingin jadi JC, Gerry harus mau membuka kasus lain yang juga dimainkan OC Kaligis. "Memang benar Gerry sedang mengajukan diri sebagai JC, sedang dipelajari penyidik pengajuannya," kata Plt Pimpinan KPK, Johan Budi di kantornya, Jl HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Jumat (24/7) malam.

Seperti biasa, KPK biasanya mensyaratkan para tersangka yang ingin jadi JC untuk membongkar kasus lain yang melibatkan tersangka utama. Dalam hal ini, Gerry harus mau membuka kasus lain yang juga dimainkan OC Kaligis selama menangani kasus. Pihak Gerry pun mengaku sedang mempertimbangkan syarat yang diajukan KPK. Namun, pada dasarnya, Gerry sudah siap membongkar kasus yang dimainkan Kaligis selain kasus suap hakim PTUN Medan.

"Dalam case ini Gerry siap. Kalau untuk case lain, itu perlu dipertimbangkan lagi sama dia, sebetulnya manfaat bagi bangsa dan negara ada, manfaat bagi pengacara ada, supaya jangan ada lagi pengacara yang seperti ini, jadi pelajaran, kalau mau diungkap," jelas pengacara Gerry, Haeruddin Massaro.

Jika jadi JC, Gerry memang akan mendapatkan beberapa keuntungan. Salah satu keuntungan yang pasti didapatkan Gerry adalah tuntutan hukuman rendah yang akan diajukan jaksa KPK di persidangan "Kalau mau begitu bukan cuma Gerry saja yang harus buka, tapi KPK juga harus cari tahu siapa saja yang pernah jadi korban kantor OCK, itu bagus kalau dia mau," katanya.

Kasus ini bermula dari perkara korupsi dana bantuan sosial yang mengaitkan sejumlah pejabat di Pemerintah Provinsi Sumatera Utara. Kasus korupsi yang kini ditangani Kejaksaan Agung itu digugat oleh Pemprov Sumatera Utara. Sebelum dilimpahkan ke Kejaksaan Agung, kasus ini mengendap di Kejaksaan Tinggi Medan. Dalam proses gugatan ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Medan itulah, KPK kemudian membongkar dugaan praktik penyuapan yang dilakukan oleh Gerry kepada tiga hakim dan satu panitera.

Gerry atau M Yagari Bhastara merupakan kuasa hukum dari kantor firma hukum OC Kaligis and Associates yang membela Pemerintah Provinsi Sumatera Utara terkait perkara di PTUN Medan. Adapun ketiga hakim PTUN Medan itu adalah Tripeni Irinto Putro, Amir Fauzi, dan Dermawan Ginting. Sementara itu, satu panitera yang dimaksud bernama Syamsir Yusfan. (Dang)

KOMENTAR DISQUS :

Top