Indonesia English
Jumat, 17 September 2021 |
Kesehatan

MELIHAT PROFESIONALISME SUSTER HD SAAT TANGANI PASIEN CORONA DI RS SEKAR KAMULYAN

Rabu, 07 Juli 2021 19:02:41 wib - Komentar
SALAH seorang pasien saat cuci darah di ruang Hemodialisa.

Kuningan (Banten88.com) :  PASIEN Hemodialisa (HD) atau cuci darah, adalah pasien yang sangat rentan kekebalan tubuhnya.   Apalagi jika ditumpangi penyakit baru yang saat ini sedang menggoncang dunia yakni Corona, penderitaan pasien tsb bukan main memilukannya.
Titik krusial yang Banten88.com amati adalah pada kesulitan bernafas akibat virus corona menyerang paru-paru.
Lalu bagaimana para suster atau tenaga kesehatan yang menangani pasien hemodialisa dan sekaligus pasien corona?.
Disini diperlukan nakes yang sangat berpengalaman dan memiliki jam terbang tinggi.
Jika tidak profesional, itu bisa membuat penanganan pasien berantakan dan
Ini tugas amat berat karena menyangkut nyawa pasien yang harus diselamatkan.
CEKATAN
Kala itu yang bertugas diruangan Hemodialisa dan sekaligus merawat pasien corona di Rumah Sakit Sekar Kamulyan, Kuningan, Jawa Barat adalah Sr. Aurele Myrna Lucyana, nakes senior berparas menawan asal kota Sukabumi, Jawa Barat bersama Sr.Neni asli Kuningan, Jabar dan Sr.Nanik dari Lampung.
Kala itu ada pasien cuci darah yang terkena corona, ia merintih-merintih manggil suster dan mengatakan sangat sulit bernafas serta dada sebelah kiri sangat sakit.
Mendengar keluhan pasien yang amat menggetarkan hati, para suster dengan sigap memberikan pertolongan.
Sr. Neni mengatakan  kepada pasien dan memberi motivasi agar pasien Istigfar.
Pasien terus mengeluh sakit didada.
Para suster saling bekerjasama dengan kompak, bahu membahu menangani pasien dengan cepat setelah sebelumnya koordinasi dengan dokter.
Karena pasien terus mengeluh dada kiri sakit, para suster kemudian mengambil alat pacu jantung dengan cepat dan terampil pula memasangnya.
Setelah pasien bisa dikendalikan akhirnya dirujuk diruang IGD.
Para pasien cuci darah yang terkena corona, proses cuci darahnya disatukan diruang Hemodialisa.
Mereka cuci darah seminggu sekali selama 4  jam. Sebelum pasien masuk ruangan, ruangan disterilkan dulu.
Pasien dilarang membuka masker, dilarang makan dan minum selama cuci darah.
Hal ini dimaksudkan agar virus corona tidak menular ke tenaga kesehatan.
Rumah sakit sangat menjaga kesehatan para suster karena suster adalah operator dan asset rumah sakit yang sangat berharga. Mereka tidak boleh tersengat wabah corona.
Sehingga saat menangani pasien cuci darah, para suster  mengenakan
Atribut APD lengkap.  Bukan rahasia lagi mengenakan APD itu sangat tidak nyaman karena panas.
" Tapi apa mau dikata dari pada kita kena virus Corona," tegas Sr.Myrna kepada media cyber
Banten88.com.
DEDIKASI LUAR BIASA
Dedikasi para suster ini memang sungguh luar biasa. Mereka dengan sepenuh hati mencuci tabung darah pasien. Setelah pasien cuci darah yang terkena corona pulang, para suster dengan cekatan mencuci dengan lap basah membersihkan tempat tidur dan menyemprot dengan alat pembunuh kuman.
Para suster yang bertugas di shift 3 ini, baru bisa pulang, mandi bersih  dan makan malam sekitar jam 23.00.
Dedikasi, loyalitas dan kesetiaanya kepada profesi para suster ini wajib diberi apresiasi setinggi-tingginya oleh keluarga pasien dan masyarakat luas.
Mereka bekerja sepenuh hati tanpa mengharap imbalan jasa.
SESAK NAFAS
Titik krusial penderita Covid 19 adalah pada pernafasan.
Demikian pula ketika Suster senior Titin, perawat Frans, Suster Gaby dan Suster Nanik dihari lain bertugas, salah seorang pasien cuci darah yang terkena virus Covid 19 mengalami sesak nafas hebat.
Seluruh tim suster dengan cepat dan cekatan memasangkan oksigen, lalu memberi motivasi kepada pasien untuk tenang dan mengatur nafas.
Suster terus mengawasi perkembangan pasien dari menit ke menit dengan teliti dan seksama.
Namun karena nyeseknya makin mengkhawatirkan, pasien tsb proses cuci darah dihentikan dan dibawa ke IGD
Tim suster di unit HD, ada suster Happy yang sangat milenial. Usia muda namun pengetahuan dan pengalamannya dibidang Hemodialisa tidak diragukan lagi. Sayangnya media cyber Banten88.com tidak jumpa, karena Suster Happy dinas pagi.
PENJELASAN dr.SIGIT
dr.Andreas Sigit Ladrang, pakar penyakit dalam yang juga Wakil Direktur Rumah Sakit Sekar Kamulyan, Cigugur, Kuningan Jawa Barat, dalam penjelasannya kepada media cyber Banten88.com mengatakan, orang yang melakukan kontak erat dengan pasien Covid, sesuai ketentuan Permenkes, harus melakukan isolasi mandiri 5 hari setelah kontak. Selanjutnya melakukan chek Swab PCR dihari ke 3 atau ke 5 setelah ada gejala. Jika tanpa gejala melakukan Swab PCR hari ke 8.
Untuk OTG (Orang Tanpa Gejala) harus melakukan Isolasi Mandiri (Isoman) 14 hari sejak terkonfirmasi ybs terkena Covid.
OTG cukup  mengobati dirinya dengan Vitamin C 500 dua kali sehari dan Vitamin D 1000 sehari sekali.
Demikian dr.Andreas Sigit Ladrang, pakar penyakit dalam dan Wakil Direktur Rumah Sakit Sekar Kamulyan. (Seno Supono).

KOMENTAR DISQUS :

Top