Indonesia English
Selasa, 20 Oktober 2020 |
Advetorial

MENJADI SAKSI SHOW KOES PLUS FORMASI UTUH TONNY, YON, YOK & MURRY.

Senin, 05 Oktober 2020 21:18:33 wib - Komentar
TONNY KOESWOYO leader KOES PLUS

Jakarta (Banten88.com) :  TAHUN 1972 dalam rangka tour show ke Jawa Tengah, Koes Plus setelah tampil di Semarang selanjutnya gelar konser di Salatiga.
Band yang sedang menaiki tangga popularitas itu main dihalaman SMAN 1 Salatiga sekolahnya pesohor Roy Marten.

Saat itu saya duduk dikelas 6 SDN 1 Kalitjatjing. Tentu uang jajan saya yang hanya setengah rupiah jauh panggang dari api untuk membeli tiket pertunjukan Koes Plus.
Sekitar pukul 21.00 ketika suasana kota Salatiga sunyi, dari kamar tidur saya, sayup-sayup terdengar suara mas Tonny, mas Yon dan mas Yok menggebrak lagu Nusantara 1.

Wuih bukan main girang hati saya, mendengar suara mereka meski suara itu kadang hilang kadang muncul, namun mampu menjadi pengobat rindu.
Meski tidak bisa menatap sang idola namun mampu mengobati rasa kangen akan kehadiran Koes Plus.
Beberapa hari kemudian foto show Koes Plus di SMAN 1 Salatiga, dijajakan rapi berbagai pose di toko buku terbesar yakni Toko Buku Kukuh Subardi.
Setiap pulang sekolah, saya selalu mampir kedepan toko buku tersebut untuk memandangi foto personel Koes Plus dengan penuh kekaguman. Sementara saya sendiri tak mampu membeli foto tsb karena tidak punya uang.

KEDIGDAYAAN KOES PLUS
Tahun 1980 saya sudah migrasi ke Jakarta. Dibulan Desember 1980, Koes Plus menggelar show di Taman Ria Monas Jakarta. Seperti diketahui kala itu ada dua taman ria. Yakni Taman Ria Monas dan Taman Ria Senayan yang lokasinya dekat gedung TVRI Nasional Jakarta.
Sebagai juru warta sebuah koran harian di Jakarta, saya dibebaskan membayar tiket oleh management Taman Ria Monas.
Ketika waktu menunjukan pukul 19.00 malam. Halaman taman ria depan panggung utama sudah dipenuhi penonton.
Dari seorang Roadies (tukang pasang alat) saya dapat informasi bahwa Koes Plus sudah jarang latihan saat mau show dan mas Yok kena influenza tapi tetap manggung.
Sekitar pukul 19.30 ketiga Koes dan Murry menaiki panggung langsung disambut dengan gegap gempita oleh penonton.
Penonton berteriak memanggil....mas Yon....mas Yon. Dan yang dipanggil melempar senyum dari atas panggung sambil melambaikan tangan.
Ketiga Koes langsung berdiri berjajar rapi dan membungkuk tanda memberi hormat kepada penonton.
Maka menggebraklah lagu pembuka, Laguku Sendiri dari album Kus Bersaudara 1962.
Penonton semakin girang, tepuk tangan membahana.
Mas Tonny, mas Yon dan Mas Yok bermain guitar sambil menggerakan badan terlihat lincah. Kadang membungkuk. Utamanya mas Ton memainkan guitarnya atraktif sekali. Gaya mereka dalam formasi utuh, selangit deh malam itu.
Jika posisi kita dekat mas Murry, serasa gebukan drum menabok-nabok jantung kita. Mas Murry bermain full power, rancak, kaya rofel dengan pukulan sangat mantap.
Selanjutnya disusul lagu Kisah Sedih di Hari Minggu, Kembalilah, Bujangan dan Pelangi.
Ketika mas Ton mengusung lagu Jangan Berulang Lagi, karena mengambil nada lagu terlalu tinggi, ketika reffrain suara mas Ton melenceng.
Tentu saja disoraki penonton dan mas Ton terlihat tersipu malu.
Lagu demi lagu disajikan. Ketika intro dimainkan, penonton pun tahu lagu apa yang akan dinyanyikan.
Waktu itu belum model mas Yon melepas lagu agar penonton yang melanjutkan bernyanyi.
Semua lagu diselesaikan personel Koes Plus sampai selesai.
Mas Yon melepas lagu agar dilanjutkan oleh penonton, dimulai ketika Koes Plus bangkit lagi pada 1993 dengan formasi Yon, Yok, Murry dan Abadi Soesman.
Dalam show di taman ria itu, mas Murry melantunkan lagu Masa Muda dan Penyanyi Muda.
Sayangnya lagu andalan mas Yok berjudul Jangan Sedih dari album ke 4, malam itu absen dimainkan karena ia sedang flu.
Mas Tonny sebagai juru bicara group dikenal komunikatif dan jenaka.
Sebagai juru warta yang belum berpengalaman mengambil gambar, ketika spot light panggung warna kuning menyorot wajah personel Koes Plus, saat itu juga saya bidik wajah musisi Koes Plus. Tapi ternyata setelah film dicetak, lampu tustel kalah power dengan spot light sehingga foto yang saya ambil didominasi warna kuning dan wajah personel tidak tampak.
Saya masih ingat waktu itu menggunakan camera merk Yashica.

INSIDEN DEPAN PANGGUNG
Setelah puluhan lagu dInyanyikan. Kira-kira jam 10 malam, Koes Plus mengakhiri show.
Saya lupa lagu penutupnya Kapan-kapan atau Selamat Tinggal.
Ketiga Koes dan Murry menuruni panggung. Seingat saya baik saat menaiki panggung atau turun panggung Koes Plus tidak dikawal pengaman.
Saat mas Yon sudah didepan panggung, tiba-tiba ada oknum yang melempar papan kearah mas Yon.
Kontan darah muda mas Yon mendidih dan siap pasang kuda-kuda untuk melawan.
Namun mas Ton segera menenangkan hati mas Yon. Lalu keempatnya dengan waspada meninggalkan panggung.
Para fans Koes Plus tetap berjaga-jaga hingga personel Koes Plus memasuki kantor management taman ria.
Secara keseluruhan show Koes Plus malam itu mendulang sukses.
Era 80 itu ketenaran Koes Plus memang mulai surut. Namun keberadaannya sebagai macan panggung tetap garang dan tidak luntur eksistensinya.

KEYBOARDIS TAMU
Abadi Soesman keyboardis God Bless akhirnya terpilih mengisi formasi Koes Plus setelah mas Tonny wafat.  Ditangan abadi musik Koes Plus menjadi megah dan mewah.
Namun ia mengakui memainkan musik Koes Plus lalu masuk ke jiwa mas Tonny Koeswoyo, itu sangat sulit, ungkapnya.
Selanjutnya Keyboardis Koes Plus diisi Bambang Tondo. Ditangan Bambang mulai terasa warna Koes. Bambang bisa bermain mendekati musik asli Koes Plus.
Ini bisa disimak pada repertoar lagu Karena Cinta dan Kidung Aku yang dimainkan mendekati aslinya.
Kemudian saat Najib Usman menggantikan Bambang Tondo, musik Koes Plus jauh dari warna aslinya.
Malah menurut Agus Giri sahabat mas Yok Koeswoyo, musik yang aslinya menggunakan gitar oleh Najib dimainkan dengan organ, jadi terdengarnya tidak pas, tutur Agus Giri.
Lalu bagaimana musik Koes Plus ditangan Andolin, jawabannya adalah musik Koes Plus menjadi sangat tidak Koes.

Jika ada pertanyaan, siapakah fans Koes Plus yang beruntung?.   Jawabannya adalah mereka yang pernah menyaksikan gegap gempita show Koes Plus dalam formasi utuh Tonny, Yon, Yok dan Murry.
Cara mas Tonny menaruh guitar didada mengingatkan kita pada giitaris The Beatles John Lennon.
(Seno Supono).

KOMENTAR DISQUS :

Top