Indonesia English
Rabu, 03 Juni 2020 |
Nasional - Politik

Muktamar Ditutup, Said Aqil Kembali Dipilih Menjadi Ketua PBNU

Kamis, 06 Agustus 2015 20:29:24 wib - Komentar
Said Aqil Siraj.

Jombang, (Banten88.com) – Setelah melalui proses panjang, Muktamar ke-33 NU telah resmi ditutup. Hasil Muktamar tersebut, akhirnya muktamirin berhasil memilih dan mengangkat kembali KH Ma'ruf Amin sebagai Rois Aam, sementara Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) kembali dijabat Said Aqil Siradj. Namun terpilihnya kedua tokoh NU tersebut sejumlah pihak mempertanyakan keabsahan muktamar.

Saat para muktamirin sedang mengikuti proses pemilihan Rois Aam dan Ketua Umum PBNU Rabu (5/8) malam, ratusan peserta muktamar yang tergabung dalam Forum lintas wilayah dan cabang NU menggelar rapat di Ponpes Tebu Ireng, Jombang. Forum ini sempat disebut sebagai muktamar tandingan. Ternyata benar, mereka sepakat menolak Muktamar NU ke 33 beserta produk yang dihasilkannya. Forum tersebut bahkan akan menggugat PBNU periode 2010-2015 ke pengadilan dan meminta agar muktamar di ulang paling lambat 3 bulan dari hari ini.

Katib Syuriah PBNU periode 2010-2015, Kiai Afifudin Muhajir, adalah salah satu kiai yang menolak hasil muktamar ke-33 NU.  Dia juga turut hadir dalam forum lintas wilayah dan cabang NU yang digelar di Gedung Yusuf Hasyim, Ponpes Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. "Selama ini NU dianggap sebagai pengawal moral. Dianggap sebagai benteng bangsa dan pendukung NKRI. Mungkinkah muktamar yang seperti ini mengasilkan produk untuk memperbaiki hal-hal yang tidak baik. karena itu, produk muktamar yang tidak bisa memperbaiki situasi dan kondisi baik Indonesia maupun dunia tak perlu diakui," ujarnya.

Kiai Afif turut prihatin melihat kenyataan ini. Dalam forum itu, dia mendoakan agar peserta muktamar yang hadir di Tebu Ireng tidak mendapatkan laknat dari Allah SWT. "Saya punya keyakinan bahwa para almarhum pendiri Jamiyah NU sama-sama menangis di hadapan Allah SWT melihat kaum Nahdliyin punya perilaku yang seperti ini. Mudah-mudahan kita tidak termasuk yang mendapatkan laknat dari Allah," kata dia.

KH Salahudin Wahid yang juga sempat jadi kandidat Ketum PBNU menyebut pemilihan Rais Aam PBNU di Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke 33 yang digelar di Alun-alun Jombang, cacat hukum. "Di Alun-alun tempat Muktamar NU walaupun memenuhi kuorum, tetap cacat hukum. Itu sama saja hamil duluan baru nikah, atau apa saya nggak tahu," kata Gus Sholah, panggilan KH Salahudin Wahid di kediamannya di Ponpes Tebuireng, Jombang, Rabu (5/8).

Gus Sholah membeberkan alasan muktamar cacat hukum seperti, peserta yang tidak boleh mendaftar jika tidak mengisi form nama calon anggota ahlul halli wal aqdli (AHWA). Laporan pertanggungjawaban (LPJ) PBNU, yang belum ada pandangan umum dari wilayah dan cabang, tapi diputuskan muktamirin setuju semua. Kemudian, diteruskan ke tahap terpilihnya 9 nama anggota AHWA.

"Kalau besok pagi digelar ulang pendaftaran calon AHWA, kami setuju. Dengan syarat yang memimpin sidang orang-orang wilayah. Yang menjaga keamanan kepolisian. Keamanan yang lain keluar dari ruang persidangan,"

Seperti diketahui dalam sidang voting pemilihan ketua tanfiziah Pengurus Besar NU (PBNU) di Alun-alun Jombang, Kamis (6/8/2015) dini hari, Said Agil Siraj berhasil menghimpun 287 suara, di bawahnya ada As'ad Ali dengan 107 suara, dan KH Sholahudin Wahid (Gus Sholah) 10 suara. Sidang pemilihan yang dipimpin Sekretaris Pengurus Wilayah NU (PWNU) Jatim, Akhmad Muzakki, sebenarnya akan melakukan pemilihan tahap kedua karena syarat maju dalam pemilihan tahap kedua bagi As'ad Ali adalah 99 suara. Namun, mantan pimpinan Badan Intelijen Negara (BIN) itu memilih mundur dari pemilihan, dan memilih mendukung Said Agil Siraj. 

"Saya memilih mundur dari pemilihan tahap kedua, dan akan mendukung sepenuhnya KH Said Agil Siraj untuk kembali memimpin NU," kata As'ad.

Pada akhir persidangan, pimpinan sidang juga membacakan surat amanat dari KH Mustofa Bisri (Gus Mus) yang sebelumnya dipilih anggota Ahlul Halli Wal'aqdi (Ahwa) menjadi rais am, yang berisi ketidaksediaan diangkat menjadi rais am. Amanat posisi rais am pun lantas diberikan kepada KH Ma'ruf Amin. Dalam forum Ahwa, wakil ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini mendapat paling banyak dukungan rais Syuriah, dengan jumlah total 333 dukungan.

Ketua Umum terpilih PBNU Said Aqil Siradj berjanji tidak akan membawa NU ke panggung politik. Dia akan fokus pada pengembangan ekonomi kerakyatan dan pendidikan rakyat kecil. "Saya tidak memiliki agenda politik. Agenda saya hanyalah agenda NU, bukan yang lain," katanya usai pemilihan di forum Muktamar ke-33 NU di Alun Jombang, Kamis (6/8) dini hari.

Selain itu, dalam agenda lima tahun ke depan, Said juga akan lebih fokus pada program kepemudaan, khususnya dalam penguatan ideologi ahlussunnah wal jamaah, untuk menghindari pengaruh serangan ideologi Islam radikal. "Kami akan buat NU menjadi Jam'iyah yang lebih moderat dan toleran, dan bermanfaat bagi warga NU, bangsa, dan bahkan dunia," ujarnya.

Said Aqil kembali terpilih memimpin NU untuk masa bakti 2015-2020. Dalam sidang voting pemilihan Ketua Tanfidziyah PBNU dini hari tadi, Dalam kesempatan itu, KH Mustofa Bisri (Gus Mus) mengundurkan diri dari Rais Aam dan digantikan dengan KH Ma'ruf Amin. Mekanisme pemilihan Rais Aam pada muktamar kali ini menggunakan mekanisme musyawarah mufakat ulama atau ahlul halli wal aqdi (AHWA).

Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama sudah ditutup pada Kamis dini hari tadi di Jombang, Jawa Timur. Untuk pertamakalinya dalam sejarah hajatan lima tahunan kaum nahdliyin itu diwarnai tangisan dua kiai ternama, penjabat Rois Aam PBNU 2014-2015 KH Mustofa Bisri (Gus Mus) dan Katib Aam PBNU (2010-2015), KH Abdul Malik Madani. Mengapa Gus Mus dan KH Abdul Malik Madani sampai menangis?

Muktamar ke-33 NU di Jombang Jawa Timur 'memanas' bahkan beberapa hari sebelum dibuka oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada Sabtu, 1 Agustus 2015 lalu. Pemantiknya adalah penggunaan sistem Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA) untuk pemilihan Rois Aam PBNU 2015-2020. Sejumlah pengurus wilayah dan cabang NU menolak menggunaan sistem AHWA untuk pemilihan Rois Aam. Puncak prahara terjadi pada Minggu (2/8/2015) malam, saat peserta muktamar nyaris baku hantam di sidang pleno.

Insiden nyaris baku hantam itu membuat sejumlah kiai sepuh prihatin. Keesokan harinya, Senin (3/8) Gus Mus sampai menangis di sidang pleno untuk menenangkan muktamirin. Gus Mus terdengar penuh isak dalam menyampaikan sambutannya. Sementara suasana arena sidang hening. Semua muktamirin mendengarkan. Tak hanya menangis, bahkan kiai yang terkenal dengan kerendahan hatinya itu sampai akan mencium kaki muktamirin demi untuk menenangkan suasana.

"Mohon dengarkan saya, dengan hormat kalau perlu saya mencium kaki-kaki anda semua agar mengikuti akhlakuk karimah, Akhlak KH Haysim Asy'ari dan pendahulu kita," pinta Gus Mus kepada muktamirin.

Tangisan Gus Mus pun berhasil meredam suasana. Tak lagi gaduh, tahapan demi tahapan muktamar berlangsung dengan teduh.  Namun, teduhnya suasana muktamar mendadak berubah pada Rabu petang. Ratusan peserta Muktamar NU tiba-tiba meninggalkan arena alun-alun Jombang dan merapat ke Aula Yusuf Hasyim di Pondok Pesantren Tebuireng. Rupanya tak hanya peserta saja yang ada di situ, tetapi dua calon Ketum PBNU yakni KH Salahuddin Wahid (Gus Solah) dan KH Muhammad Adnan.

Kubu Gus Solah dan Muhammad Adnan menggelar muktamar tandingan. Adnan yang juga mengikuti forum di Ponpes Tebuireng menyatakan bahwa akan ada upaya gugatan hukum atas pelaksanaan Muktamar NU. Namun Adnan belum bisa memastikan kapan dan ke mana gugatan dilayangkan.Lagi-lagi situasi ini membuat sejumlah kiai senior prihatin. Katib Aam PBNU (2010-2015), Abdul Malik Madani berusaha mencegah agar tak terjadi muktamar tandingan.

Tak cukup dengan kata-kata, Malik meredam ambisi para muktamirin itu dengan air mata. "Saya minta maaf apabila tidak bisa menyelesaikan persoalan itu (muktamar). Saya memahami kekecewaan yang dirasakan  muktamirin. Tapi mari kita kelola kekecewaan itu kita kelola dengan cara yang tidak semakin merunyamkan jamiyah Nahdlatul Ulama," pinta Malik kepada ratusan muktamirin di aula Bachir Akhmad lantai 3 Gedung Yusuf Hasyim. (Dang). 

KOMENTAR DISQUS :

Top