Indonesia English
Selasa, 04 Oktober 2022 |
Nasional - Peristiwa

Muktamar ke-19, Mathla’ul Anwar Mitra Pemerintah Yang Kritis

Sabtu, 08 Agustus 2015 21:10:09 wib - Komentar
Ribuan warga Pandeglang sambut kedatangan Jokowi di Alun-alun Pandeglang, Banten.

PANDEGLANG, (Banten88.com): Ketua Umum Pengurus Besar Mathla’ul Anwar, KH Ahmad Sadeli Karim mengatakan, Mathla’ul Anwar (MA) akan berada di depan untuk mendukung pemerintah dalam bingkai NKRI. Tetapi jika pemerintah menyimpang dan menyeleweng dari konstitusi, termasuk nilai-nilai agama, maka MA tak sungkan untuk mengkoreksi. 

“Sebagai organisasi dan perguruan Islam yang berada di antara NU dan Muhammadiyah, Mathla’ul Anwar berjanji akan menjadi mitra pemerintah yang kritis,”ujar KH Ahmad Sadeli Karim saat sambutan pada Pembukaan Acara Muktamar ke-19 dan Peringatan 100 Tahun Mathla’ul Anwar, di Alun-alun Pandeglang, Sabtu (8/8/2015).

Peringatan 100 tahun Mathla’ul Anwar akan dijadikan sebagai ajang evaluasi secara besar-besaran terhadap internal dan keluarga besar MA. 100 tahun MA akan  dijadikan sebagai ajang memperbaharui hidup. Bukan saja kehidupan  pribadi, melainkan secara kolektif bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Selain itu menurut Sadeli Karim, MA juga akan turut serta mencerdaskan pendidikan anak bangsa sebagaimana tema Muktamar ke-19 dan Peringatan 100 Tahun Mathla’ul Anwar Tahun 2015, yaitu ‘Mathla’ul Anwar Mencerdaskan Bangsa’.  "Bagi Mathla'ul Anwar, makna cerdas adalah berilmu dan bermoral. Artinya adanya keseimbangan antara sisi intelektual, emosional, dan spiritual,” tutur Sadeli Karim.

Acara ini dibuka Presiden Joko Widodo. sejumlah petinggi negara pun ikut hadir seperti Kepala BIN, Sutiyoso, Menteria Agama, Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawangsa, Menkopolhukam Tedjo Edhy Purdijatno, Ketua Umum Partai Hanura Wiranto, Panglima Kodam III Siliwangi Mayjen TNI Dedi Kisnaedi Thamim, Kapolda Banten Brigjen Pol Boy Rafli Amar.

Mathla'ul Anwar  didirikan 9 Agustus 1916 silam di Kecamatan Menes, Pandeglang. Empat tahun setelah berdirinya Muhammadiyah serta 10 tahun lebih awal dibanding Nahdlatul Ulama (NU). Muhammadiyah dirikan pada 18 November 1912 di Kauman Yogyakarta oleh KH Ahmad Dahlan dan NU pada 31 Januari 1926 di Surabaya Jawa Timur oleh KH Hasyim Asyari. 

Ormas Islam yang didirikan satu abad yang lalu itu kini sudah memiliki perwakilan di 24 provinsi. Kehadiran perwakilan di beberapa provinsi lainnya akan terus diusahakan seperti di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Gorontalo, dan di seluruh Papua.(YAN).

KOMENTAR DISQUS :

Top