Indonesia English
Senin, 23 April 2018 |
Advetorial

MURRY KOES PLUS SANG KAISAR DRUM INDONESIA.

Sabtu, 07 April 2018 08:28:08 wib - Komentar
Kasmuri atau biasa ditulis Murry sang Kaisar Drumer Republik Indonesia dalam album " Atribute To Koes Plus BASF Legend Award 1993".

Oleh Seno Supono.

DIBANDING musisi Koes Plus lainya yakni Tonny Koeswoyo, Yon Koeswoyo dan Yok Koeswoyo,  perjumpaan penulis dengan sang " Kaisar Drum Republik Indonesia " mas Kasmuri atau beken ditulis Murry, terbilang jarang.

Penulis  hanya 3 kali bersua dengan sang kaisar. Perrtama tahun 1980, ketika menyaksikan  show Koes Plus dengan formasi utuh (Tonny, Yon, Yok dan Murry) di Taman Ria Monas Jakarta. itupun tidak sempat wawancara karena situasi tidak mendukung.  Perjumpaan kedua di Stasiun TVRI ketika Koes Plus promo album Pop Melayu dengan lagu andalan berjudul Nasib. Pertemuan ketiga di Balai Sarbini ketika meliput show Koes Plus yang disponsori Harian Kompas terjadi beberapa saat sebelum Koes Plus gelar show lanjutan dengan format Akustikan (Yon dan Yok tak memainkan gitar listrik) di gedung yang sama beberapa tahun lalu. Posisi waktu itu, penulis sebagai  Redaktur Surat Kabar Mingguan Sentana.

Ditengah jeda show, Agusta Marshall salah seorang panitia  membuka quiz Koes Plus. Ada 4 orang penonton yang berani tampil di panggung termasuk penulis. Pertanyaan Agusta kalau tak salah ingat adalah tentang asal - usul nama group band Koes Plus.

Penulis menjawab, nama Koes Plus itu terlahir ketika  Tonny Koeswoyo  didampingi Totok Aji Rahman basist Koes Plus pada album Dheg Dheg Plus Volume 1 jalan - jalan ke kawasan Blok M. Melihat baliho besar iklan obat sakit kepala yang kala itu amat terkenal APC Plus. Dari situ  Tonny  terinspirasi dan memproklamirkan nama band adalah Koes Plus. Artinya bergabungnya anak - anak clan Koeswoyo ditambah musisi yang bukan " bermarga Koeswoyo " Yakni Murry (drum) dan Totok  (bas). Demikian penulis menjawab pertanyaan Agusta. Kesan penulis saat itu, meski jawaban benar, Agusta sepertinya ingin  mendiskualifikasi penulis. Karena Agusta tahu bahwa penulis adalah wartawan yang paham tentang Koes Plus jadi bukan tandingan 3 peserta dari penonton. Tampaknya Agusta berusaha menjadi juri yang obyektif.

Namun apa yang terjadi,  Murry yang duduk di barisan tempat duduk terdepan dengan suara lantang  bilang " Sentana  Menang ".Setelah itu panitia menginformasikan agar para pemenang bisa mengambil hadiah jika konser Koes Plus telah usai. Namun penulis tidak mengambil hadiah, karena targetnya bukan itu. Targetnya adalah test terhadap diri sendiri tentang sejauhmana menguasai materi soal seni dan ilmu tentang Koes Plus.

Meski secara phisik penulis jarang jumpa dengan mas Kasmuri, namun secara psikologi kami merasa dekat.

Sebagai Redaktur Surat Kabar Mingguan Sentana Jakarta (kini terbit harian) aktif menulis Koes Plus baik berupa wawancara dengan personel Tonny, Yon dan Yok maupun meresensi album Koes Plus seperti  album Pop Memble, Kisah Sejarah Koes Bersaudara, Da da da, Geladak Hitam hingga Cinta Dibalik Kota serta meliput live show Koes Plus dengan formasi Yon, Yok,  Murry dan Abadi Soesman atau Yon, Murry, Jack Kasbi dan Andolin Sibuea diberbagai hotel besar di Jakarta dan Hotel Horizon Bekasi.

Seperti diketahui, Kasmuri memiliki hoby sebagai kolektor batu akik. Seorang pedagang batu akik di kawasan Rawa Bening Jatinegara, Jaktim menuturkan kepada penulis, jika mas Murry datang ke Rawa Bening  selalu minta dicarikan koran Sentana.

Seperti diketahui surat kabar Mingguan Sentana adalah satu - satunya koran mingguan di Indonesia  yang pada dekade 90 an  oplagnya mencapai 500.000 exsemplaar. Dampaknya tulisan - tulisan tentang Koes Plus, gaungnya sungguh luar biasa.

Jika Koes Plus diatas puncak ketenaran kemudian beritanya diburu wartawan, itu hal biasa. Tapi ketika Koes Plus pada pertengahan  1980 ketenaranya mulai surut karena hadir solois Iis Sugianto dan penyair yang jadi penyanyi Ebiet G Ade, berdampak pada tergerusnya popularitas Koes Plus.

Namun penulis tetap konsisten dan tidak terpengaruh dengan perubahan selera musik pop. Melalui tulisan - tulisannya, penulis menilai  Koes Plus tetap layak dikedepankan dalam situasi dan kondisi apapun karena Koes Plus adalah agen pemersatu bangsa dan asset bangsa.

Berbicara Koes Plus tentu tidak bisa mengabaikan peran  Kasmuri (lahir di Jember 19 Juni 1949 wafat 1 Februari 2014) Menurut penulis, Murry tidak hanya sekedar plus namun sudah menjadi plus plusnya Koes. Artinya peran Murry sangat strategis di Koes Plus. Permainan drum nya full power dan kaya rofel. Bahkan kadang mengeluarkan bunyi - bunyian aneh nanun tetap enak didengar. Misalnya   memodifikasi kaleng untuk memperkaya suara. Seperti dalam lagu Bersama Lagi di album Koes Plus 78. Sedangkan pada lagu Nusantara V album Koes Plus Volume 11, lagi - lagi Murry menunjukan keterampilan yg luar biasa. Memukul drum seperti anak - anak bermain tetabuhan (klothek an, bahasa Jawa) di gardu RW. Sehingga suara yang dihasilkan terasa antiq, renyah, gurih, rancak dan indah karena kaya harmoni.

Menyitir pernyataan Ais Suhana producer Ais Musik yang memanggungkan Koes Plus dengan tatif ratusan juta rupiah pada 1993 dan tahun - tahun setelahnya. Menurut Ais, salah satu ciri khas Koes Plus adalah pada permainan drum  Murry yang atraktif, dinamis dan kaya rofel. Kalau  menyoroti teknik Koes Plus dalam bermain  musik, menurut Wasis Susilo pendiri dan Ketua Dewan Pembina  Komunitas Koes Plus Jiwa Nusantara mengatakan, yang piawai menganalisa adalah Agusta Marshall. Seperti diketahui Agusta adalah drumer T Koes band yakni group imitator Koes Plus yang saat ini lagi naik daun.Wasis menambahkan, kebutuhan bermusik secara psikologi Tonny Koeswoyo, hanya bisa dipenuhi oleh Murry. Penegasan Wasis ini bisa diterjemahkan oleh penulis bahwa kemampuan Murry dalam bermain drum telah sesuai dengan apa yang diidamkan Tonny sejak lama. Tonny sejak di Koes Bersaudara memang kurang sreg dengan permainan drum Nomo Koeswoyo yang kurang rancak. Terkait dengan hal tsb,  Yon Koeswoyo juga mengakui, dalam bermusik Koes Plus melakukan lompatan besar pasca kehadiran arek Jember ini sebagai drumer. Murry memang dianugerahi talenta yang luar biasa. Ketika band - band seangkatan seperti Panbers, The Mercys dan Dlloyd saat rekaman Pop Melayu karena pemain drum nya memiliki keterbatasan dalam memainkan gendang. Bahkan seperti band sekelas No Koes, dalam rekaman Pop Melayu, menyewa pemain gendang dari group rock dangdut Soneta pimpinan Rhoma Irama. Kedua group itu berada dalam satu major label Yukawi Indo Musik. Namun Murry dengan kepiawaiannya,  memainkan gendang langsung untuk album Pop Melayu Koes Plus atau Murrys Group. Dengan demikian sound pop melayu Koes Plus terasa origional karena nuansa melayunya " dapat " dan diperkaya dengan cengkok para vokalisnya yang pas.

Dalam menulis lagu, Murry memang tidak se-produktif Tonny, Yon dan Yok. Nanun dari " tangan dingin " nya tercipta lagu - lagu tenar seperti Janjimu, Hidup Tanpa Cinta, Doa Suciku, Bertemu dan Berpisah, Desember, Masa Muda, Mobil Tua dll nya termasuk lagu legendaris Pelangi dan Bujangan, kini setelah 40 tahun lebih masih sering diputar. Kedua lagu tsb Ciptaan Murry.

" KUDETA  MERANGKAK" DI REMACO

Pada 1977 ketika terjadi " kudeta merangkak " di Republic Manufacturing & co (Remaco) yang diinisiasi oleh presdir Remaco Eugene Timothy (Yujin) posisi drumer diganti Nomo Koeswoyo dan band berubah nama menjadi Koes Bersaudara 77, Murry lalu menunjukan taringnya  membentuk Murrys Group.

Ia tidak asal comot pemain baru. Sadar nama besarnya di blantika musik pop memiliki nilai tawar tinggi. Sehingga musisi rock sekaliber Pius (guitaris) dan Uki (basist) dari band beraliran brass rock Yeah Yeah Boys (YYB) Surabaya, bersedia bergabung dengan Murry. Setelah meminang Bian Asegaf maka lahirlah Murrys Group.

Pius seorang guitaris merangkap organis, persis seperti posisi Tonny di Koes Plus. Ketika camera TVRI mengambil gambar wajah Pius dari samping ketika Murrys promo album Volume 2 pada lagu Selamat Tinggal  terlihat wajah Pius yang ganteng mengingatkan pemirsa kepada Tonny Koeswoyo.

Demikian pula sang pencabik bas Uki, dandanan dan style nya mirip Yok. Dia juga berperan dalam dubing vocal suara dua. Meski dalam album ketiga posisi  Bian akhirnya diganti Harry CH namun Formasi Murrys Group 1977 ini, paling fenomenal dan mengena dihati pecinta musik pop.

SOUND KOES PLUS & MURRYS GROUP.

Koes Plus dibawah pimpinan Tonny Koeswoyo  dan Murrys Group dengan leader Murry adalah 2 band dengan sound sangat berbeda. Koes cenderung sweet pop, Murrys kental nuansa pop rock. Murry memberi ruang Pius sang guitaris untuk meng explore kemampuannya. Termasuk membiarkan gitar Pius meraung - raung bak Ritchie Blackmore dari Deep Purple pada lagu berjudul Palapa dan Besi Tua sehingga musik Murrys Group terdengar galak dan jantan. Namun untuk urusan vocal duet Yon dan Yok dari Koes Plus  yang amat melegenda dan " pecah " itu terlalu perkasa untuk disaingi oleh duo Uki/Bian atau Uki/Harry. Bahkan duet sekaliber  Rinto/Charles (The Mercys), Doan/Asido (Panbers), Sam/Andre (Dlloyd) juga belum mampu menyaingi keindahan dan kedahsyatan duo  Yon dan Yok.

Di album volume 3 yang bertajuk Anak Cucu, lagi - lagi Murry menunjukan kedigdayaannya. Band ini berhasil menyapu bersih pasar kaset. Di album ketiga duet Uky dan Harry semakin padu dan tertata rapi. Seiring dengan itu lagu ciptaannya berjudul Mama serta Suka dan Duka dinyanyikan Edie Silitonga, meledak, meletus dan melejit di pasar kaset bahkan lagu Mama jadi sound track film dengan judul yang sama yang dibintangi Edie Silitonga.

Meski Majalah musik berpengaruh yakni Aktuil yang terbit di Bandung saat menyambut kehadiran Murrys Group menurunkan tulisan berjudul " Murrys Group dan Koes Plus Bersaing Dalam Satu Type " tapi penulis berpendapat, musik Murrys jauh lebih bengis, garang dan kental dengan nuansa hard rock dibanding kompetitornya Koes Bersaudara 77.

Atas pencapaian - pencapaian yang dahsyat itu, drumer ini layak memperoleh gelar sebagai " Kaisar Drum Republik Indonesia "

Saking tenarnya nama Murry, Nomo Koeswoyo Direktur perusahaan rekaman Yukawi insting bisnisnya bermain. Ketika ia menghidupkan band lama  Murry Patas Group sebelum Murry gabung dengan Koes Plus. Patas Group dengan formasi menyisakan  Wempy, Maxi dan Edmond. Ketika Patas rekaman album volume 1 di Yukawi untuk mengisi Side B album No Koes, Nomo selaku producer, dalam sampul kaset memperkenalkan  judul album " Patas Tanpa Murry ". Nomo Keswoyo adalah adik Tonny Koeswoyo. Nomo mantan drumer Koes Bersaudara 1962. Pada 1973  ia membentuk band No Koes untuk menyaingi ketenaran Koes Plus. Selain sebagai leader No Koes, Nomo merangkap sebagai  producer pelaksana  perusahaan rekaman Yukawi. Ia dikenal sebagai producer penuh sensasi dan ahli strategi promosi. Dengan menuliskan kalimat " Patas Tanpa Murry "  Ini artinya, Nomo ingin mencuri rasa penasaran pecinta musik pop terhadap band Patas yang disponsorinya. Pencantuman nama  Murry karena ia sosok penting dan sangat berpengaruh di blantika musik pop Indonesia.

BAND PELESTARI ALIRAN KOES PLUS.

Koes Plus seiring perjalanan waktu, sudah menjadi aliran musik. Saat ini ratusan band Indonesia memainkan lagu - lagu Koes Plus. Mereka berusaha tampil dalam vocal dan musik mirip Koes Plus. Yang terkenal 3 band yakni  B Plus, T. Koes (Tonny Koeswoyo Band) dan  B.Flat. Adapun ang unik dari T. Koes  Band karena penampilan costum nya  mirip habis dengan dandanan Koes Plus era 70 an yang top dengan celana cut bray. T.Koes  tampak keren dan sangat nostalgic. Adapun nama group pelestari lainnya yang bisa disebut antara lain :  The Hit (Bekasi), Hazz Plus (Bekasi),  Koes Pales (Semarang),  Scudeto (Cimahi), Ortu Plus (Surabaya), Awwal Roma band (Surabaya) serta masih ada ratusan nama band pelestari lainnya yang melestarikan mega karya Koes Plus. Para pemain drum pada group  band pelestari  memang memiliki konsekuensi paling berat. Jika pukulan drum telat atau melenceng tidak sesuai pukulan pada lagu aslinya, maka dengan mudah akan terbaca kelemahannya. Gebukan drum Murry memang memiliki pengaruh sangat  kuat dan luar biasa  ditataran band pelestari.*

(Penulis adalah fans fanatic Koes Plus sejak 1969).

KOMENTAR DISQUS :

Top