Indonesia English
Sabtu, 17 November 2018 |
Advetorial

MUSIK BAHASA UNIVERSAL LAGU SEMI JAWA VIA VALEN TENAR DITATAR PASUNDAN

Selasa, 28 Agustus 2018 19:18:25 wib - Komentar
Via Valen.

Oleh Seno Supono

SORE  ini saya sedang duduk diberanda rumah ditanah kelahiran isteri saya, Kuningan. Kota kecil dikaki Gunung Ciremai. Gunung berapi yang meletus terakhir tahun 1951. Setelah itu Ciremai tertidur pulas hingga sore ini. Ia terlihat anggun dengan tata warna biru kecoklatan sepanjang mata memandang.

Bulan Agustus merupakan bulan istimewa dan kebanggaan bagi seluruh anak bangsa. Berbagai festival digelar untuk memperingati kemeriahan  73 tahun Kemerdekaan negeri yang amat kita cintai ini. Dari pengeras suara jelas terdengar ada pertandingan sepakbola antar RT. Usai komentator mengumumkan nama - nama kesebelasan yang akan berlaga di lapangan hijau, terdengar lagu : Sayang opo kowe krungu jerite atiku dinyanyikan Via Valen penyanyi asal Surabaya yang sebenarnya suaranya tak seberapa merdu dan semi - semi sengau gitu.

Jujur saja saya lebih menyukai suara Ayu Ting Ting yang jernih tanpa noise. Tapi dahsyatnya lagu Sayang Via Valen mampu menembus sekat etnis dan budaya. Muda - mudi di Tatar Pasundan juga menyukai lagu Sayang dengan iringan dangdut semi koplo semi ngomel,  ngedumel atau istilahnya nge rap. Meski para muda - mudi di Tanah Parahyangan tsb tidak paham arti lyrik dari lagu Sayang, namun  Itulah hebatnya musik mampu menembus ruang dan waktu, menembus sekat budaya dan menyatukan berbagai perbedaan primordial karena musik adalah bahasa universal.

Kondisi ini pernah terjadi di tahun 1969. Penyanyi bersuara merdu dari Bandung Tety Kristanti Kadi ketika merilis album Pop Sunda. 2 lagunya berjudul Tengteuingeun dan Lengiteun tenar nian  di Tanah Jawa. Lyriknya antara lain

Tengteuingeun kunaon ngantunkeun abdi/ Tengteuingeun naon kalepatan diri/ Unggal dinten henteu weleh ngantosan/Mugi sing enggal mulih deui.

Atau pada lagu Lengiteun dengan baris kata antara lain :

Kamana panutan abdi nu sok tiasa sumping/ Kamana panutan rasa nu sok leukeun ngariksa/Tara - tara ti sasari abdi ngaraos sepi/Teu aya keur pakumaha/ Keur batur suka - suka. Dikota saya Salatiga 2 lagu ber teks bahasa Sunda ciptaan musisi Mus K.Wirya yang tenar dengan hits Sampai Menutup Mata yang dinyanyikan penyanyi berwajah indo Tanti Yosepha. Sungguh mati kami di Jateng  menyukai lagu itu namun tak mengerti apa sesungguhnya arti lagu tsb. Saya baru paham isi lagu itu kira - kira 14 tahun kemudian setelah saya menimba ilmu di Akademi Administrasi Negara di Bandung karena 90 persen teman kuliah asli putra Jabar sisanya yang 10% teman dari Sumut, NTT dan Jawa.

Almarhum ibu saya ngefans berat dengan Tety Kadi dan menyukai benar lagu itu meski tidak memahami artinya. Ibu berusaha untuk menirukan ucapan Tety Kadi tapi malah terdengar lucu. Karena lidah Sunda yang halus dan lidah Jawa dengan tekstur  tebal selalu tidak bisa nyambung dalam irama yang nyaman.

Kini lagu  Tengteuingeun dan Leungiteun muncul  di VCD Karaoke dibawakan penyanyi aslinya. Ketika lagu itu terdengar, perasaan saya seperti teraduk - aduk karena teringat sosok ibu yang telah lama tiada dan meninggalkan bagitu banyak kenangan dan nasehat yang semula sulit saya pahami pada akhirnya benar adanya. Ibu semoga engkau damai dalam keabadian di Rumah Tuhan.

Isteri saya berkisah pada 1974 ketika ia masih dibangku SMP dikampung halamannya dikota Kuningan, Jawa Barat lagu dari album Pop Jawa Koes Plus berjudul Tul Jaenak begitu populer di Jawa Barat. Isteri saya tidak paham apa arti lagu Tul Jaenak namun dia menyukai lagu itu sampai kini.

Lyrik lagu Tul Jaenak antara lain :

Gulo jowo rasane legi/Kripik mlinjo dipangan asu/Arep mulyo kudu mersudi/Buto ijo ojo digugu.

Dia juga kisahkan tidak hanya lagu Tul Jaenak yang populer di Tanah Pasundan tapi juga lagu berbahasa Jawa berjudul Walang Kekek yang dibawakan penyanyi langgam dari kota Solo, Waljinah juga sangat terkenal di Jawa Barat. Musik memang mampu mengatasi perbedaan dan menumbuhkan spirit hidup. Bahkan Tonny Koeswoyo pimpinan group legendaris Kus Bersaudara dan Koes Plus dalam lyrik lagunya berjudul Tanpa Sisa di album Koes Plus 78 menuliskan " Kita tak kan pernah tua karena musik dan jiwa tekah jadi satu ". *

KOMENTAR DISQUS :

Top