Indonesia English
Kamis, 21 Maret 2019 |
Nasional - Ekonomi dan Bisnis

Pemprov Banten Belum Hitung Kerugian Gagal Panen Akibat Kekeringan

Senin, 10 Agustus 2015 17:22:13 wib - Komentar
Ilustrasi gagal panen akibat kemarau.

Serang,(Banten88.com): Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Provinsi Banten belum mempunyai data yang akurat tentang kerugian petani di Banten  yang  mengalami gagal panen (puso) akibat kekeringan. Padahal,saat ini sawah petani yang mengalami kekeringan di Banten sudah 226 hektar dari 11.335 hektar sawah yang telah  mengalami kekeringan.

"Kita belum bisa mengeluarkan data resmi tentang kerugian yang di alami petani akibat puso,data yang ada saat ini baru prediksi," kata Sobirin Kabid produksi tanaman pangan pada Distanak Banten,Senin (10/8)

Hingga saat ini,kata Sobirin,data akurat tentang kerugian petani akibat kekeringan belum di terima dari Kabupaten/Kota,padahal, Distanak Banten sudah menyurati Dinas Pertanian Kabupaten/Kota untuk melaporkan perhitungan kerugian akibat kekeringan.

"Surat sudah kita kirimkan ke Kabupaten/Kota untuk meminta perhitungan kerugian petani akibat kekeringan, tapi hingga saat ini belum ada yang ngirim,"ungkapnya.

Sobirin mengatakan, lahan pertanian yang mengalami kekeringan terparah justru terjadi di Kabupaten Lebak seluas 2.923 hektare, disusul Kabupaten Pandeglang 2.689 hektare, Kabupaten Serang 2.201 hektare, Kota Serang 325 hektare, Kabupaten Tangerang 146 hektare, dan Kota Cilegon 27 hektare.

“Meskipun tingkat kekeringan tertinggi di Kabupaten Lebak, tapi lahan pertanian yang sudah mengalami gagal panen justru terjadi di Pandeglang sekitar sepuluh hektare,data ini juga kemungkinan masih bertambah mengingat musim kemarau masih berlanjut,” katanya.

Untuk mengantisipasi dampak kekeringan yang lebih luas, pihaknya langsung melakukan koordinasi secara intens dengan pemerintah kabupaten/kota. Sebab, meskipun setiap daerah mengalami kekeringan yang sama, tetapi membutuhkan penanganan yang berbeda.

“Secara taktis, kami akan segera mendistribusikan bantuan berupa pompa elektrik. Sebab, ada daerah-daerah tertentu yang tidak bisa dilakukan penanganan secara cepat lantaran tidak ada sumber air,” ujar Sobirin.(Tonga).

KOMENTAR DISQUS :

Top