Indonesia English
Rabu, 06 Juli 2022 |
Kesehatan

PENGALAMAN PILU SEORANG JURNALIS JADI PASIEN CUCI DARAH

Kamis, 09 Juni 2022 22:19:26 wib - Komentar
Teks foto : Mesin Cuci Darah (Dializer)


Kuningan (Banten88.com) :  SAYA (62) profesi seorang Jurnalis yang bertugas di Jakarta. Saya sudah jalan 3 tahun menjadi pasien Cuci Darah (Hemodialisa).  Begitu banyak peristiwa pilu yang saya alami ketika mengalami gagal Ginjal.

Awalnya tahun 2006 saya sakit gula type 2 (gula kering). Namun saya tetap bekerja seperti biasa.  Menjadi Redaktur disalah satu media di Jakarta dengan ritme kerja masuk kantor pukul 17.00 dan pulang jam 01 dinihari.  
Tahun 2006 saya terkena Diabetes type 2 (kering).  2010 saya diminta oleh salah seorang Cagub Banten Dwi Jatmiko yang berpasangan dengan Tjetjep Muliadinata
menjadi Staf Khusus bidang Media.
Tugas saya antara lain membuat press release, mengatur waktu pers conference, mendampingi cagub wawancara dengan  stasiun telvisi dan kegiatan lain yang ada kaitan dan kepentingan dengan media.
Meski saya sudah kena penyakit gula kering, semua tugas saya lakukan dengan penuh tanggung jawab dan tepat waktu.
Karena saya tetap menjaga kesehatan dengan makan secukupnya dan mengkonsumsi susu Diabetasol secara rutin.  Saya hanya merasa kekuatan saya berkurang 10% saja.
MALAPETAKA TIBA
Ketika menengok cucu dikota Kuningan Jabar, saya muntah. Mula-mula sehari sekali lama-lama sehari 10 kali.  Saya lalu mendatangi dokter pakar penyakit dalam yakni dokter Andreas Sigit Ladrang. Ia meminta saya periksa ginjal di lab rumah sakit.
Setelah membaca hasil orium dan creatin ginjal, dokter Sigit menegaskan bahwa ginjal saya rusak dan harus cuci darah.
CUCI DARAH
2 kata horor " Cuci Darah " serasa mencekam dan menakutkan.  Mental saya belum siap untuk cuci darah. Akhirnya saya mengobati ginjal dengan herbal selama hampir 1 bulan, namun itu tidak membawa kesembuhan sama sekali.
Lalu saya mengalami hal-hal tidak biasa.
Mula-mula ingin sekali menyantap daging Entog (Mentok, Jawa) dimasak bacem. Setelah disajikan dimeja makan, ternyata lidah saya menolak keras. Saya lalu menyimpulkan penyakit yang saya derita bukan penyakit biasa.
Muntah terus berlangsung puluhan kali sehari. Malam tak bisa tidur dan semangat makan semakin menurun.
Saya sudah nyaris putus asa. Lalu saya nyerah dan sowan ke dokter Sigit minta dicuci darah.
" Cuci darah adalah upaya untuk memperpanjang nyawa pasien," ungkap dokter Sigit kepada saya kala saya sudah nyerah.
MASALAH BARU
Dulu berat saya 85 kg, meski kena Gula Kering saya tampak sehat dan jalan tetap tegap.
Saya jurnalis yang hobi touring dengan sepeda motor.
Jarak Bekasi-Kuningan saya tempuh 4 jam lewat jalur tengah (Cikamurang).
Meski sudah kena gula, saya pernah test kekuatan hampir 14 jam diatas motor ketika touring dari Kuningan, Bandung, Bogor, Tangerang, Jakarta dan Bekasi.
KURSI RODA
Tapi awal cuci darah, saya harus ditandu kursi roda karena sekujur badan lemas.
Pulang cuci darah sekitar 5 jam, tulang belakang serasa remuk dan muntah yang tak bisa saya kendalikan serta pusing yang tiada terperi.
Setelah itu ingin tidur. Bangun tidur badan lemas sepanjang hari. Ini mungkin dibarengi semangat makan buruk.
Sebelum sakit hobi saya makan nasi padang, sop ayam, tahu tempe bacem dan sate ayam. Setelah sakit semua makanan itu terasa tidak nikmat.
Namun seiring waktu tahun pertama cuci darah semangat makan semakin baik.
Saya bisa habiskan 5 butir telor pindang setiap hari. Sudah cuci darah pun, saya masih sanggup touring Kuningan-Bandung PP dengan sepeda motor.
TAHUN KEDUA
Ditahun ke 2 seiring waktu, semangat makan saya mulai normal.
Saat HD bekal saya banyak sekali terdiri menu makan siang komplit plus daging dan telor pindang.
Ditambah kue dan camilan. Kadang-kadang saya membawa rujak buat penyegar.
Namun ketika sedang merasakan nikmatnya semangat makan, tiba-tiba datang wabah Corona Delta gelombang 2 yang mematikan.
Pihak rumah sakit guna memutus mata rantai Corona, tidak memperbolehkan pasien makan saat darah dicuci.
Buat saya ini pukulan telak. Wong saat sehat saja tidak makan selama 5 jam serasa badan tidak nyaman. Lha ini sudah sakit ndak boleh makan pula.
Saya akhirnya menyiasati dengan memaksa makan kenyang sebelum cuci darah.
DERITA
Selama 5 jam cuci darah, saya mengalami beberapa penderitaan.
Antara lain karena saya pasien minum terlampau  banyak, sehingga air dalam tubuh bisa ditarik mesin dializer 5000 mili, dampaknya badan bisa tidak kuat dan tulang belakang serasa remuk. Akibatnya pasien sepertii saya nyaris tidak kuat.
Penderitaan itu kadang masih ditambah kaki kram.
Kadang-kadang pasien yang punya penyakit gula seperti saya, saat cuci darah tiba-tiba pusing yang amat sangat dan lemas akibat Gula Darah Sewaktu (GDS) turun.
Suster dengan sigap memberi air minum teh manis agar GDS naik.
Atau suster menyuntikan obat ke mesin, seperti dilakukan suster Aurele Myrna Luciana ketika saya drop.
Setelah disuntik, badan saya kembali segar.
Saya terus berjuang agar air dalam tubuh saya tidak berlebihan atau maksimal diangka 3000.
Bahkan kini, saya sudah bisa mengurangi air minum dan tidak mengkonsumsi sayur berkuah sehingga air yang ditarik dari dalam tubuh sudah dikisaran angka 2000.
Tapi soal semangat makan memang grafiknya turun naik. Jika selera makan buruk akan berdampak ke kadar Hemoglobin darah.
Tahun ketiga ini semangat makan kembali buruk. Porsi nasi sepiring, kadang bisa saya habiskan sampai 1,5 jam.
PINGSAN
Ketika semangat makan buruk tiba, saya pernah hanya makan kacang ijo kotak dan coklat. Sepulang dari cuci darah lalu makan malam. Tiba-tiba  saya merasa sangat ngantuk.
Saya seperti diayun-ayun dengan suasana sangat damai. Saya ikuti terus ayunan itu serasa tenang dan senyap.
Ternyata saya sudah pingsan lebih 1 jam dan ketika sadar sudah diruang IGD, GDS saya hanya diangka 40.
MELAWAN OGAH MAKAN
Karena tak ingin pingsan kedua kali, saya kini harus memaksa makan banyak dan ngemil.
Meski semangat makan buruk sering datang, kini terus saya lawan.
Perut tidak boleh kosong. Karena perut kosong bisa memicu turunnya GDS yang menyebabkan pingsan.
MEMANAGE BADAN
Orang hemodialisa seperti saya jika tidak legowo menerima kenyataan bisa stress.
Ini penyakit seperti membatasi ruang gerak pasien dan tidak bisa jauh dari rumah sakit. Setiap 4 hari sekali ke rumah sakit untuk Cuci darah.
Kerumah sakit lagi rumah sakit lagi, itu bisa membosankan dan memicu stres.
KENDALA JAUH BERKURANG
Cuci darah  yang saya lakukan saat ini sudah Jalan tahun ketiga.
Kendala-kendala yang saya alami sudah jauh berkurang.
Saya pulang-pergi cuci darah berangkat sendiri pakai motor. Naik keruang Hemodialisa kuat jalan kaki tanpa kursi roda. Usai cuci darah langsung berdiri dan pulang dan tak pernah lagi kepala terasa pusing.
Saya sudah bisa memanage badan. Tekanan darah saya minimal harus diangka 140/80. Sedangkan GDS saya karena sudah sakit gula dikisaran 200 maksimal.
HB saya diangka 10,9.
Masih menurut Suster Myrna pasien hemodialisa yang HB nya bisa mencapai 10 itu sudah bagus.
Kini saya hanya pasrah dan legowo menghadapi cobaan ini. Mungkin ini yang membuat saya bisa bertahan hingga sekarang.
Kini kondisi saya lumayan stabil dan tak  pernah lagi drop.
Saya manage makan dengan makanan bergizi, hindari buah-buahan karena itu
mengandung kalium yang dilarang dikonsumsi oleh penderita gagal ginjal, serta mengurangi minum. Tidak mengkonsumsi sayur berkuah atau istilahnya makan kering. (SS)

KOMENTAR DISQUS :

Top