Indonesia English
Sabtu, 20 April 2019 |
Peristiwa

Politik Dagang Dinasti Koeswoyo

Senin, 16 Oktober 2017 16:54:35 wib - Komentar
Pose personel Koes Plus dalam foto sampul album volume 6 yang melegenda. Dari kiri kekanan : Tonny Koeswoyo, Murry, Yon Koeswoyo dan Yok Koeswoyo

Jakarta, (Banten88.com): Dinasti Koeswoyo merupakan clan yang sangat berpengaruh di jagat musik pop pada dekade 70-an. Kala itu dikeluarga besar Koeswoyo para raja dan ratu piringan hitam dan kaset bertengger. Sebut saja Koes Plus, No Koes, lalu Bloon Group band asuhan mas Yok Koeswoyo, Chicha Koeswoyo, Sari Yok Koeswoyo dan Ninoek Koeswoyo.

Bahkan hingga kini belum ada penyanyi cilik yang pemasaran kasetnya sedahsyat Chicha dan Sari, aksi panggungnya se-komunikatif se-atraktif  Chicha dan Sari serta pencapaian oktafnya setinggi Chicha dan Sari.

Soal teknik publikasi, dinasti Koeswoyo banyak nian ide-ide kreatif dan cerdas. Kalau boleh meminjam istilah dari Majalah Aktuil, yakni majalah musik yang amat berwibawa dan disegani yang terbit di Bandung, "Benggolan" No Koes mas Nomo Koeswoyo pasca mendirikan No Koes lalu mengadakan pers conference memperkenalkan band yang baru ia dirikan.

Mas Nomo punya taktik cerdas dengan menyuruh seluruh personel No Koes yakni  kang  Pompy, mas Bambang Karsono, mas Usman, mas Said dan mas Sofyan untuk sembunyi dari wartawan. Maksudnya agar wartawan penasaran lalu mencari-cari serta menduga-duga siapa saja personel No Koes. Rasa penasaran wartawan inilah yang diinginkan mas Nomo, dengan demikian berita tentang siapa No Koes? akan selalu menghiasi koran dan majalah musik di Indonesia.

Rasa penasaran para penggemar musik juga semakin menggebu-gebu ketika album No Koes Volume 1 dengan hits "Sok Tahu"  beredar di sampul album tersebut hanya bergambar tanda silang merah seperti huruf X tanpa foto personel No Koes. Namun yang lebih serampangan dan mungkin  terkesan agak kurang ajar adalah para pelaku kaset bajakan.

Disampul album No Koes versi bajakan pada gambar tanda silang X ditambah foto mas Tonny Koeswoyo. Dengan demikian para penggemar Koes Plus dan No Koes mulai menduga-duga bahwa lagu Sok Tahu adalah sindiran mas Nomo kepada mas Tonny, dan suasana kala itu memang sungguh panas. Perseteruan antara No Koes dan Koes Plus atau dalam tanda  kutip perseteruan antara mas Nomo dan Mas Tonny setiap saat digoreng oleh surat kabar dan majalah, pembaca selalu menanti-nanti berita perseteruan 2 band besar tersebut.

Harus diakui berita perselisihan mas Nom vs mas Ton sangat dinanti-nanti pembaca, ini artinya trick publikasi Dinasti Koeswoyo telah memperoleh dampak yang signifikan karena memiliki efect terhadap popularitas yang terus menjulang. Berita  perselisihan itu terus bergulir sejak 1973 No Koes Berdiri hingga dasawarsa 80-an. Dampak dari berita perselisihan antara mas Nom dan mas Ton, yang terekam didalam pikiran pecinta musik pop adalah mas Nom dan mas Ton adalah musuh bebuyutan meski bersaudara.

Tentu yang berkembang di masyarakat kisah perselisihan ini semakin memanas setelah diaduk-aduk ditambah opini masing-masing, sehingga berdampak pada perseteruan dalam tanda kutip antara penggemar Koes Plus yang berhadap-hadapan dengan fans No Koes.

Lalu apa yang terjadi sesungguhnya didalam keluarga Koeswoyo sendiri?. Pada 1980, kala itu penulis belum tamat SMA namun sudah jadi juru warta koran harian di Jakarta. Penulis baru menamatkan SMA lalu dilanjutkan kuliah  Bandung  lulus pada 1986, tahun 1980 itu ada penilaian jika para wartawan muda belum mampu wawancara dengan benggolan Koes Plus mas Tonny Koeswoyo, dikategorikan  "ndeso" dan tidak punya nyali.

Penulis dengan menaiki Metromini dari Terminal Blok M ke Pondok Indah melewati Jalan Haji Nawi Raya. Kala itu ketika Koes Plus tenar, nama jalan H. Nawi tak kalah populernya dengan Jalan Thamrin atau Jalan Sudirman yang membelah kota Jakarta. Di Jalan H. Nawi no.72 itu markas Koes bertengger. Karena disitu rumah mas Ton, mas Yon dan mas Yok berdiri dalam satu komplek diatas tanah sekitar 1000 meter.

Didepan rumah mas Ton ada halaman, dari depan rumah mas Ton terlihat rumah mas Yon dan rumah mas Yok yang berhadap-hadapan. Ketika saya mengunjungi rumah mas Tonny saya ingat, dihalaman depan ada kursi rotan besar dan tinggi. Ditengah komplek ada pohon rindang. Mas Ton kala itu sedang sarapan bersama mbak Karen Julie. Kenangan saya yang mendalam tentang leader band besar, band terdahsyat dan band legendaris ini adalah sikapnya yang rendah hati dan ramah.

Mas Ton tidak membedakan profesi wartawan. Beliau sama hangatnya ketika menerima wartawan sekaliber mas Bens Leo atau ketika menerima saya seorang juru warta yg baru mengantongi surat tugas dan belum bisa memiliki Kartu Pers. Saat itu beredar album Koes Bersaudara dengan hits Glodok Plaza Biru.

Ketika saya mau meminjam foto untuk pemuatan berita. Mas Ton dengan spontan mengajak penulis kerumah mas Nomo untuk mengambil foto. Tahun 1980 itu juga beredar album Koes Plus Natal 80 dan album Koes Plus Aku dan Kekasihku direkam di label major Purnama Record setelah Koes Plus hengkang dari Remaco.

Mendengar ajakan Mas Ton, hati penulis setengah tidak percaya karena selama ini dan sudah melekat di hati public pecinta musik pop, antara mas Ton dan mas Nom terlibat perselisihan yang tajam. Sesampainya dirumah mas Nomo yang letaknya didepan komplek Koes dan hanya dipisahkan oleh jalan H. Nawi, kedua bersaudara itu berbincang dengan akrab sambil minum kopi dan makan risoles Dari peristiwa ini penulis menyimpulkan, komunikasi yang panas antara dedengkot Koes Plus dan benggolan No Koes, ini hanya terjadi di media.

Faktanya keduanya adalah kakak adik yang akur. Dari peristiwa ini pula bisa diambil kesimpulan bahwa keluarga Koeswoyo dengan cerdas dan cantik memanfaatkan power media untuk terus memompa popularitasnya.

PENYESALAN BELUM MEWAWANCARAI MAS TONNY. Wartawan muda angkatan 80-an jika belum pernah mewawancarai leader Koes Plus, rasanya belum lengkap dan berdampak pada penyesalan. Hal itu dialami mas Teguh O Wijaya Redaktur tabloid Chek and Rechek. Kepada penulis menyampaikan penyesalannya sehari setelah mas Tonny Koeswoyo wafat pada 27 Maret 1987.

"Sungguh saya menyesal belum sempat wawancara dengan mas Tonny, beliau telah  dipanggil oleh Tuhan Yang Maha Esa," tutur mas Teguh penuh sesal.

EBIET G ADE & KOES PLUS 80. Harus diakui, Koes Plus telah mematrikan kenangan mendalam bagi penggemarnya. Tahun 80 itu pula Koes Plus merilis album dahsyat dengan title AKU DAN KEKASIHKU. Dalam album ini banyak lagu hebat. Antara lain : Kelapa Hitam (Tonny Koeswoyo), Aku dan Kekasihku (Yok Koeswoyo), Malam Minggu (Murry), Semalam (Yon Koeswoyo) dan Berdiri Disini (Yon Koeswoyo). Saking yakinnya pihak label bahwa album Koes Plus bakal meledak, lalu mmemasang iklan di harian yg terbit sore seluas 1/2 halaman.

Seperti sering penulis kemukakan, soal produktifitas, kreatifitas dan ide tidak ada yang mampu mengalahkan Koes Plus. Lyrik lagu bertema perselingkuhan remaja kala pacaran, tema seperti itu baru ditulis band  seperti Sheila On 7 dan Ada Band  paruh 90 an hingga tahun 2000. Namun Koes Plus telah memulai pada 1980 dengan lagu Aku dan Kekasihku ciptaan mas Yok Koeswoyo dan dinyanyikan dengan melankolis namun tidak cengeng oleh mas Yon.

Inilah lyrik lagu AKU DAN KEKASIHKU - Aku dan kekasihku/Engkau tahu/Pergi bersama selalu/Engkau tahu/Orang mengatakanku ku merana/Karena kekasihku tak setia/Bila engkau lihat tentang kekasihku/Pergi dengan pria tanpa aku tahu/Jangan ceritakan kepadaku sayang/Karena engkau tahu aku sayang padanya/Mungkin kau mengatakan ku terlalu/Karena kau tak mengerti dihatiku/Biarkan  aku setia selalu/ Kutak mau pisah dengan kekasihku.

Koes Plus banyak meninggalkan kenangan mendalam bagi fans fanatiknya. Ketika album Aku dan Kekasihku yang dihiasi lagulagu dahsyat dirilis, singgasana atau kursi emas pasar kaset sudah tak lagi diduduki "marga" Koeswoyo tapi sudah direbut penyair yang menjadi penyanyi yakni Ebiet G Ade.

Pemasaran album Aku dan Kekasihku jadi tersendat. Hegomoni Ebiet makin mewabah. Era Koes sepertinya akan berganti. Namun situasi ini belum bisa diterima oleh fans fanatik Koes Plus. Dampaknya banyak fans fanatik Koes Plus tidak menyukai lagu Ebiet. Karena mendengarkan lagu Ebiet identik dengan menelan kenangan pahit  atas band pujaannya karena popularitas Koes telah digeser oleh Ebiet G Ade. Melawan Ebiet, Koes Plus  mengalami kekalahan di pasar kaset. (Seno Supono)

KOMENTAR DISQUS :

Top