Indonesia English
Rabu, 20 Maret 2019 |
Politik

Presiden Mahasiswa STIE Bina Bangsa Menolak Keras Adanya Peyelewengan Politik

Rabu, 01 Juni 2016 20:27:11 wib - Komentar

Serang,(Banten88.com): Presiden Mahasiswa STIE Bina Bangsa Syarifudin Saputra mengatakan, jika sudah sering lembaga pendidikan STIE Bina Bangsa ini menjadi  ladang politik bagi beberapa tokoh, dan terakhir terjadi pada Sabtu (28/05) kemarin. Dengan jelas-jelas terlihat bahwa lembaga mengizinkan bahkan mempromosikan salah satu bakal calon Gubernur Banten 2017, yakni Andika Hazrumy.

Padahal itu acara diadakan organinasi internal kampus, yang diperuntukan bagi mahasiswa semester akhir yang telah melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN), dengan mengadakan pameran hasil karya para kelompok KKN.

“Kami sangat menyayangkan, kamus ini dijadikan panggung politik dan ideologi mahasiswa digadaikan. Hal ini terbukti ketika tanggal 28 Mei kemarin, pada acara Bina Bangsa Festival, dibuka oleh Andika Hazrumy, yang sudah kita tahu semua kalau dia (Andika,red) merupakan salah satu bakal calon Gubernur. Dan parahnya lagi, Ketua STIE (Furtasan Ali Yusuf,red) saat memberikan sambutan, itu mempromosikan Andika, kepada para mahasiswa yang hadir pada pembukaan tersebut,” katanya.

Padahal lanjutnya, dalam UU nomor 8 pasal 86 poin 8 dan 9 tahun 2012 tentang Pemilihan Umum, menyebutkan, point (1) pelaksana, peserta, dan petugas kampanye pemilu dilarang :  H. menggunakan fasilitas pemerintahan, tempat ibadah, dan tempat pendidikan, I. membawa atau menggunakan tanda gambar dan/atau atribut selain tanda gambar dan/atau atribut peserta pemilu yang bersangkutan.

"Kami sudah gerah dengan kelakuan pihak lembaga, sebelumnya juga pernah dilakukan reses di dalam kampus, dan sekarang mempromosikan Andika. Makanya kami seluruh elemen KBM STIE Bina Bangsa menolak keras adanya peyelewengan politik yang dilakukan oleh oknum-oknum politisi untuk mendapatkan pencitraan yang bisa diperjual belikan," katanya.

Sebab kata Syarifudin, kampus STIE ini bukan panggung politik yang terbawa arus globalisasi politik praktis. Karena lembaga pendidikan sejatinya adalah tempat pengembangan ilmu pengetahuan, dan ilmu-ilmu lainnya yang selayaknya dikembangkan bukan untuk kepentingan politik  golongan tertentu.

"Maka dengan ini kami menyatakan sikap dan menuntut tolak politik di lingkungan kampus STIE Bina Bangsa, menolak keras segala bentuk kegiatan yang mengatas namakan politik di lingkungan kampus, netralkan kampus dari segala bentuk politik praktis, jangan racuni mahasiswa dengan bentuk pembodohan untuk kepentingan politik praktis, dan jangan berikan sedikit pun ruang untuk segala bentuk kegiatan yang 

mengandung unsur politik,” katanya, seraya menambahkan, mahasiswa akan aksi terus sebelum ada perjanjian dengan pihak lembaga supaya tidak mengulangi lagi. 

Dihubungi terpisah, Ketua Yayasan STIE Bina Bangsa, Furtasan Ali Yusuf mengaku belum mengetahui secara pasti atas aksi yang digelar oleh anak didiknya tersebut. Pasalnya, saat aksi berlangsung dirinya tidak berada di lingkungan kampus. Meski demikian ia membantah keras jika dirinya serta pihak kampus melakukan politisasi Kampus dengan kehadiran Andika dalam agenda Festival Bina Bangsa beberapa waktu lalu.

“Saat ini saya tidak ada di kampus. Jadi ga tahu persis seperti apa. Kalau ada aksi biasanya saya dapat laporan. Artinya ini ga jelas, Kalau terkait dengan kehadiran Pak Andika, itu kan sebagai anggota DPR RI dan Ketua Karang Taruna Banten kebetulan dalam acara itu kan kita kemukakan hasil karya anak muda dari Bina Bangsa, dan Pak Andika saya rasa dapat mendorong memajukan hasil-hasil kreativitas itu, misalnya mendorong ekonomi kreativ pengrajin sablon, beliau kan bisa memfasilitasinya,” katanya.

Terkait adanya atribut Andika yang bertebaran di area Kampus, Furtasan benar-benar tidak mengerti. Karena dirinya hanya mengetahui jika Andika tidak membawa atribut di dalam kampus. Bahkan dirinya mencurigai aksi penyebaran atribut tersebut berasal dari lawan politik bakal calon Gubernur itu.  

“Demi Allah saya tidak tahu soal yang membawa atribut, atributnya seperti apa saya juga ga ngerti, saya ga ngerti apa-apa. justru saya curiga, barang kali dugaan aja ini dari lawan politik, karena sekarang sedang lagi hangat-hangatnya isu Pilkada,” terang Furtasan, yang saat ini menjabat Ketua Komisi II DPRD Kota Serang. 

Politisi Partai Hanura ini menjamin selama dirinya berada di dalam Kampus, dirinya tidak pernah membawa-bawa sesuatu hal yang berbau politik. Meski dirinya merupakan orang Politik. “Saya ga pernah bawa-bawa politik ke kampus, meski saya orang politik. Saya tidak terima, karena yang beraksi itu kan didikan saya juga. Itu kan anak-anak kita juga, jangan sampai dimanfaatkan oleh lawan-lawan Politik (Andika, red) yang masuk ke dalam kampus. Kan jadi masalah, kalau mau demo ya diluar sana, saat ini tim akademik saya mengecek seperti apa aksi itu,” katanya

Sementara itu, Sekretaris DPD Partai Golkar Banten Bahrul Ulum menanggapi aksi unjukrasa yang dilakukan mahasiswa Bina Bangsa yang membakar atribut salah satu bakal calon Andika Hazrumy, mengatakan bahwa Andika ke sana karena atas undangan.

"Andika ke sana untuk memenuhi undangan. Perihal bagi-bagi setahu saya Aa (sapaan akrab Andika) tidak pernah melakukan itu," kata Ulum saat ditemui usai mengahadiri acara dialog di Hotel Le Dian, kemarin.

Ditegaskan Ulum bahwa acara bagi-bagi atribut tidak pernah dilakukan oleh anggota DPR RI dari dapil Banten tersebut. "Tidak pernah. kalaupun ada bagi-bagi mungkin itu dilakukan oleh oknum. tapi kalau lebih jelas lagi kalian tanya saja ke pihak kampus,” tegasnya.(YAN).

KOMENTAR DISQUS :

Top