Indonesia English
Senin, 23 April 2018 |
Seputar Banten

Rivo Arlianto : Kopi Pahit Giling Diyakini Turunkan Kadar Gula & Kolesterol

Kamis, 05 April 2018 15:12:55 wib - Komentar
Rivo Arlianto sedang meroasting kopi untuk penyajian F.60 yang diolah dengan media kertas kopi dan cangkir spesifik guna memperoleh aroma yang lebih signifikan.

Tangerang, (Banten88.com): NGOPI atau "nyruput  kopi" giling bukan kopi instant, kini sudah menjadi trend dikalangan anak muda. Jika kopi instant yang dalam bungkus harganya hanya Rp.1000,-  tapi kopi yang diolah langsung dari bijinya jika disajikan harganya bisa mencapai Rp.40.000,- hingga Rp.50.000,- per gelas bahkan bisa lebih tinggi. Paling murah Rp. 15.000, - per gelas.

Adalah Rivo Arlianto, anak muda yang dibantu isterinya Kiki Indrawati  menggeluti secara profesional bisnis kopi giling yang sudah berjalan 2 tahun. Rivo dan Kiki memiliki gerai dikawasan Curug, Kabupaten Tangerang. Rivo yang alumni Sekolah penerbang terkemuka dan isterinya sarjana Kesehatan Masyarakat, bahu membahu menggeluti bisnis yang kini sedang menjadi trend setter ini dengan membuka cafe dinamai Beside Coffe dikawasan Curug, Kabupaten Tangerang.

"Mula - mula saya awam dan kurang minat terhadap bisnis kopi. Berhubung secara intensif dikenalkan teman, lama kelamaan tumbuh rasa cinta terhadap kopi," kisah Rivo yang didampingi Kiki.

Lebih lanjut, Rivo berkisah "Seseorang yang terlanjur cinta kopi, persoalan laba bisnis tidak lagi menjadi target utama," terangnya sambil menyajikan kopi pahit F.60 kepada Banten.88 com yang diyakini bisa menurunkan gula darah dan kolesterol.

Proses adonan F.60 istimewanya karena menggunakan kertas kopi dan cangkir spesifik sehingga menghasilkan aroma yang lebih signifikam. Selain F.60, Kiki Indrawati juga menyajikan Vietnam Drip yakni kopi robusta yang pahit dipadu dengan susu kental manis dengan penyajiannya cukup antiq lengkap dengan saringannya. Dilidah terasa pas karena perpaduan manis dan pahit menyatu.

Anak-anak muda praktisi kopi seperti Rivo ini sedang getol berupaya mengalihkan konsumen kopi instan ke kopi giling. "Kalau kopi instan dalam keadaan terbuka, aromanya tidak berubah. Tapi biji kopi seperti Robusta dan Arabica harus disimpan tertutup rapat agar aromanya tetap terjaga,"  tuturnya.

Roasting atau proses pencampuran kopi adalah pekerjaan seni dan bukan asal campur. Jika gagal, akan banyak kopi hasil roastingan yang terbuang, ungkapnya. Konsumen kopi "mengambang" atau menyukai kopi karena trend, akan digaet agar mereka benar-benar menyukai kopi. Atau istilahnya pemilik mulut yang hobi minum kopi "saset" an akan kami alihkan ke kopi giling yang rasa dan aromanya jauh lebih dahsyat dibanding kopi instant, bebernya.

Berbagai trick dilakukan Rivo agar konsumen kopi saset berpindah ke kopi giling. Caranya selama 6 bulan ia menggratiskan konsumen minum kopi giling di gerainya. 6 bulan berikutnya konsumen boleh membayar suka hati dan menaruh uangnya dalam kotak yang telah disediakan. Setelahnya konsumen membayar sesuai tarif. Namun tarif di gerai Rivo cukup "berteman". Jika gerai lainnya di Jabodetabek memasang tarif untuk minuman seperti Capucino, Vietnam Dip, Espresso dan Kopi Tubruk dikisaran Rp.40.000,- hingga Rp.50.000,- , tapi digerainya, hanya mematok harga dikisaran Rp.15.000,-. Hal ini dikarenakan tempat sudah tersedia. 

Para praktisi kopi di Tangerang  terkumpul dalam group yang dinamai "Cangkir Jalanan" sebagai ajang pertemuan "penggila kopi" dan pada event tertentu berbagai lomba terkait eksistensi kopi giling dilangsungkan. "cangkir Jalanan" memiliki group whats app dengan anggota 200 orang.

Seperti diketahui Ketua Sekolah Penerbangan  Indonesia (STPI) Novianto Widadi juga penggemar kopi giling dan ia pada suatu kesempatan pernah ngopi di gerai Beside Coffee milik pasangan Rivo Arlianto dan Kiki Indrawati. (SS)

KOMENTAR DISQUS :

Top