Indonesia English
Senin, 17 Desember 2018 |
Hukum dan Kriminal

Saksi Eko: Distributor Beri Discount Harga Genset RSUD Banten

Rabu, 05 Desember 2018 22:42:21 wib - Komentar
foto : (Banten88)

Serang, (Banten88.com): Ada yang menarik dalam sidang dugaan tindak pidana korupsi pengadaan genset sebesar Rp 2,2 miliar di RSUD Banten. Dalam sidang lanjutan dengan terdakwa Plt Direktur RSUD Banten drg Sigit Wardojo, staf Adit Hirda dan Endi Suhendi sebagai pemenang lelang, kali ini Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejati Banten menghadirkan saksi Eko Saputro sebagai distributor genset dari PT. Multi Sukses.

Seperti biasa sidang lanjutan pengadaan genset Tahun 2015, dipimpin hakim ketua Epiyanto dan dua hakim anggota berlangsung di ruang sidang utama PN Serang, Rabu (5/12/2018).

Dihadapan majlis hakim, dalam kesaksiannya, Eko Saputro menyampaikan bahwa penjualan genset kepada CV. Mega Tekhnik perusahaan milik Endi Suhendi selaku pemenang lelang sudah sesuai mekanisme. Dukungan yang diberikan maupun barang yang dibeli oleh Cv. Megah Tekhnik sudah sesuai dengan ketentuan seperti yang tertuang dalam spek yang diinginkan pihak RSUD. "Genset merek perkins 500 KVA sudah sesuai dengan spesipikasi seperti yang tertuang dalam kontrak. Ini spek yang terbaik dan sudah di uji coba baik pada saat berada di workshop kami maupun pada saat sudah terpasang di RSUD Banten," tutur Eko.

Lebih lanjut Eko menyampaikan, pada tahun 2015 jabatannya di PT. Multi Sukses sebagai marketing, pada saat proses lelang, benar perusahannya memberikan dukungan kepada perusahaan milik Endi. Surat dukungan tersebut sudah wajar diberikan kepada perusahaan penyedia barang yang akan mengikuti lelang. "Perusahaan kami sebagai distributor, mengenai surat  dukungan yang diberikan tidak menyalahi aturan, dan dibolehkan karena perusahaan kami sebagai distributor," urainya.

Dikatakan Eko, selain pengadaan genset dalam bentuk satuan, didalam kontrak disebutkan juga instalasi yang terdiri dari kabel, panel, cusioning yang menjadi satu kesatuan tapi  dalam item terpisah. Sehingga baik dalam pengujiannya maupun pemasangannya dibutuhkan tenaga ahli.

"Termasuk ahli sudah kita siapkan. Memang dalam kontraknya seperti itu yg saya liat, dan kita siapkan semua kebutuhan sesuai dengan spek, tidak ada sedikitpun yang dikurang," imbuhnya

Mengenai harga genset merek perkins di pasaran sambung Eko, pada tahun 2015, mengikuti pluktuasi dollar, dan ditahun itu dollar sudah termasuk tinggi. Jika dihitung dengan rupiah, perusahaannya menjual genset merek perkins sesuai harga pasar mencapai Rp. 1,038 miliar. Bahkan, di distributor lain, harga pasar atau harga umum bisa lebih tinggi. "Kalau tidak salah jika kita rupiahkan sebesar itu lah, karena harganya mengikuti dollar," jelasnya.

Mengenai Anton yang menjadi tenaga ahli kata Eko, merupakan direktur PT. Multi Sukses yang dalam keadaan tertentu dapat merangkap sebagai tekhnisi. "Di perusahaan kami semua turun, termasuk direktur karena memiliki sertipilasi keahlian, semua boleh turun," tukasnya.

Menurut Eko, mengenai genset merek perkins yang dibeli Endi sesuai invoicenya dijual seharga 760 juta, sedangkan harga pasar yang umum genset merek Perkins 500 KVA dijual seharga Rp. 1.038 miliar, penurunan tersebut karena perusahaannya memberikan konpensasi berupa discount khusus. Pemberian discount tersebut dikarenakan Endi merupakan langganannya yang sudah dikenalnya cukup lama.

"Ada negosiasi pertemanan, akhirnya kita berikan diskon sebesar 20 %, dan diskon itu diluar pajak, jadi pajak pa Endi yang tanggung," jelasnya.

Usai sidang, Dadang Handayani, pengacara Endi Suhendi menyampaikan, kasus pengadaan genset yang sedang berlangsung tersebut, terlihat Jaksa  memaksakan harus ada yang ditersangkakan dan duduk menjadi terdakwa. "Kita bicara Kan fakta persidangan ya, semua sudah terungkap, siapa yang melakukan dan siapa yang berbuat, fakta hukumnya tidak seperti dengan apa yang didakwakan oleh penuntut," katanya.

Dikatakan Dadang, mengenai spek yang tertuang dalam kontrak, tadi sudah dijelaskan oleh saksi bahwa spek tersebut hanya ada di genset merek perkins. "Artinya apa, kan tidak tertuju kepada satu produk saja,karena spek tersebut tidak ada di genset merek lain," tukasnya.

Lebih lanjut Dadang mengatakan, dalam kasus ini, seperti yang didakwakan jaksa bahwa pembelian genset kemahalan, dan sekarang dapat dilihat dalam fakta persidangan bahwa harga genset dipasaran baik menurut saksi Eko maupun saksi Sahyono, yang kedua-duanya dari distributor genset di perusahaan yang berbeda dalam kesaksiannya  menyatakan harga genset sesuai harga pasar lebih dari 1 miliar.

"Dengan asumsi harga pasar jika harga tersebut ditambakan dengan ppn dan pph artinya pembelian itu sudah wajar, kemahalan apanya, kalau diskon kan hak negosisasi," tandasnya.

Dalam kasus ini tegas Dadang, hanya membicarakan persepsi saja. Artinya, bicara pengadilan Tipikor, tentu harus ada yang di korupsi, ada kerugian keuangan negara, sedangkan dalam pengadaan genset di RSUD Banten tidak ada lagi kerugian keuangan negara yang disebabkan dari pengadaan tersebut.

"Pada akhirnya kan kita hanya ngomongin persepsi, dimana kerugian keuangan negaranya, hasil audit inspektorat sudah dikembalikan ke kas daerah, lalu apalagi yang dimaling," tandasnya. (Azmi)

LAINNYA

KOMENTAR DISQUS :

Top