Indonesia English
Selasa, 04 Oktober 2022 |
Pendidikan

Sang Raja Tanpa Mahkota

Selasa, 05 Mei 2015 16:28:07 wib - Komentar
Sugiyanto.

TJOKROAMINOTO- atau yang dijuluki Sang Raja tanpa mahkota begitulah kaum Kompeni Belanda menyebutnya, lihai cerdas, dan bersemangat. Ditakuti dan juga disegani lawan – lawan politiknya, perjuangnya dalam membela hak kaum pribumi saat itu benar-benar menempatkan dirinya menjadi seoarang tokoh yang benar-benar dihormati pada saat itu. Dialah guru bangsa H.O.S Tjokroaminoto.

Terlahir dari keluarga bangsawan tak membuatnya bersikap angkuh, justru karena itulah ia akhirnya menjadi sebuah motor penggerak kemerdekaan bagi Indonesia disaat semua manusia tertidur dalam belaian kompeni Belanda. Judul film Guru Bangsa: HOS Tjokroaminoto, garapan Garin Nugroho, Saya mencoba mereseni bagaimana alur cerita dalam film tersebut.

Pada periode awal sekitar tahun 1906-1907, film mulai menceritakan kisah-kisah yang lebih kompleks secara psikologis ataupun hal-hal yang lebih subtil lainnya menyangkut persoalan internal karakter hingga perlahan-lahan kebutuhan durasi film yang lebih panjang menjadi sesuatu yang sangat dibutuhkan. Selain itu permintaan dari masyarakat borjuis dan strata sosial menengah ke atas agar film menjadi sesuatu yang berkelas, mengharuskan film untuk segera bersinggungan dengan teater dan sastra. Tidak lagi hanya sekedar mengandalkan kemampuan dari kamera dalam merekam gerak atas aktivitas keseharian masyarakat, lalu berbagai aktivitas tersebut diproyeksikan ke layar dan memukau orang pada akhir abad ke-19.

Syahdan, pencarian tokoh Tjokroaminoto yang harus ditebus berulang kali masuk penjara tema panjang yang melahirkan banyak inspirasi. Reza Rahadian pemeran Tjokroaminoto. Reza  layak mendapat predikat aktor kelas atas, ia tampak menguasai peran yang dimainkannya. Pada film Bapa Bangsa Tjokroaminto tergambar jelas bagaimana peran media begitu kuat dalam mengaktualisasikan perjuangan HOS Tjokroaminto.

Reza Rahadian dapat menemukan cara bertutur yang khas dari medium film dan properti (mise en scene, sinematografi, editing, suara) yang terkandung di dalamnya itulah, maka sebuah konsep yang disebut dengan bahasa film menjadi muncul. Masalahnya kemudian adalah pada saat kita membicarakan persoalan sejarah film secara umum, atau lebih spesifik lagi masalah evolusi bahasa film maka dominasi wacana barat akan segera muncul. Dimana saat berbicara tentang evolusi dari bahasa film di atas, maka kita akan berbicara tentang bahasa film dalam sinema klasik, modern dan pasca-modern (seperti Dominique Paini, Fabrice Revault D’Allonnes, dll). Yang ketiganya lahir berdasarkan konteks spasial dan temporal persoalan historis, politik, sosial dan budaya dari masyarakat barat.

Dalam film guru Bangsa garapan Garin, tampak bagaimana kuatnya peran media begitu besar dapat mempengaruhi opini jutaan rakyat pada saat itu. Dalam bahasa ekstrimnya, media telah menjadi alat pemersatu bagi sebuah pergerakan. Garin Nugroho dengan apik telah secara detail menceritakan perjalanan Tjokro di era 1980-an dengan berani menampilkan pemain yang tidak mudah dapat menghayati isi dari kisah tersebut.

Bersama Suharsikin istri tercintanya (yang diperankan Putri Ayudya),  ia mendirikan rumah kost di rumahnya di Surabaya, rumah inilah Cokro menyalurkan ilmunya dalam agama, politik dan berorasi yang akhirnya menjadi cikal bakal pembentukan tokoh – tokoh penting di Indonesia. R. A. Suharsikin adalah cermin wanita yang selalu memberikan bantuan moril, selalu menjadi kebiasaannya, jika suaminya bepergian untuk kepentingan perjuangannya, istri yang sederhana dan prihatin ini mengiringi suaminya dengan sholat tahajud, dengan puasa, dan do’a.

Film yang berdurasi 120 menit memang layak untuk ditonton, dan ketika Suharsikin  harus bekerja pada kompeni Belanda, kemudian karena terusik, lalu lalu ia melakukan perlawanan. Masalah datang kembali ketika mertuanya (Sudjiwo Tedjo dan Maia Estianty, memilih jalan untuk hijrah, kata kunci yang terlukis di dinding penjara kalisolok-Surabaya menjadi nafas film ini.

Tjokroaminoto dikenal sebagai orang yang berkarakter radikal yang selalu menentang kebiasaan-kebiasaan yang memalukan bagi rakyat banyak. Pada saat itu Tjokroaminoto telah dikenal sebagai seorang yang sederajat dengan pihak manapun juga, apakah ia seorang belanda ataupun dengan seorang pejabat pemerintah. dan Tjokroaminoto berkeinginan sekali untuk melihat sikap ini juga dimiliki oleh kawan sebangsanya terutama di dalam berhubungan dengan orang-orang asing. Dari sekian banyak orang menyebut dia sebagai seorang Gatotkoco Sarekat Islam. Tjokro muda adalah tokoh politik yang berhasil menggabungkan retorika politik melawan penjajah Belanda dengan ideology Islam, dan mampu mengenyahkan penjajah dari bumi nusantara.

Dari beberapa catatan, ada hal unik dan menggelikan saat hampir semua penonton tertawa terbahak manakala melihat seorang rakyat kecil penjual bangku, dengan pede-nya mengenakan beskap dan kain batik, lengkap dengan dasi kupu-kupu, nah mungkin disini dari sisi lucunya. Yang kita tahu, ala dandanan ini seperti itu biasanya khusus dipergunakan oleh para priyayi saja, itu lah cirri dari cerita kebebasan di zaman itu.

. Kendati sinergi film dengan teater dan sastra merupakan sesuatu yang kerap menjadi sumber kreatifitas berlimpah, namun berbagai kendala seperti keunikan dari setiap medium terkadang muncul menjadi persoalan. Sebab saat awal munculnya persinggungan antara ketiga medium tersebut di atas, film masih berada dalam sebuah periode yang dikenal dengan periode film bisu (sekitar 1895-1927) dan masih terus mengembangkan berbagai keunikannya dalam menuturkan kisah-kisah.

Bagi saya yang tidak mengetahui film, Garin begitu sempurna menyajkan detil jadoel dengan berbagai macam pernak-perniknya, termasuk peran Chelsea Islan sebagai gadis indo yang cantik jelita. Gadis turunan dari Ayah belanda dan ibunya nyai jawa atau wanita simpanan, menghadapai dilemma yang tak terpecahkan. Penjual koran inipun hidup dalam kebimbangan tak mampu menghadapi tekanan politik akibat status sebagai seorang kafir dari ibu seorang pelacur.

Sebagai medium, sastra sangat bergantung pada verbal dan teater sangat tergantung dengan dialog selain kekuatan dari plotnya. Sementara film sebagai sebuah medium baru saat itu, menjadi sangat terpengaruh dengan medium lain untuk menceritakan berbagai kisah sambil berusaha untuk terus mencari karakteristiknya yang khas dalam bercerita dan berekspresi. Dalam garapannya, Garin lebih mengangkat Tjokroaminoto dari sisi kemanusian. Film ini telah memberikan gambaran, bahwa bangsa ini wajib memahami sejarah, menghormati dan meneladani jara para pahlawan yang telah berjuang demi lahirnya kemerdekaan.

Banyak orang yang mendefinisikan opini dengan sangat bebas. Segala prasangka, sentimen, tuduhan, dan segala jenis omongan yang tanpa dasar seringkali disebut sebagai sebuah opini. Sebuah kepercayaan yang bukan berdasarkan pada keyakinan yang mutlak atau pengetahuan sahih, namun pada sesuatu yang nampaknya benar, valid atau mungkin yang ada dalam pikiran seseorang; apa yang dipikirkan seseorang dan penilaian.

Menyaksikan tayangan film guru besar HOS Tjokroaminoto, hampir tidak terlihat sisi kekuarangann, tapi sebagai bahan koreksi saya tidak melihat peran SM Kartosuwiryo dan Tan Malaka murid sang guru Bangsa. Prestasi perdana Tjokroaminoto adalah ketika ia sukses menyelenggarakan vergadering Sarekat Islam pertama pada 13 Januari 1913 di Surabaya. Rapat besar itu dihadiri 15 cabang SI, tiga belas di antaranya mewakili 80.000 orang anggota. Kongres resmi perdana SI sendiri baru terlaksana pada 25 Maret 1913 di Surakarta di mana Tjokroaminoto terpilih menjadi wakil ketua CSI mendampingi Hadji Samanhoedi. Dalam posisi wakil ketua inilah Tjokro mulai menanamkan pengaruhnya. Kisah perjuangan HOS Tjokroaminoto layak untuk ditonton. Meski Tjokro harus kehilangan istri tercintanya saat berorasi namun semangatnya tidak pernah pudar, hingga pada akhirnya H.O.S. Cokroaminoto meninggal di Yogyakarta pada 17 Desember 1934 pada usia 52 tahun, inilah opininya. (*) Oleh : Sugiyanto.

 

 

KOMENTAR DISQUS :

Top