Indonesia English
Kamis, 21 Maret 2019 |
Nasional - Politik

Sebut Blitar Kelahiran Soekarno, Jokowi Dihujat

Kamis, 04 Juni 2015 22:47:26 wib - Komentar
Joko Widodo

Jakarta, (Banten88.com)- Reaksi mengenai pidato Presiden Joko Widodo yang menyatakan kelahiran Presiden RI pertama, Soekarno di Blitar, mendapat respon beragam. Sejumlah anggota parlemen menilai Jokawi tidak mengetahui sejarah, dan meminta pembuat naskah pidato Jokowi dipecat.

Kecaman itu muncul dari anggota DPR dari Fraksi Partai Amanat Nasional, Hafisz Thohir, dia meminta Presiden Joko Widodo segera melakukan perombakan terhadap para pembantunya di lingkaran Istana Kepresidenan. Kritikan itu disampaikan Hafisz menanggapi pidato Jokowi yang menyebut proklamator Soekarno lahir di Blitar.

"Bung Karno itu lahir di Kota Surabaya. Mungkin dia slip tongue, jadi keseleo lidah" ujar  Hafisz di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (4/6).

Dikatakan Hafisz, masalah ini harus segera diklarifikasi ke publik untuk tidak mempersepsikan yang tidak-tidak terhadap Jokowi. Pihak Istana harus menjelaskan bagaimana kesalahan penyebutan itu bisa terjadi, apakah karena kesalahan penulisan teks pidato atau kesalahan pengucapan oleh Jokowi pada saat berpidato.

"Dalam sejarah tata negara, yang pasti Presiden tidak boleh dan tidak pernah salah. Kalaupun Presiden salah, yang patut disalahkan adalah staf ahli Presiden dan Sesneg. Inilah kelemahan tim Jokowi, maka harus ada reshuffle yang mendasar di kabinetnya," katanya.

Ketika memperingati hari Pancasila di Blitar, Senin (1/6/) lalu, dalam pidatonya Jokowi menyampaikan banyak hal, termasuk kekagumannya kepada Bung Karno dan menyampaikan di Blitar ini Bung Karno dilahirkan. Usai pidatonya, sontak ramai dibicarakan di media sosial mengenai isi pidato Jokowi yang menyebut Blitar sebagai kota kelahiran Bung Karno.

"Setiap kali saya berada di Blitar, kota kelahiran proklamator kita, bapak bangsa kita, penggali Pancasila, Bung Karno, hati saya selalu bergetar," kata Jokowi dalam pidatonya, setelah menyapa para hadirin.

Bukan hanya anggota DPR asal PAN, anggota DPR dari Fraksi PDI Perjuangan, Effendi Simbolon juga mengkritisi hal yang sama. Dia meminta Presiden Joko Widodo segera meminta maaf kepada publik soal kesalahan penyebutan tempat lahir Soekarno dalam pidatonya."Sebagai Prsiden Jokowi harus minta maaf. Bayangkan, bagaimana kita mau ikuti presiden kalau presidennya saja salah," kata Effendi di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.

Dikatakan Effendi, Jokowi diminta untuk menjelaskan bagaimana kesalahan itu terjadi. Jika karena keseleo lidah, tentu saja dapat dimaklumi, namun jika kesalahan itu terjadi karena dalam penulisan naskah pidato, dia menganggap kesalahan itu fatal dan sangat membahayakan kredibilitas Presiden Jokowi.

"Dan yang lebih fatal lagi ketika dibacakan oleh Presiden tanpa ada koreksi. Artinya, Presiden juga tidak tahu kalau itu salah, Presiden tidak tahu tempat kelahiran Bung Karno, wah itu parah kalau begitu," kata anggota Komisi I DPR ini.

Sebagai partai pengusung utama Presiden Jokowi, tentu saja Effendi sangat  menyayangkan kejadian itu karena Jokowi didukung oleh PDI Perjuangan, partai yang dekat dengan sosok Bung Karno. Seharusnya, semua kader PDI-P mengerti luar dalam mengenai sosok proklamator itu."Nah loh jangan-jangan dia juga enggak tahu Nawa Cita itu apa," tuksnya. (Dang)

 

 

KOMENTAR DISQUS :

Top